Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, April 9, 2009 | 7:51 AM


Sebuah Catatan dari Pinggir Dusun itu

Melihat keberhasilan CLTS ini, program ini kemudian diadopsi oleh World Bank dan Gate Foundation dengan meluncurkan program Total Sanitation and Sanitation Marketing atau SToPS (Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi) di Jawa Timur sebagai pilot project.

Namun program ini agaknya terlalu cepat berlari dengan mengusung konsep marketing dan merengkuh berbagai indikator sanitasi total, sehingga terkesan kurang membumi, padahal di bumi realitas masih disibukkan dengan ingar bingar pertempuran melawan rezim open defication.

Mungkin tujuan praktisnya, dengan sekali dayung (ODF), sekian implikasi kejadian ikutan akan tersibak (CTPS,SPAL,etc).Padahal sang perahu sebetulnya (kayaknya sih .. ) tetep susah payah untuk melampaui terjal pulau tinja untuk menuju ODF Declair, dan implikasi lain yang diharapkan tetep nguntit terlalu jauh di belakang …

Namun dengan segala catatan diatas, CLTS dan SToPS memang sebuah gagasan yang amat menyegarkan ditengah stagnasi panjang kegiatan sanitasi di Indonesia. Hal ini kemudian menjadi alasan yang sangat masuk akal, sehingga konsep ini disambut suka cita oleh Depkes, sehingga lahirlah STBM. Dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 telah ditetapkan Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Tujuan Program Sanitasi Total adalah menciptakan suatu kondisi masyarakat (pada suatu wilayah) :
1. Mempunyai akses dan menggunakan jamban sehat
2. Mencuci tangan pakai sabun dan benar saat sebelum makan, setelah BAB, sebelum memegang bayi, setelah menceboki anak dan sebelum menyiapkan makanan
3. Mengelola dan menyimpan air minum dan makanan yang aman
4. Mengelola limbah rumah tangga (cair dan padat).
Secara eksplisit telah disebutkan secara jelas dalam keputusan tersebut bahwa tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar di sembarang tempat. Dan agaknya step inilah yang seharusnya dijadikan sebagai fokus awal gerakan sanitasi total (baca ODF), baru kemudian fokus ke yang lain ….
SetBack STBM ............
Sanitasi merupakan salah satu tantangan yang paling utama bagi negara negara berkembang. Karena menurut WHO, penyakit diare membunuh satu anak di dunia ini setiap 15 detik, karena access pada sanitasi masih terlalu rendah. Hal ini menimbulkan masalah kesehatan lingkungan yang besar, serta merugikan pertumbuhan ekonomi dan potensi sumber daya manusia pada skala nasional .
Terdapat beberapa data yang mendukung, antara lain :
1. Terdapat 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka (Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006)
2. Berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam mencuci tangan adalah (1) setelah buang air besar 12%, (2) setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%, (3) sebelum makan 14%, (4) sebelum memberi makan bayi 7%, dan (5) sebelum menyiapkan makanan 6 %.
3. Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20 % merebus air untuk mendapatkan air minum, namun 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli.

Kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Hal ini dibuktikan melalui hasil studi WHO tahun 2007, yaitu kejadian diare menurun 32% dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun, 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga. Sedangkan dengan mengintegrasikan ketiga perilaku intervensi tersebut, kejadian diare menurun sebesar 94%. 

Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang higiene dan sanitasi dengan menetapkan Open Defecation Free (ODF) dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2009 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses. 

Kondisi di Indonesia secara umum program sanitasi pada awalnya juga mengalami stagnasi hasil. Hal ini antara lain dapat dilihat, berdasarkan hasil kegiatan berbagai program sanitasi, baik dalam bentuk subsidi maupun kegiatan rutin lainnya cakupan sanitasi masih rendah (65%), - berdasarkan pada jumlah jamban yang terbangun. Keadaan ini disebabkan antara lain karena pembangunan masih berorientasi pada target fisik serta belum berorientasi pada perubahan perilaku di masyaarakat.

Menyadari hal tersebut di atas, pemerintah telah melaksanakan beberapa kegiatan, antara lain melakukan uji coba implementasi Community Led Total Sanitation (CLTS) di 6 Kabupaten pada tahun 2005, termasuk di Kabupaten Lumajang. Program ini dilanjutkan dengan pencanangan gerakan sanitasi total oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2006 di Sumatera Barat serta pencanangan kampanye cuci tangan secara nasional oleh Menko Kesra bersama Mendiknas dan Meneg Pemberdayaan Perempuan tahun 2007.

Program Community Led Total Sanitation (CLTS) merupakan cikal bakal gerakan Sanitasi total yang dipimpin oleh masyarakat, yang juga merupakan suatu proses untuk menyemangati serta memberdayakan masyarakat untuk :
  1. Menghentikan BAB di tempat terbuka
  2. Membangun serta menggunakan jamban
  3. Masyarakat menganalisa profil sanitasinya (Masing-masing luasnya BAB di tempat terbuka serta penyebaran kontaminasi kotoran yang terjadi, serta perilaku yang berperan penting).
Dalam pelaksanaannya terdapat prinsip –prinsip dalam pemicuan CLTS seperti tanpa subsidi kepada masyarakat, tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban, masyarakat sebagai pemimpin, serta prinsip totalitas (seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan, perencanaan, pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan).

0 comments:

 
berita unik