Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Karakteristik dan Dekomposisi Tinja

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, June 30, 2015 | 12:29 AM

Tinja - Karakteristik dan Proses Dekomposisinya 
Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui anus sebagai sisa dari proses pencernaan makanan di sepanjang sistem saluran pencernaan (tractus digestifus). Pengertian tinja ini juga mencakup seluruh bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia termasuk karbon monoksida (CO2) yang dikeluarkan sebagai sisa dari proses pernafasan, keringat, lendir dari ekskresi kelenjar, dan sebagainya (Soeparman, 2002:11). Ekskreta manusia (human excreta) yang berupa feses dan air seni (urine) merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh (Chandra, 2007:124).
Dalam ilmu kesehatan lingkungan, dari berbagai jenis kotoran manusia, yang lebih dipentingkan adalah tinja (faeces) dan air seni (urine) karena kedua bahan buangan ini memiliki karakteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab timbulnya berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Azwar, 1995).

Karakteristik Tinja
Menurut Azwar (1995:74) seorang yang normal diperkirakan menghasilkan tinja rata-rata sehari sekitar 83 gram dan menghasilkan air seni sekitar 970 gram. Kedua jenis kotoran manusia ini sebagian besar berupa air, terdiri dari zat-zat organik (sekitar 20% untuk tinja dan 2,5% untuk air seni), serta zat-zat anorganik seperti nitrogen, asam fosfat, sulfur, dan sebagainya. Perkiraan komposisi tinja dapat dilihat pada tabel berikut (Soeparman, 2002):
 Jamban Tidak Sehat

Perkiraan Komposisi Tinja tanpa Air Seni
Komponen
Kandungan (%)
Air
Bahan organik (dari berat kering)
Nitrogen (dari berat kering)
Fosfor (sebagai P2O5) (dari berat kering)
Potasium (sebagai K2O) (dari berat kering)
Karbon (dari berat kering)
Kalsium (sebagai CaO) (dari berat kering)
C/N rasio (dari berat kering)
66-80
88-97
5,7-7,0
3,5-5,4
1,0-2,5
40-55
4-5
5-10

Kuantitas Tinja dan Air Seni
Tinja/Air Seni Gram/orang/hari
Berat Basah Berat Kering
Tinja
Air seni
135-270
1.000-1.300
35-70
50-70
Jumlah 1.135-1.570 85-140

Selain kandungan komponen-komponen di atas, pada setiap gram tinja juga mengandung berjuta-juta mikroorganisme yang pada umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan/ tidak menyebabkan penyakit. 
Namun tinja potensial mengandung mikroorganisme patogen, terutama apabila manusia yang menghasilkannya menderita penyakit saluran pencernaan makanan (enteric or intestinal disesases). Mikroorganisme tersebut dapat berupa bakteri, virus, protozoa, ataupun cacing-cacing parasit. Coliform bacteria yang dikenal sebagai Echerichia coli dan Fecal stretococci (enterococci) yang sering terdapat di saluran pencernaan manusia, dikeluarkan dari tubuh manusia dan hewan-hewan berdarah panas lainnya dalam jumlah besar rata-rata sekitar 50 juta per gram (Soeparman, 2002)).

Dekomposisi Tinja
Proses penguraian (decomposition) pada tinja secara alamiah akan berlangsung, sehingga akan berubah menjadi bahan yang stabil, tidak berbau, dan tidak mengganggu. Aktivitas utama dalam proses dekomposisi tersebut adalah (Soeparman, 2002) :
  1. Pemecahan senyawa organik kompleks, seperti protein dan urea, menjadi bahan yang lebih sederhana dan lebih stabil.
  2. Pengurangan volume dan massa (kadang-kadang sampai 80%) dari bahan yang mengalami dekomposisi, dengan hasil gas metan, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen yang dilepaskan ke atmosfer, bahan-bahan yang terlarut dalam keadaan tertentu meresap ke dalam tanah di bawahnya.
  3. Penghancuran organisme patogen yang dalam beberapa hal tidak mampu hidup dalam proses dekomposisi, atau diserang oleh banyak jasad renik di dalam massa yang tengah mengalami dekomposisi.
Bakteri memegang peranan penting dalam dekomposisi. Aktivitas bakteri dapat berlangsung dalam suasana aerobik atau anaerobik. Proses anaerobik tersebut misalnya terjadi pada kakus air (aqua privy), tangki pembusukan (septic tank), atau pada dasar lubang yang dalam. Atau dapat pula terjadi secara aerobik, seperti pada dekomposisi tertentu. Di samping itu, dekomposisi dapat terdiri lebih dari satu tahap, sebagian aerobik dan sebagian lagi anaerobik, tergantung pada kondisi fisik yang ada. Sebagai contoh, proses anaerobik berlangsung dalam septic tank, effuent cair meresap ke dalam tanah melalui saluran peresapan dan meninggalkan banyak bahan organik pada lapisan atas tanah. Bahan organik itu diuraikan secara aerobik oleh bakteri saprofit yang mampu menembus tanah sampai kedalaman 60 cm.
12:29 AM | 0 comments | Read More

Permenkes Pasar Sehat

Mewujudkan Pasar Tradisional yang Sehat

Bagi rekan Sanitarian, mungkin sudah membaca, atau mungkin sekedar mendengar, atau justru belum pernah mendengar sama sekali Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Amunisi yang relative baru ini dapat dijadikan pijakan untuk merevitalisasi semangat dan melakukan jihad inspeksi sanitasi Tempat-Tempat Umum (TTU). Sebagimana kita tahu, rumor diluar sana data kualitas TTU kita (aspek sanitasi), masuk katagori “data selingkuh” – karena validitas nya banyak dipertanyakan. Sebagian pertanyaan tersebut didasarkan pada korelasi kwantitas TTU yang sangat menggunung, dengan kualitasnya yang sangat aduhai masuk range memenuhi syarat.

Permasalahan jumlah TTU sejak dulu sebetulnya sudah disiasati, antara lain dengan menerapkan filter dan screening menggunakan parameter yang bernama “TTU Prioritas”, sehingga sasaran menjadi logis jika dibandingkan hasil. Jika itu dianggab sudah clear, baru kita masuk dan meng-otak-atik indicator “Prioritas” itu. Sebutlah diantaranya jumlah masyarakat pengguna, tingkat resiko penularan penyakit berbasis lingkungan yang ditimbulkannya bagi pengunjung maupun masyarakat sekitar, dan lain-lain – dan lain-lain.

Pasar menjadi sangat layak masuk dalam Kriteria PRIORITAS karena berbagai hal berikut (sesuai Lampiran Kepmenkes ini) :

  1. Di Indonesia terdapat sekitar 13.650 pasar tradisional dengan 12.6 juta pedagang beraktivitas di dalamnya (Kompas, 2 Maret 2005). Jika setiap pedagang memiliki empat anggota keluarga, maka lebih dari 50 juta orang atau hampir 25% dari populasi total Indonesia beraktifitas di pasar.
  2. Diperkirakan paling tidak 60% kebutuhan pangan bagi penduduk di daerah perkotaan disediakan oleh pasar tradisional (Pertemuan Nasional Kota Sehat, 2006).
  3. Pertumbuhan pasar tradisional sangat memprihatinkan. Tahun 1985 dilaporkan bahwa pasar tradisional di Jakarta berjumlah 151 (78%) sedangkan pasar modern hanya 42 pasar (22%). Tetapi pada Tahun 2005, pasar modern melonjak menjadi 449 pasar (75%) sedangkan pasar tradisonal tetap berjumlah 151 atau 25% dari total pasar (Pasar Jaya, 2006).
  4. Nampaknya masyarakat cenderung lebih menyukai pasar modern yang menjual pangan dengan pelayanan yang lebih baik, lebih bersih, aman dan nyaman. Pasar memiliki posisi yang sangat penting untuk menyediakan pangan yang aman; dan pasar tersebut dipengaruhi oleh keberadaan produsen hulu (penyedia bahan segar), pemasok, penjual, konsumen, manajer pasar, petugas yang berhubungan dengan kesehatan dan tokoh masyarakat.

Untuk kepentingan Inspeksi Sanitasi, yang terpenting mungkin FORMULIR INSPEKSI PASAR (Form I dan II) pada lampiran Keputusan ini, sehingga berdasar hasil rekapitulasi format ini kita dapat secara tepat melakukan Rekomendasi dan Intervensi. Rekan Sanitarian dapat DOWNLOAD Formulir Inspeksi Pasar DISINI. Sedangkan jika ingin membaca secara lengkap Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat, pada link DOWNLOAD ini.  Happy Working ….
12:28 AM | 0 comments | Read More

Pengamatan Kesehatan Lingkungan

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, June 24, 2015 | 11:14 PM

Upaya Dasar Kesehatan Lingkungan

Beberapa masalah surveilans antara lain mencakup masalah morbiditas, mortalitas, demografi, masalah gizi, Penyakit Menular, Penyakit Tidak menular, Pelayanan Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan beberapa faktor risiko individu, masyarakat dan lingkungan lainnya.

Menurut CDC (Centers for Disease Control) Amerika, pengertian surveilans kesehatan masyarakat adalah “The ongoing systematic Collection, analysis and interpretation of Health data essential to the planning, implementation, and evaluation of public health practice, closely integrated with the timely dissemination of these data to those who need to know. The final link of the surveillance chain is the application of these data to prevention and control.

Surveilans Epidemiologi adalah pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu (keadaan maupun penyebarannya) dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangannya.

Sedangkan kegiatan surveilans/ Pengamatan Kesehatan Lingkungan pada dasarnya mencakup pertanyaan bagaimana data kesehatan lingkungan yang sudah dikumpul, dianalisis, dan dilaporkan ke stakeholder atau pemegang kebijakan untuk ditindaklanjuti dalam pembuatan program intervensi yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia.

Upaya dasar kesehatan lingkungan yang sering dan penting dilakukan antara lain :
  1. Penyehatan Sumber Air Bersih (SAB) meliputi : Surveilans kualitas air, Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih, Pemeriksaan kualitas air, Pembinaan kelompok pemakai air.
  2. Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Pemeriksaan Rumah) pemantauan n terhadap sarana jamban keluarga (Jaga), saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat pengelolaan sampah (TPS)
  3. Penyehatan Tempat-tempat Umum (TTU) pemantauan terhadap hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan tempat hiburan lainnya. Dilakukan upaya pembinaan institusi Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan, dan perkantoran.
  4. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM) Pemantauan terhadap tempat penyehatan makanan dan minuman (Catering/jasaboga, Rumah makan/Restoran, warung,kantin, café, depot air minum, makanan jajanan, dsb ) kesiap-siagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan.
  5. Penyehatan Kawasan dan Sanitasi Darurat meliputi pembinaan tehnis terhadap stake holder / pengambil keputusan agar dapat menciptakan kawasan-kawasan yang sehat,sehingga menjadikan kabupaten/kota sehat, dan juga melakukan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana dan situasi-situasi darurat lainnya.


11:14 PM | 0 comments | Read More

APD Fogging

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, June 8, 2015 | 11:57 PM

Peralatan Perlindungan Diri pada Fogging

Berikut beberapa Peralatan Perlindungan Diri pada petugas/pelaksana pengendalian vektor  sesuai Permenkes 374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor.

Peralatan perlindungan diri yang harus digunakan oleh petugas/ pelaksana pengendalian vektor sesuai dengan jenis pekerjaannya harus mengacu pada kriteria klasifikasi pestisida berdasarkan bentuk fisik, jalan masuk kedalam tubuh dan daya racunnya, maka harus dipilih perlengkapan pelindung diri seperti tertera pada Tabel berikut:

Keterangan:
1 Sepatu boot, 2 Sepatu kanvas, 3 Baju terusan lengan panjang dan celana panjang (coverall), 4 Topi, 5 Sarung tangan, 6 Apron/celemek, 7 pelindung muka, dan 8 Masker.
+ = harus digunakan, - = tidak perlu, * = bila tidak menggunakan pelindung muka, ** : bila tidak memakai sepatu boot. (KEPMENKES RI,No. 1350/Menkes/SK/XII/2001, Tentang Pestisida, 11 Desember 2001)

Perlengkapan pelindung dikelompokkan menjadi 4 tingkat berdasarkan kemampuannya untuk melindungi penjamah dari pestisida, yaitu :
  1. Highly-Chemical Resistance: digunakan tidak lebih dari 8 jam kerja, dan harus dibersihkan dan dicuci setiap selesai bekerja.
  2. Moderate-Chemical Resistance: digunakan selama 1-2 jam kerja. dan harus dibersihkan atau diganti apabila waktu pemakaiannya habis.
  3. Slightly-Chemical Resistance: dipakai tidak lebih dari 10 menit.
  4. Non-Chemical Resistance: tidak dapat memberikan perlindungan terhadap pemaparan tidak dianjurkan untuk dipakai.
Baju terusan berlengan panjang dan celana panjang dengan kaos kaki dan sepatu dapat berupa seragam kerja biasa yang terbuat dari bahan katun apabila menggunakan pestisida klasifikasi II atau III. Apabila menggunakan pestisida klasifikasi 1.a dan 1.b maka dianjurkan memakai baju terusan yang dapat menutup seluruh badan dari pangkal lengan hingga pergelangan kaki dan leher, dengan sesedikit mungkin adanya bukaan, jahitan atau kantong yang dapat menahan pestisida. Baju terusan tersebut (coverall) dipakai diatas seragam kerja diatas dan pakaian dalam.

Kaca mata yang menutup bagian depan dan samping mata atau googles dianjurkan untuk menuang atau mencampur pestisida konsentrat atau pada kategori 1.a dan 1.b. Apabila ada kemungkinan untuk mengenai muka maka faceshield sangat dianjurkan untuk dipakai.

Perlu juga untuk menyediakan peralatan dan bahan untuk menanggulangi tumpahan/ceceran pestisida, antara lain : kain majun, pasir / serbuk gergaji, sekop dan kaleng/kantong plastik penampung.

Kotak P3K berisi obat-obatan, kartu emergency plan yang memuat daftar telepon penting, alamat dan nama yg di dapat dihubungi untuk meminta pertolongan dalam keadaan darurat / keracunan. Misalnya Pusat Keracunan (Poison center), ambulans, rumah sakit terdekat dengan lokasi kerja, polisi, pemadam kebakaran. Penyediaan pemadam kebakaran portable juga dianjurkan apabila bekerja dengan mesin semprot yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran.

Bahan Pengendalian Vektor
Bahan yang digunakan dalam upaya pengendalian vektor berupa insektisida, baik sasaran terhadap nyamuk vektor dewasa maupun terhadap larva/jentik nyamuk, sebagai berikut :
  1. Insektisida yang digunakan untuk penyemprotan residual dalam program pengendalian malaria adalah Bendiocarb 80 %, Lamdacyhalothrine 10 %, Etofenprox 20 %, Bifenthrine 10 %, Alfacypermethrine 5 % dan Deltamethrin 5 %
  2. Insektisida yang dicelupkan pada kelambu dan kelambu berinsektisida (LLINs = Long Lasting Insecticidal dan Permethrine) dalam program pengendalian malaria adalah Deltamethrine dan Permethrine
  3.  Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan larva/jentik nyamuk vektor malaria adalah Pyriproxyfen, S-Metoprene, Bacillus thuringiensis sub sp israelensis
  4. Insektisida yang digunakan untuk pengendalian vektor Demam
  5. Berdarah Dengue adalah Malathion, Metil pyrimifos, Cypermetrin, Alfacypermetrin
  6. Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan larva/jentik nyamuk vektor Demam Berdarah Dengue adalah Temephos, Pyriproxyfen, Bacillus thuringiensis sub sp israelensis.
11:57 PM | 0 comments | Read More

Sanitasi Susu

Beberapa Faktor yang Harus Diperhatikan Pada Pelaksanaan Sanitasi Susu

Jika dilingkungan kerja rekan-rekan Sanitarian terdapat koperasi atau usaha pemerahan susu atau pengolahan hasil ternak berupa susu, berikut kami tuliskan beberapa informasi terkait susu dan sanitasi susu. Informasi ini hanya sebagian kecil saja, sehingga untuk memperdalam hal-hal terkait susu dan hasil olahannya serta teknik sanitasi yang terkait dengannnya perlu didukung dengan literatur yang lebih lengkap.

Untuk mengingatkan rekan-rekan Sanitarian, ada baiknya kita tuliskan kembali definisi sanitasi dan hygiene terkait susu ini dan pangan ini. Sebagaimana kita ketahui pengertian Hygiene merupakan upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan subyeknya. Misal : mencuci tangan dg air yg bersih dan memakai sabun.Hygiene adalah ilmu yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Sedangkan Food Hygiene merupakan usaha untuk memelihara keutuhan produk  pangan dari preparasi- konsumsi, Mencegah food poisoning, dan Mencegah food spoilage (Galea & Morgan,2000)

Definisi higiene pangan menurut Codex Alimentarius Commission (CAC): Semua kondisi dan tindakan yang diperlukan untuk menjamin keamanan dan kelayakan makanan pada semua tahap dalam rantai makanan. Higiene daging adalah semua kondisi & tindakan untuk menjamin keamanan dan kelayakan daging pada semua tahap dalam rantai makanan.

Pengertian keamanan pangan (food safety) & Kelayakan pangan (food suitability) merupakan jaminan agar makanan tidak membahayakan konsumen pada saat disiapkan dan /atau dimakan menurut penggunaannya Kelayakan pangan:Jaminan agar makanan dapat diterima untuk konsumsi manusia menurut penggunaannya

Pengertian Sanitasi pada dasarnya merupakan Usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut.Sedangkan Sanitasi makanan merupakan penerapan atau pemeliharaan kondisi yang mampu mencegah terjadinya pencemaran (kontaminasi) makanan atau terjadinya penyakit yang disebabkan oleh makanan (foodborne illness atau foodborne disease).

Pengertian Sanitasi menurut Depkes, adalah upaya kesehatan  dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari subyeknya, misal : menyediakan air yang bersih untuk mencuci tangan.

Kembali kepada masalah sanitasi susu, sebelum memahami sanitasi susu kita harus mengetahui beberapa informasi dasar mengenai karakteristik susu ini. 
Berikut beberapa pengertian yang berhungungan dengannya.
  • Definisi Susu adalah Cairan   yang keluar dari kelenjar susu, bebas kolostrum, dgn pemerahan sempurna dari ternak sehat (Lampert, 1975)
  • Susu segar atau  Susu murni adalah cairan dari ambing sehat dan bersih, diperoleh dng cara pemerahan yg benar, kandungan alaminya tdk dikurangi/ditambah sesuatu & blm mendpt perlakuan apapun dan kecepatan Proses pendinginan (SNI, 1998)
  • Warna susu sehat seharusnya Putih kebiruan- kuning kecoklatan. Sedangkan pH normal susu segar seharusnya 6.6-6.8
  • Suhu susu yang baru diperah (baru keluar dari ambing) menunjukkan suhu sekitar 37°C
  • Titik beku berkisar – 0,520 sampai – 0,560 oC.
  • Konstituen yang ada dalam larutan susu yang menyebabkan  titik didihnya  > 100oC.
  • Titik didih susu sapi berkisar 100,17 oC, sedangkan susu kerbau 100,55oC.
  • BJ susu atau kepadatan (densitas) susu dengan kandungan lemak 3-5% berkisar 1,032 g/cm3 atau dalam 1 liter susu densitasnya adalah 1,032 kg.
  • Gravitas spesifik  (Specific gravity) atau berat jenis susu = rasio kepadatan susu dengan air pada suhu yang sama.  Besarnya berat jenis susu berkisar 1,030-1,035 dengan rerata 1,0320,Berat jenis lemak susu adalah 0,93, SNF 1,614, dan susu skim 1,036
  • Komposisi kimia susu antara lain terdiri dari air 987,3), Karbohidrat (4,6%), Protein (3,3%), Lemak (3,9%), Mineral (0,9%).

Faktor yg mempengaruhi komposisi kimia susu antara lain Breed, Waktu milking, Musim, Umur, Pakan, Penyakit/kesehatan

Iklim
  • Iklim atau cuaca  mempunyai pengaruh kecil terhadap komposisi susu, kecuali jika kondisinya ekstrim.
  • Pada temperatur ruangan yang tinggi (>30oC), cenderung tinggi lemak, rendah N dan laktosa,
  • Di bawah  temperature beku, lemak dan N cenderung menjadi lebih tinggi
Musim
  • Persen lemak susu dan solid-non-fat (padatan bukan lemak) lebih tinggi pada musim dingin dan terendah pada musim panas.
  • Persentase lemak dan protein susu lebih rendah 0,2-0,4% pada musim panas  daripada musim dingin.
  • Sapi sapi yang melahirkan pada musim gugur atau musim dingin menghasilkan lebih banyak lemak dan solid-non-fat dibandingkan  sapi sapi di musim semi dan musim panas.
Penyakit mastitis
  • Mastitis berpengaruh besar terhadap  komposisi susu.
  • Menurunkan lemak, SNF, laktosa, kasein,  b-laktoglobulin, dan  a-laktalbumin,
  • Meningkatkan konsentrasi  albumin serum darah, imunoglobulin (Ig), sodium, dan klorida.
  • Mastitis yang parah, kasein di bawah batas normal 78% dari total protein dan Cl dapat naik di atas level maksimum normal 0,12.
  • Jumlah sel somatik / somatic cell count (SCC) juga meningkat
Umur
  • Mencapai usia  8 - 9 tahun, mulai terjadi penurunan level produksi susu.
  • Pada laktasi ke-5, selain meningkatkan produksi susu, terdapat  sedikit penurunan SNF dan persentase  lemak.
  • Umur semakin tua maka lemak dan protein semakin berkurang
  • Lemak susu turun sekitar 0,2% setiap tahun dari laktasi pertama sampai kelima, yang  kemungkinan sebagai hasil dari produksi yang  lebih tinggi dan infeksi ambing.
Beberapa mikro organisme terdapat dalam susu, sebagian berbahaya bagi kesehatan seperti spoilage, sementara sebagian lainnya menguntungkan seperti untuk proses pembuatan keju dan yoghurt dan proses fermentasi susu.

Kualitas susu sangat ditentukan pada kondisi dairy farm. Sedangkan untuk meningkatkan sanitasi susu beberapa hal harus diperhatiakn, antara lain :
  1. Bagi petugas Pemerah diharapkan untuk menjaga kualitas susu; Melindungi ambing dari infeksi; bertanggung jawab pada washing; sanitasi penanganan susu, cooling, storage (menangani alat-alat dan khemikalia yg mempengaruhi kualitas susu); serta Deteksi mastitis
  2. Pekerja  yang menangani bedding dan perkandangan
  3. Pekerja yang menangani mastitis
11:52 PM | 0 comments | Read More

Alat Pengendali Vektor

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, June 2, 2015 | 9:32 PM

Peralatan Pengendalian Vektor, Peralatan Fogging


Masih semangat upload soal vektor dan penyakit menular. Walaupun trend angka kesakitan dan kematian penyakit tidak menular (PTM) telah melampauai penyakit menular, namun penularan penyakit melalu perantara vektor masih sangat penting dikelola.

Berikut beberapa peralatan untuk pengendalian vektor khususnya nyamuk menurut Permenkes 374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor.


1).    Spray – can (Alat semprot bertekanan yang dioperasikan dengan tangan (Compression Sprayer).

Alat semprot ini terutama digunakan untuk penyemprotan residual pada permukaan dinding dengan Pestisida, terdiri dari tangki formulasi yang berbentuk silinder dilengkapi dengan pompa yang dioperasikan dengan tangan dengan 2 (dua) pegangan pada ujung batang pompa (bila dikehendaki), komponen pengaman tekanan, selang yang tersambung di bagian atas batang pengisap, trigger valve dengan pengunci, tangkai semprotan, pengatur keluaran dan nozzle dan komponen tambahan lainnya yang dinyatakan oleh produsen.

Alat semprot harus mempunyai tempat meletakkan tangkai semprot ketika tidak digunakan, tidak ada bagian yang tajam sehingga dapat melukai operator dan tidak terdapat komponen yang terbuat dari kayu. Jenis bahan termasuk penutup lubang pengisian harus dinyatakan secara jelas dan harus tahan terhadap korosi, tekanan dan sinar ultra violet. Tidak boleh terjadi kerusakan, kebocoran pada (las) sambungan atau keretakan ketika dilakukan uji daya tahan ( Fatique test). Tidak boleh ada kandungan timbale atau seng pada bahan penyolder kecuali pada sambungan, tangkai semprotan, trigger valve, badan nozzle dan pipa pengisap.Dalam keadaan terisi penuh pada pengoperasian normal,beratnya harus dinyatakan dan tidak boleh melebihi 25 Kg.

Tangki formulasi alat semprot ini dengan volume untuk operasional secara normal dinyatakan, diameter lubang pengisian tidak kurang dari 90 mm dan klep tekanan/ klep pembuang tekanan harus terletak di bagian atas alat semprot dan mampu membuang habis tekanan sebelum tangki dibuka dan ketika beroperasi harus mampu menahan tekanan agar alat semprot dapat bekerja normal. Klep tekanan keamanan (Safety Pressure Valve) maksimum mampu menahan +/- 10 persen dari tekanan kerja maksimum dan harus mampu menahan tekanan agar alat semprot dapat bekerja normal.Tali sandang dan gesper, minimal lebarnya 50 mm dan panjang yang dapat diatur dengan minmal 100 cm. Tali sandang dan pengencangnya harus mampu bertahan pada uji jatuh (drop test).

Pompa dengan tangki yang berisi penuh sesuai kapasitas dan semua komponen terpasang, harus mampu mencapai tekanan kerja maksimum dengan pemompaan tidak melebihi ke 60
Klep udara pompa harus mampu menahan cairan agar tidak masuk ke dalam silender pompa ketika tekanan pompa pada tekanan kerja maksimum dan tangkai pompa berada posisi terdorong penuh ke dalam. Ukuran penyaring (filter) yang apabila filter tidak tersedia pada nozzle yang lubangnya antara 0,3 mm – 0,5 mm, maka filter pada trigger valve harus lebih kecil dari lubang pada nozzle terpasang dan tidak lebih besar dari 50 mesh. Alat semprot setidaknya dilengkapi dengan 1 atau 2 penyaring dengan ukuran mesh yang dapat mencegah terjadinya penyumbatan. Salah satu penyaring terletak persis di belakang nozzle.Panjang selang dinyatakan dan tidak kurang dari 1500 mm terbuat dari bahan yang memenuhi syarat.

Tuas buka / tutup aliran (Trigger valve). Tipe dari trigger valve dinyatakan dan harus tidak terjadi kebocoran ketika dilakukan pengujian sesuai B.1.9.2. Lebar penuas tidak kurang dari 100 mm diukur mulai dari titik gerak dengan pemasangan maksimum 1,5 newton. Komponen pengatur keluaran harus terpasang dan tipenya harus dinyatakan. Komponen pengatur keluaran harus mampu keseragaman pengeluaran dengan deviasi +/- 5%. Tipe nozzle dan jumlah keluaran (flow rate) harus dinyatakan dan sesuai dengan standard internasional.

Tekanan kerja maksimum dinyatakan. Tangki harus mampu menahan tekanan dari dalam yang besarnya 2 (dua) kali besarnya tekanan kerja dan memenuhi syarat pada B.1.15. dan setelah perlakuan uji jatuh sesuai B.1.17.1. Uji jatuh dilakukan tanpa dan dengan tekanan kerja yang dianjurkan pada posisi horizontal, vertical dan miring 45 derajat setelah pengujian tersebut alat semprot tidak boleh mengalami kebocoran pada keadaan tanpa tekanan.

2. Mist Blower Bermotor (Model Gendong)

Alat yang digunakan untuk menyemprotkan pestisida sampai rumah atau area lain yang sulit atau tidak bias dicapai dengan alat semprot bertekanan yang dioperasikan dengan tangan untuk tujuan residual. Berupa alat semprot yang dilengkapi dengan mesin penggerak yang memutar kipas agar menghasilkan hembusan udara yang kuat kearah cairan formulasi Pestisida di masukkan secara terukur. Mesin penggerak dilengkapi dengan sistem untuk menghidupkan / mematikan mesin.

Tangki bahan bakar terletak dibawah mesin penggerak. Semua bagian yang bergerak atau knalpot terlindung agar tidak menimbulkan cidera pada operator. Semua tombol / tuas mudah terlihat oleh operator. Mesin penggerak/fan dipasang pada sebuah rangka sehingga nyaman untuk digendong belakang oleh operator. Penyangga punggung yang tidak menyerap cairan terpasang. Engine mounting pada frame dapat menyerap getaran mesin. Komponen yang terpasang tidak tajam dan kekuatan semburan tidak dapat mencederai operator pada pengoperasian normal. Semua tombol / tuas pengatur terpasang secara permanen dan ditandai.

Beratnya tidak lebih dari 25 Kg pada pengoperasian normal dengan semua tangki terisi penuh. Lubang pengisian tangki dinyatakan ukurannya dan tidak melebihi diameter 90 mm dan dilengkapi penutup yang membuat kedap udara.

Filter harus sedemikian rupa bentuknya dan cukup dalam masuk ke dalam tangki agar waktu pengisian tangki tidak lebih dari 60 detik tanpa menyebabkan ceceran.
Klep pembuang tekanan dinyatakan pada semua mesin yang bekerja dengan tekanan dan dapat membuang habis tekanan sebelum tutupnya dibuka. Jenis bahan bakar dan kapasitasnya dinyatakan dan tandanya terpasang secara permanen di mesin.

Pipa udara dari blower disalurkan melalui pipa menuju nozzle. Pipa udara tersebut sedemikian rupa sehingga mudah digerakkan kearah penyemprotan yang dikehendaki. Cairan dari tangki atau pompa dialirkan ke nozzle melalui sebuah alat pengatur aliran. Sebuah saringan 50 mesh dipasang sebelum nozzle mencegah terjadinya penyumbatan. Alat pengatur besarnya aliran cairan yang terpasang tetap atau dapat dipertukarkan dinyatakan. Alat ini terpasang pada pipa untuk mengatur besarnya aliran rata-rata. Ukuran partikel dengan berbagai besar aliran ( flow rate ) dan jenis cairan dinyatakan. Volume Median Diameter ( VMD ) berada pada 50 – 100 mikron dinyatakan berdasarkan pengujian.

Daya tahan mampu dioperasikan selama 50 jam dalam 10 hari berurutan. Salah satunya 8 jam non stop sebagai simulasi penanganan kejadian luar biasa. Setiap penghentian pengoperasian harus dicatat alasannya dan perbaikan yang dilakukan. Data jumlah pemakaian bahan bakar dicatat. Tali sandang dengan lebar, minimal 50 mm dinyatakan. Tali sandang dengan penyangga pada bahu dapat diatur panjangnya dengan minimal 750 mm.

3. Mesin pengkabut dingin (ULV, mesin aerosol) Model jinjing

Mesin pengkabut dingin (ULV, mesin aerosol) digunakan untuk penyemprotan ruang (space spray ) di dalam bangunan atau ruang terbuka yang tidak bias dicapai dengan mesin yang dioperasikan diatas kendaraan pengangkut. Mesin dapat dijinjing atau digendong dilengkapi dengan komponen yang menghasilkan aerosol untuk penyemprotan ruang. Tidak terdapat bagian yang tajam yang dapat mencederai operator pada pemakaian normal. Apabila mesin terpasang pada rangka maka dilengkapi dengan penahan yang tidak menyerap cairan agar nyaman digendong. Pasangan juga dapat menyerap getaran mesin.Semua komponen bergerak dan knalpot terlindung agar tidak membahayakan operator selama pengoperasian. Tombol-tombol dan tuas yang berfungsi untuk pengaturan terpasang tetap pada mesin dan diberi tanda yang jelas.Jenis bahan dinyatakan dan setiap komponen yang bersentuhan langsung dengan Pestisida tahan terhadap korosi dan tidak menyerap.

Berat alat ketika tangki terisi penuh untuk operasi normal tidak lebih dari 20 Kg untuk model jinjing dan 25 Kg untuk model yang terpasang pada rangka model gendong.

Tangki pestisida yang terpasang tetap atau dapat diganti-ganti dinyatakan dan isinya tidak kurang dari 1 liter. Dengan penandaan yang sedemikian rupa agar mudah diketahui isi cairan didalamnya. Pada tangki bahan bakar tersedia filter yang terpasang tetap atau pada corong dinyatakan. Kapasitas tangki bahan bakar cukup untuk pengoperasian mesin selama minimum 1 jam terus menerus. Petunjuk jenis bahan bakar terpasang di tangki atau mesin secara permanen.

Klep buka / tutup tersedia sebelum nozzle atau aliran formulasi akan berhenti dengan sendirinya bila mesin mati. Pengatur keluaran cairan menuju nozzle dinyatakan. Pembatas keluaran terpasang tetap atau dapat dipertukarkan dinyatakan. Rentang ukuran partikel dengan berbagai besar aliran (flow rate) dan jenis cairan dinyatakan. Volume yang disyar Median Diameter (VMD) kurang dari 30 mikron dinyatakan berdasarkan pengujian.

Tali sandang dengan lebar minimal 50 mm dinyatakan. Tali sandang dengan penyangga pada bahu dapat diatur panjangnya dengan panjang minimal 750 mm. Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda “alat pelindung pendengaran harus dipakai selama pengoperasian” dipasang permanen pada mesin.

4).    Mesin Pengabut Dingin ( Aerosol/ULV) yang dioperasikan diatas kendaraan pengangkut. 
Digunakan untuk penyemprotan ruang terbuka di luar bangunan, tanpa efek residu. Merupakan mesin yang menghasilkan aerosol /ULV yang dirancang untuk di tempatkan di bak belakang kendaraan pengangkut dan dioperasikan dari ruang penumpang. Mesin semprot harus mempunyai sistempembilasan dan memiliki sistem pengendali.

Tangki formulasi harus dapat dipisahkan atau apabila terpasang tetap tangki harus memiliki klep pembuang agar dapat dibersihkan. Rangka mesin harus tahan korosi, semua tangki formulasi baik yang terpasang tetap atau dapat dipindahkan harus dapat dibedakan satu dengan lainnya. Semua bagian bergerak atau knalpot harus terlindungi agar tidak mencederai operator. Tidak terdapat bagian yang tajam yang dapat mencederai operator selama pemakaian normal atau perawatan.Semua bahan yang bersentuhan langsung dengan pestisida harus tahan kimia, tidak menyerap dan lulus pengujian. Berat bersih dengan tangki dalam keadaan kosong dinyatakan dan tidak lebih dari 250 Kg. Kapasitas tangki harus dinyatakan dan tidak lebih dari 50 liter. Apabila tangki tidak tembus pandang atau tanda skala maka tangki harus memiliki alat petunjuk isi.

Lubang pengisian tangki harus terletak dibagian atas, dengan diameter lubang pengisian tidak kurang dari 40 mm. Apabila lubang pengisian kurang dari 90 mm, corong harus disediakan oleh pabrik agar tidak terjadi ceceran sewaktu mengisi. Kapasitas tangki / konsumsi bahan bakar harus cukup untuk pengoperasian selama 2 (dua) jam terus menerus pada keluaran formulasi yang terendah tanpa harus pengisian ulang. Jenis bahan bakar dinyatakan.

Kompresor udara atau blower adalah sebuah filter yang tahan korosi harus terpasang pada kompresor / blower dan mampu menahan partikel lebih besar dari 100 mikron. Tipe pengatur aliran dinyatakan. Semua peralatan harus mempunyai pengatur aliran yang manual (dapat berupa pengatur aliran yang tetap) tetapi dapat juga yang keluarannya dapat disesuaikan dengan kecepatan kendaraan pengangkut. Jenis klep buka/ tutup dinyatakan, dan harus menutup ketika mesin dimatikan atau salah satu komponen tidak berfungsi. Papan pengendali harus mempunyai tanda permanen pada tombol / tuas OFF (mematikan) mesin penggerak, dan tanda ON / OFF aliran pestisida dan dirancang untuk pemasangan di kendaraan pengangkut.

Rancangan pengendali jarak jauh harus tidak menyebabkan pestisida masuk ke dalam ruang penumpang kendaraan pengangkut. Peralatan harus dilengkapi dengan (i) jarum penunjuk jumlah jam pengoperasian. (ii) jarum penunjuk tekanan (sistem blower) atau tachometer (nozzle sistem rotary) (iii) klep keamanan tekanan udara atau sensor pada mesin sistem blower, ini dapat menggantikan (ii) bila tekanan menjadi rendah. Jumlah jam pengoperasian tanpa gangguan dan kesulitan menghidupkan mesin pada jumlah keluaran maksimum harus dinyatakan. Pengujian dilakukan tidak kurang dari 50 jam selama tidak lebih dari 2 minggu. Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda “alat pelindung pendengaran harus dipakai selama pengoperasian” dipasang permanen pada mesin. Tingkat kebisingan pada jarak 1 meter dari mesin sepanjang pengoperasian harus dinyatakan.

5).Mesin Pengkabut Panas ( Hot Fogger ) model jinjing

Mesin pengkabut panas digunakan untuk penyemprotan ruang di dalam bangunan atau ruang terbuka yang tidak dapat dicapai dengan mesin pengkabut panas yang dioperasikan di atas kendaraan pengangkut. Mesin
pengkabut panas portable harus memiliki sebuah nozzle energy panas tempat larutan Pestisida dalam minyak atau campuran dengan airdimasukkan secara terukur.

Komponen utama harus terpasang pada rangka yang kuat. Bila diinginkan mesin dapat dilengkapi mekanisme menghidupkan mesin yang terdiri dari : baterai, coil, sistem busi, pompa tangan atau pompa yang digerakkan oleh tenaga baterai untuk memberi tekanan kepada saluran bahan bakar ketika menghidupkan mesin. Semua permukaan yang panas yang terlindungi dengan cukup untuk mencegah kejadian luka bakar pada operator. Tidak boleh terdapat bagian yang tajam yang dapat menyebabkan cidera pada operator pada pemakaian normal. Semua komponen yang harus diatur selama pengoperasian harus terpasang

secara permanen dan ditandai dengan jelas. Mesin harus mempunyai petunjuk keselamatan yang jelas yang menyatakan bahwa mesin tidak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan selama pengoperasian.Bahan harus dinyatakan dan semua komponen yang bersentuhan langsung dengan pestisida harus tahan korosi, tidak menyerap dan memenuhi syarat yang ditentukan pada Mesin tipe pulsa-jet harus mempunyai resonator baja yang tahan suhu 1500 0C. Dengan semua tangki terisi penuh untuk pengoperasian normal, beratnya dinyatakan dan tidak lebih dari 20 Kg.

Kapasitas tangki yang dapat diganti atau terpasang tetap harus dinyatakan. Apabila bahan tangki bukan dari bahan yang tembus pandang atau berskala maka sebuah batang pengukur harus disediakan untuk mengukur banyaknya isi cairan di dalam tangki.
Lubang pengisian harus berada disisi atas mesin dan ukurannya dinyatakan. Corong bersaring harus disediakan apabila diameter lubang pengisian kurang dari 90 mm. Apabila posisi lubang pengisian tidak dibagian atas, corong bersaring bengkok harus disediakan.

Kapasitas tangki dan besarnya konsumsi harus dinyatakan serta harus cukup untuk menyemprotkan habis formulasi pada jumlah keluaran (flow rate) terkecil tanpa harus mengisi ulang. Jenis bahan bakar harus dinyatakan.Bila menggunakan pompa tangan, mesin harus sudah dapat hidup pada hitungan pemompaan tidak lebih dari 10 kali. Beberapa mesin kemungkinan menggunakan pompa yang digerakkan oleh tenaga listrik.

Klep buka / tutup untuk menutup secara otomatis aliran formulasi pestisida menuju nozzle apabila mesin mati sebagai tambahan dari klep buka / tutup manual yang terpasang dinyatakan. Klep pengatur besarnya aliran meskipun dapat dipertukarkan harus terpasang tetap pada mesin. Pembatas aliran tersebut harus dinyatakan.
Rentang ukuran partikel pada jumlah keluaran baku dan jumlah keluaran lainnya harus dinyatakan. Volume Median Diameter (VMD) harus lebih kecil dari 30 mikron. Lebarnya tali sandang harus dinyatakan, dan tidak kurang dari 50 mm pada posisi bahu dan dapat diatur panjangnya dengan sebuah pengencang sehingga tidak kurang dari 750 mm serta harus memenuhi ketentuan daya serap kurang dari 10 % dari berat keringnya.

Tidak terjadi kebocoran pada tangki dan komponen lainnya selama pengoperasian secara normal dan harus lulus test yang ditentukan.Jumlah jam operasi tanpa kegagalan pada pengoperasian dan menghidupkan mesin harus dinyatakan. Test ketahanan yang ditentukan dilakukan dengan air dengan pembatas aliran terbesar dengan interval buka / tutup masing-masing selama 15 menit.

5. Mesin Pengkabut Panas (Hot Fogger) Model jinjing

Mesin Pengkabut Panas (Hot Fogger) yang dioperasikan diatas kendaraan pengangkut. Mesin    semprot    yang digunakan untuk penyemprotan ke ruang terbuka diluar bangunan Mesin pengkabut panas yang dioperasikan dari atas kendaraan tanpa residu. Terdapat 2 prinsip kerja mesin tipe ini, i. mesin yang berkerja dengan sitem pulsa-jet. ii. Mesin yang bekerja dengan piston mesin 2 atau 4 langkah, konvensional, kipas penghembus, unit pemanas atau piringan berputar.
Mesin di operasikan di atas kendaraan pengangkut atau mobil pickup harus dilengkapi dengan thermal nozzle tempat formulasi dengan pelarut minyak atau campuran air dimasukkan secara terukur. Mesin harus sedemikian rupa harus dapat dioperasikan dari dalam ruang penumpang. Mesin mempunyai tangki formulasi yang disediakan atau dapat ditambahkan kemudian dan harus dapat dilepaskan atau mempunyai klep pembuangan agar mudah dibersihkan. Mesin biasanya terpasang pada rangka dan rangka tersebut harus tahan korosi. Semua komponen harus dapat dijangkau oleh operator. Semua tangki digunakan secara tetap dan diberi penandaan yang jelas. Knalpot mesin harus terlindung agar tidak mencederai operator. Tidak boleh terdapat bagian yang tajam yang dapat melukai operator selama pengoperasian secara normal atau ketika melakukan perawatan.

Mesin harus mempunyai petunjuk keamanan yang jelas dan memperingatkan bahwa mesin yang sedang beroperasi tidak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan. Semua bahan dinyatakan. Semua komponen yang bersentuhan langsung dengan pestisida harus tahan korosi, tidak menyerap dan harus lulus pengujian yang ditetapkan pada mesin dengan sistem pulsa jet harus mempunyai resonator yang tahan suhu 15000 C misalnya baja austhenite No. 1.4845. Berat mesin dalam keadaan tangki kosong dan tanpa semua komponen lepasan dinyatakan dan tidak melebihi 250 Kg.

Kapasitas tangki pestisida yang terpasang atau yang dapat dipertukarkan dinyatakan dan tidak kurang dari 50 liter. Apabila tangki tidak tembus pandang atau tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan isinya, maka sebuah jarum penunjuk isi harus tersedia. Lubang pengisian harus terletak di bagian atas tangki. Apabila diameter lubang pengisian kurang dari 90 mm, sebuah corong harus disediakan untuk mempermudah pengisian.

Sebuah klep pelepas tekanan udara dinyatakan dan harus mampu melepaskan tekanan sampai habis sebelum tangki dibuka. Kapasitas tangki dan komsumsi bahan bakar harus dinyatakan. Jenis bahan bakar harus dijelaskan. Jenis klep buka / tutup dinyatakan dan harus dapat menutup dengan sendirinya apabila mesin dimatikan atau terdapat komponen yang tidak berfungsi. Pengatur aliran formulasi ke nozzle harus terpasang secara tetap tetapi dapat dipertukarkan harus dinyatakan. Rentang ukuran partikel pada jumlah aliran baku dan jumlah aliran lainnya dinyatakan.

Besarnya partikel tidak boleh lebih besar dari 30 mikron VMD.Papan pengendali harus disediakan dan memiliki tombol / tuas untuk mematikan mesin, tombol / tuan ON / OFF pengaliran formuliasi pestisida dan dirancang untuk dioperasikan dari dalam ruang penumpang kendaraan pengangkut.

Tidak terjadi kebocoran pada tangki dan komponen lainnya selama pengoperasian secara normal dan harus lulus test. Jumlah jam operasi tanpa kegagalan pada pengoperasian dan menghidupkan mesin harus dinyatakan. Test ketahanan yang ditentukan dilakukan dengan air dengan pembatas aliran terbesar dengan interval buka / tutup masing¬masing selama 15 menit. Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda “alat pelindung pendengaran harus dipakai selama pengoperasian” dipasang permanen pada mesin.

9:32 PM | 0 comments | Read More

Alat Uji Nyamuk

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, May 26, 2015 | 12:29 AM

Peralatan untuk menangkap dan menguji nyamuk

Berikut kita rangkum salah satu point penting yang tercantum pada lampiran Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor, khususnya tentang Peralatan untuk menangkap dan menguji nyamuk.Pada Lampiran Permenkes ini dituliskan 16 alatat dimaksud, antara lain :
  1. Aspirator
  2. Spray sheet
  3. Drop net.
  4. Pit shelter trap
  5. Insect net
  6. Double bet net trap
  7. Double bet net trap
  8. Animal bait net trap
  9. Carbon dioxide bait net trap
  10. Window trap
  11. Light trap
  12. Ovitrap
  13. Emergence trap
  14. Bio assay test kit
  15. Susceptibility test
  16. Sweeper Aspirator
  17. Magoon trap

Penyakit yang ditularkan melalui vektor masih menjadi penyakit endemis yang dapat menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa serta dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian atas penyebaran vektor. Dan salah satu vektor dimaksud adalah nyamuk.Peralatan untuk menangkap nyamuk adalah alat yang dipergunakan untuk mengkoleksi nyamuk baik pada stadium pradewasa maupun dewasanya. Sedangkan uji yang dilakukan terhadap nyamuk adalah uji kerentanan nyamuk dan uji bioassay.

Berbagai peralatan yang dipergunakan untuk menangkap dan menguji nyamuk adalah sebagai berikut;

Aspirator
Merupakan peralatan utama untuk menangkap nyamuk yang sedang hinggap atau sedang mengisap darah. Cara menggunakannya adalah dengan menempatkan tabung gelas dari aspirator pada nyamuk yang hendak ditangkap, kemudian ujung yang lain dihisap dengan mulut. Oleh karena terbuat dari gelas mudah pecah, maka cara memegang dan membawanya harus hati-hati, jangan hanya dipegang batang karetnya kemudian dibawa, diayun-ayunkan ataupun hanya dikalungkan dileher begitu saja tanpa dimasukkan kedalam baju atau saku.

Spray sheet
Merupakan peralatan untuk menangkap nyamuk yang sedang hinggap didalam rumah. Digunakan disuatu ruangan rumah yang agak rapat. Cara menggunakannya adalah dengan menggelar kain putih (spray) pada seluruh lantai ruangan dan kemudian menutup semua lubang-lubang atau celah pada dinding ruangan sehingga tidak dapat terbang keluar, setelah itu dilakukan penyemprotan dengan racun serangga yang mempunyai efek knock down seperti pyrethrum atau baygon, penyemprotan dilakukan dari bagian luar maupun bagian dalam ruangan, Penyemprotan dimulai disekitar lubang¬lubang untuk mencegah nyamuk lolos. Kemudian ruangan ditutup selama 10 menit untuk membiarkan nyamuk mati dan jatuh dikain putih dan akhirnya nyamuk dikumpulkan.

Drop net.
Merupakan peralatan untuk menangkap nyamuk yang sedang hinggap istirahat disemak-semak luar rumah. Alat tersebut berupa sebuah kelambu yang diikatkan pada rangka kayu/logam/plastik. Cara penggunaan adalah dengan menempatkan drop net tersebutmengurungsemak-semakyangdiperkirakan ada nyamuknya, lalu seorang penangkap nyamuk masuk ke semak-semak yang sudah terkurung dan mengusir nyamuk yang ada pada semak-semak, sehingga nyamuk-nyamuk keluar dan hinggap pada kelambu, kemudian nyamuk ditangkap dengan aspirator.

Pit shelter trap
Merupakan suatu lubang ditanah dengan ukuran panjang 1 meter dan dalamnya 1,25 meter yang pada ke empat dindingnya dibuat lekukan menjorok kesamping sejajar permukaan tanah dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 30 cm, pada ketinggian 0,25 meter dari dasar lubang. Lubang ini dibuat untuk tempat hinggap istirahat nyamuk diluar rumah. Diatas lubang dipasang atap untuk menahan air hujan, disekitar lubang diberi gundukan tanah supaya air hujan tidak masuk dan juga dibuatkan dinding untuk mencegah binatang lain atau onak-onak masuk kedalam lubang.

Insect net
Berupa jaring untuk menangkap serangga atau nyamuk yang sedang terbang maupun yang sedang hinggap.

Double bet net trap
Terdiri dari satu buah kelambu kecil, ivolbed dan 1 buah kelambu besar. Digunakan untuk penangkapan nyamuk umpan orangditempat yang banyak nyamuk dan banyak penderita penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Cara penggunaan satu orang sebagai umpan tidur di velbed di dalam kelambu kecil yang tertutup, terkurung oleh kelambu yang lebih besar dan terbuka dibagian tertentu, tiap beberapa menit kelambu besar ditutup dan nyamuk yang terkurung didalamnya ditangkap.

Animal bait net trap
Adalah    alat perangkap    nyamuk    dengan menggunakkan hewan sebagai umpan serangga/nyamuk yang dikurung didalam kelambu. Tanda waktu-waktu tertentu kelambu dibuka untuk serangga/nyamuk yang tertarik pada hewan tersebut masuk dalam kelambu, setelah dibuka beberapa lama maka kelambu ditutup dan serangga/ nyamuk yang terperangkap didalam.

Carbon dioxide bait net trap
Seperti pada animal bait net trap, hanya untuk daya tarik terhadap nyamuk digunakan biang es sebagai umpan, yang diletakkan diatas volved.

Window trap
Adalah perangkap nyamuk berupa kotak ukuran 18 x 12 x 12 inchi, dibuat dengan rangka kayu atau kawat dan dindingnya kain kelambu dan didalamnya diberi kerucut (seperti bubu) sehingga nyamuk bisa masuk dan sulit keluar. Digunakan sebagai pasangan pada jendela untuk mengetahui waktu-waktu nyamuk masuk atau keluar dari rumah.

Light trap
Perangkap nyamuk dengan menggunakan lampu. Digunakan untuk menjebak nyamuk yang tertarik pada lampu/ cahaya.

Ovitrap
Suatu alat yang berupa container terbuat dari bahan kaleng, plastik, gelas ataupun bambu yang diisi air, diletakkan pada tempat-tempat tertentu. Digunakan untuk mendetesi adanya nyamuk Aedes dan juga untuk pemberantasan larvanya.

Emergence trap
Perangkap nyamuk seperti window trap, hanya pemasangannya tidak pada jendela tetapi pada genangan-genangan air tertentu, untuk menangkap nyamuk-nyamuk yang baru menetas dari kepompong.Gunanya untuk mengetahui jenis-jenis nyamuk, jumlah nyamuk yang menetas dari kepompong pada luas permukaan air tertentu dan untuk memperoleh nyamuk yang masih steril.

Bio assay test kit
Suatu alat untuk mengukur kekuatan racun serangga terhadap nyamuk dewasa maupun nyamuk pradewasa, berupa kurungan atau alat pengu rung nyamuk untuk memaksa nyamuk kontak dengan racun serangga. Bentuknya ada beberapa macam dan juga ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Cara penggunaannya akan dijelaskan tersendiri pada materi uji bio assay.

Susceptibility test (uji kerentanan)
Suatu set peralatan yang digunakan untuk mengukur kekuatan nyamuk dewasa atau larva, terhadap racun serangga. Penggunaan peralatan uji kerentanan akan dijelaskan pada materi tersendiri. Cara pemeliharaan, agar dijaga kebersihannya, tidak terkena/kontak dengan racun serangga yang akan diuji dan peralatan yang berupa plastik jangan sampai tersentuh dengan chloroform karena plastik akan meleleh.

Sweeper Aspirator
Suatu alat yang digunakan untuk menghisap nyamuk yang sedang terbang, berupa tabung seperti kaleng susu, dilengkapi baling-baling untuk menghisap nyamuk. Cara penggunaan adalah dengan mengarahkan bagian muka dari sweeper kearah serangga/nyamuk yang sedang terbang, maka serangga/nyamuk akan terhisap dan masuk ke ruang tempat menampung serangga/nyamuk.

Magoon trap
Adalah suatu gudang kayu yang portable, mudah dipak dan disusun dibawa berpindah-pindah ke tempat-tempat yang dibutuhkan. Bagian atas dinding terbuat dari kawat kasa nyamuk, pada dinding diberi celah-celah untuk nyamuk masuk, semua bagian dalam diberi cat dengan warna putih agar bila ada nyamuk bisa cepat dan mudah terlihat, bagian atapnya terbuat dari bahan yang tahan air. Digunakan pada penggunaan animal bait net trap.
12:29 AM | 0 comments | Read More

Download Permenkes Nomor 32 Tahun 2013 Pekerjaan Tenaga Sanitarian

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, May 4, 2015 | 12:36 AM

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga Sanitarian

Salah satu pertimbangan dikeluarkannya Permenkes ini diantaranya untuk melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Sedangkan beberapa pertimbangan dasar hukum yang dijadikan sebagai dasar pengeluaran Permenkes ini diantaranya:
  1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2008 tentang Penggunaan Bahan Kimia dan Larangan Penggunaan Bahan Kimia Sebagai Senjata Kimia
  2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
  3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
  4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan
  5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
  6. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
  7. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
  8. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
  9. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
  10. Peraturan    Menteri Kesehatan Nomor 416/Menkes/Per/IX/ 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air
  11. Peraturan Menteri    Kesehatan Nomor 061/ Menkes/ Per/I/ 1991 tentang    Persyaratan Kesehatan Kolam Renang dan Pemandian Umum
  12. Keputusan     Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri;
  13. Keputusan     Menteri Kesehatan Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang    Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan;
  14. Keputusan    Menteri    Kesehatan    Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran;
  15. Keputusan    Menteri    Kesehatan    Nomor 1204/ Menkes/SK/X/2004 tentang    Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit;
  16. Keputusan     Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat;
  17. Peraturan    Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang    Persyaratan Kualitas Air Minum;
  18. Peraturan    Menteri    Kesehatan    Nomor 736/Menkes/Per/VI/2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum;
  19. Peraturan    Menteri    Kesehatan    Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga
  20. Peraturan    Menteri    Kesehatan    Nomor 1796 / Menkes / Per/ VIII / 2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.
Beberapa pengertian yang dicantumkan dalam Permenkes ini (Pasal 1), diantaranya :
  1. Tenaga Sanitarian adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang kesehatan lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.
  2. Surat Tanda Registrasi Tenaga Sanitarian selanjutnya disingkat STRTS adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Pemerintah kepada Tenaga Sanitarian yang telah memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. Surat Izin Kerja Tenaga Sanitarian selanjutnya disingkat SIKTS adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan di bidang kesehatan lingkungan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
  4. Standar Profesi Tenaga Sanitarian adalah batasan kemampuan minimal yang harus dimiliki/dikuasai oleh Tenaga Sanitarian untuk dapat melaksanakan pekerjaan sanitarian secara profesional yang diatur oleh organisasi profesi.
  5. Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia yang selanjutnya disingkat MTKI adalah lembaga yang berfungsi untuk menjamin mutu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan.
Pasal 3;
  1. Kualifikasi Tenaga Sanitarian ditetapkan berjenjang dan berkelanjutan yang terdiri dari: Sanitarian; Teknisi Sanitarian Utama (Technical Sanitarian); Teknisi Sanitarian Madya (Junior Technical Sanitarian); Teknisi Sanitarian Pratama (Assistent Technical Sanitarian); dan Asisten Teknisi Sanitarian (Junior Assistent Technical Sanitarian).
  2. Sanitarian merupakan Tenaga Sanitarian yang memiliki ijazah Profesi Kesehatan Lingkungan.
  3. Teknisi Sanitarian Utama merupakan Tenaga Sanitarian yang memiliki ijazah: Diploma Tiga Penilik Kesehatan; atau Diploma Empat/Sarjana Terapan/Sarjana Kesehatan Lingkungan/Ilmu Lingkungan/Teknologi Lingkungan/Teknik Lingkungan/Teknik Sanitasi.
  4. Teknisi Sanitarian Madya merupakan Tenaga Sanitarian yang memiliki ijazah Diploma Tiga Ahli Madya Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan/Teknologi Sanitasi.
  5. Teknisi Sanitarian Pratama merupakan Tenaga Sanitarian yang memiliki ijazah Diploma Satu Kesehatan Lingkungan/Pembantu Penilik Hygiene.
  6. Asisten Teknisi Sanitarian merupakan orang yang memilki ijazah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Kesehatan Lingkungan/Sanitasi/ Plumbing.
Bagian Kedua, Sertifikat Kompetensi dan STRTS (Pasal 4)
  1. Tenaga Sanitarian untuk dapat melakukan pekerjaannya harus memiliki STRTS.
  2. Untuk dapat memperoleh STRTS sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Tenaga Sanitarian harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  3. STRTS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh MTKI dengan masa berlaku selama 5 (lima) tahun.
  4. STRTS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperoleh sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  5. Contoh STRTS sebagaimana tercantum dalam Formulir I terlampir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pada bagian dan pasal-pasal selanjutnya diatur tentang :
  1. Syarat mendapatkan SIKTS
  2. Pelaksanaan Pekerjaan Tenaga Sanitarian
  3. Pembinaan dan Pengawasan
Pada Pasal 13, Lingkup pekerjaan Tenaga Sanitarian merupakan pelayanan kesehatan lingkungan yang meliputi pengelolaan unsur-unsur yang mempengaruhi timbulnya gangguan kesehatan, antara lain: limbah cair; limbah padat; limbah gas; sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkanpemerintah; binatang pembawa penyakit; zat kimia yang berbahaya; kebisingan yang melebihi ambang batas; radiasi sinar pengion dan non pengion; air yang tercemar; udara yang tercemar; dan makanan yang terkontaminasi.

Pada Pasal 14, diuraikan lingkup pelayanan kesehatan lingkungan tersebut, antara lain:
  1. Lingkup pelayanan pengelolaan limbah cair, meliputi: pemeriksaan kualitas fisik, kimia dan mikrobiologi limbah cair dan tinja; perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengolahan limbah; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan limbah cair dan tinja.
  2. Lingkup pelayanan pengelolaan limbah padat meliputi: pemeriksaan kualitas fisik, kimia dan mikrobiologi tanah dan limbah padat; perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengolahan limbah; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan tanah dan limbah padat.
  3. Lingkup pelayanan pengelolaan udara dan limbah gas meliputi: pemeriksaan kualitas fisik, kebisingan, getaran dan kelembaban, kimia dan mikrobiologi udara dan limbah gas; perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengolahan limbah; pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan udara dan limbah gas.
  4. Lingkup pelayanan pengelolaan sampah yang tidak diproses sesuai persyaratan pemerintah meliputi: pemeriksaan jenis sampah, sumber timbulan, dan karakteristik; perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengolahan limbah; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang tidak diproses sesuai persyaratan pemerintah.
  5. Lingkup pelayanan pengendalian binatang pembawa penyakit meliputi: pemeriksaan tempat perindukan, perilaku binatang pembawa penyakit, perilaku masyarakat; perlindungan kesehatan masyarakat dari tempat perindukan, perilaku binatang pembawa penyakit, perilaku masyarakat; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian binatang pembawa penyakit.
  6. Lingkup pelayanan pengelolaan zat kimia dan limbah B3 termasuk limbah medik meliputi: pemeriksaan jumlah, consentrasi dan jenis zat kimia, limbah B3, hygiene industry, kesehatan kerja; pemeriksaan peralatan dan lingkungan yang terpajan, dan manusia yang terpajan; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan zat kimia dan limbah B3.
  7. Lingkup pelayanan pengelolaan kebisingan yang melebihi ambang batas meliputi: Pemeriksaan intensitas dan tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas, sumber dan sifat, kondisi lingkungan; perlindungan kesehatan masyarakat dari intensitas dan tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas, sumber dan sifat, kondisi lingkungan; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang terpajan kebisingan yang melebihi ambang batas.
  8. Lingkup pelayanan pengelolaan radiasi sinar pengion dan non pengion meliputi: Pemeriksaan intensitas dan tingkat radiasi, sumber dan sifat radiasi, kondisi lingkungan radiasi; perlindungan kesehatan masyarakat dari intensitas dan tingkat radiasi, sumber dan sifat radiasi, kondisi lingkungan radiasi; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang terkena radiasi sinar pengion dan non pengion.
  9. Lingkup pelayanan pengelolaan air yang tercemar meliputi: a. pemeriksaan kualitas fisik, kimia dan mikrobiologi air; penentuan sumber air, dan perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengolahan air; dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan air yang tercemar.
  10. Lingkup pelayanan pengelolaan udara yang tercemar meliputi: pemeriksaan    kualitas    fisik    udara/ kebisingan/ getaran/kelembaban udara baik in door maupun outdoor, kecepatan angin dan radiasi, pemeriksaan kimia, mikrobiologi; perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengolahan udara; dan penggerakan masyarakat dalam pengelolaan udara yang tercemar.
  11. Lingkup pelayanan pengelolaan makanan yang terkontaminasi meliputi: pemeriksaan kualitas fisik , kimia, mikrobiologi dan parasitologi; perlindungan kesehatan masyarakat dari pencemaran dan/atau pajanan kandungan unsur dari proses pengelolaan makanan; dan penggerakan masyarakat dalam pengelolaan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Pasal 15, Selain ruang lingkup pekerjaan, setiap Tenaga Sanitarian yang menjalankan program Pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan lingkungan tertentu, meliputi: melakukan pemantauan dan manajemen risiko pelaksanaan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL); melakukan pemantauan pelaksanaan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL); melakukan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL); melakukan pemantauan pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL); melakukan pemeriksaan dan tindakan sanitasi kapal dan pesawat sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR); dan melakukan pemantauan pelaksanaan Klinik Sanitasi dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

DOWNLOAD Permenkes Nomor 32 TAHUN 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga Sanitarian DISINI
12:36 AM | 0 comments | Read More

Download Permenkes Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, April 28, 2015 | 1:06 AM

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Di Puskesmas

Salah satu pertimbangan dikeluarkannya Permenkes ini, disebutkan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat dan mencegah penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan serta dalam rangka mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan.

  1. Sedangkan beberapa peraturan perundangan yang mendasari Permenkes ini antara lain:
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Kesehatan
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan
  4. Keputusan Menteri    Kesehatan Nomor 876/ Menkes/ SK/ VIII/ 2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan;
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor;
  6. Peraturan    Menteri    Kesehatan    Nomor Menkes/ Per/ IV/ 2010    tentang Persyaratan Kualitas Air Minum;
  7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 736/ Menkes/ Per/ VI/ 2010 tentang Tatalaksana Pengawasan Kualitas Air Minum;
  8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077/ Menkes/ Per/V/ 2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah;
  9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1096/Menkes/Per/VI/201 1 tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga
  10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga Sanitarian
  11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat 
Pada Pasal 1, disebutkan beberapa pengertian, diantaranya :
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
  1. Pelayanan Kesehatan Lingkungan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial guna mencegah penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor risiko lingkungan.
  2. Faktor Risiko Lingkungan adalah hal, keadaan, atau peristiwa yang berkaitan dengan kualitas media lingkungan yang mempengaruhi atau berkontribusi terhadap terjadinya penyakit dan/atau gangguan kesehatan.
  3. Konseling adalah hubungan komunikasi antara Tenaga Kesehatan Lingkungan dengan pasien yang bertujuan untuk mengenali dan memecahkan masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi.
  4. Inspeksi Kesehatan Lingkungan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengamatan secara langsung terhadap media lingkungan dalam rangka pengawasan berdasarkan standar, norma, dan baku mutu yang berlaku untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat.
  5. Intervensi Kesehatan Lingkungan adalah tindakan penyehatan, pengamanan, dan pengendalian untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial.
  6. Tenaga Kesehatan Lingkungan adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan minimal Diploma Tiga di bidang kesehatan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
Beberapa point penting dalam Permenkes ini, diantaranya:

Pada Pasal 2: Setiap Puskesmas wajib menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Lingkungan. Merupakan bagian dari pelayanan kesehatan paripurna yang diberikan kepada Pasien.

Pasal 3: Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan dilakukan dalam bentuk: Konseling; Inspeksi Kesehatan Lingkungan; dan/atau Intervensi Kesehatan Lingkungan.

Pasal 4, Konseling terhadap Pasien yang menderita penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh Faktor Risiko Lingkungan dilaksanakan secara terintegrasi dengan pelayanan pengobatan dan/ atau perawatan.
   
Pasal 6, Berdasarkan Konseling terhadap Pasien dan/atau hasil surveilans kesehatan yang menunjukan kecenderungan berkembang atau meluasnya penyakit atau kejadian kesakitan akibat Faktor Risiko Lingkungan, Tenaga Kesehatan Lingkungan harus melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan terhadap media lingkungan. Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilakukan dengan cara: pengamatan fisik media lingkungan; pengukuran media lingkungan di tempat; uji laboratorium; dan/atau analisis risiko kesehatan lingkungan.

Pasal 7, Berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan dapat ditetapkan Intervensi Kesehatan Lingkungan yang dapat dilaksanakan secara mandiri atau bekerjasama dengan pemangku kepentingan dan pihak terkait lainnya. Intervensi Kesehatan Lingkungan dapat berupa: komunikasi,    informasi,    dan    edukasi, serta  penggerakan/ pemberdayaan masyarakat; perbaikan dan pembangunan sarana; pengembangan teknologi tepat guna; dan/atau rekayasa lingkungan.

Pada lampiran (bab II) Permenkes ini ditulis Alur Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas.



Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas dilaksanakan di dalam gedung dan luar gedung Puskesmas, meliputi: Konseling; Inspeksi Kesehatan Lingkungan; dan Intervensi/tindakan kesehatan ingkungan.

Download Permenkes Nomor 13 Tahun 2015
Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Di Puskesmas DISINI
1:06 AM | 0 comments | Read More

Tujuan dan Kegunaan Penyusunan ANDAL

Written By Kesehatan Lingkungan on Friday, April 24, 2015 | 9:34 PM

Analisis Dampak Lingkungan, Kegunaan dan Tujuan Penyusunannya

Tujuan dilakukan Studi ANDAL secara garis besar sebagai berikut :
  1. Mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan rencana kegiatan terutama yang akan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan.
  2. Mengidentifikasi Komponen-komponen lingkungan yang akan terkena dampak suatu kegiatan pembangunan
  3. Memprakirakan dan mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan pembangunan
  4. Memberikan rincian teknis penanganan dampak negative dan peningkatan/ pengembangan dampak positif yang akan dilaksanakan berupa upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagai bahan informasi kepada berbagai pihak dan instansi terkait.
Kegunaan Penyusunan ANDAL
Kegunaan dari penyusunan Studi Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) antara lain:

a.    Bagi Pemrakarsa:
  • Sebagai arahan dalam upaya pelaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
  • Untuk melihat masalah lingkungan yang akan dihadapi di masa  yang akan datang; serta mempersiapkan cara-cara pemecahan masalah yang akan dihadapi di masa mendatang.
  • Memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi lingkungan baik biogeofisika, sosial ekonomi serta budaya dan kesehatan masyarakat, beserta polarisasi perubahannya. Dengan diketahuinya kondisi lingkungan tersebut maka pemrakarsa dapat menyesuaikan berbagai program kegiatannya yang bertujuan dapat meningkatkan taraf hidup serta kualitas lingkungan disekitarnya.
  • Sebagai bahan penguji secara komprehensif dari perencanaan kegiatan pembangunan perkebunan sehingga dapat memperkecil kelemahan-kelemahannya.
  • Sebagai dasar dalam upaya perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan, yang terintegrasi dengan pengelolaan kegiatan perkebunan beserta sarana dan prasarana pendukungnya.
  • Sebagai bahan pertimbangan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya konflik yang berkaitan dengan persoalan lingkungan di wilayah kegiatan tersebut.
  • Memberikan jaminan bagi pemrakarsa terhadap keberhasilan penanaman modalnya.
b.    Bagi Pemerintah:
  • Mencegah rusaknya sumber daya alam baik yang dikelola oleh pemrakarsa maupun oleh pihak lain, sehingga memberikan jaminan bagi kelangsungan pembangunan yang berkelanjutan.
  • Sebagai bahan masukan dalam perencanaan pengelolaan lingkungan baik regional maaupun nasional.
  • Sebagai dasar dalam mengusahakan  kesejahteraan hidup masyarakat dan dalam menentukan kebijakan yang tepat dalam pengelolaan lingkungan.
c.    Bagi Masyarakat   
  • Mengetahui rencana  pembangunan  atau pengembangan wilayahnya sehingga dapat mempersiapkan diri di dalam penyesuaian perubahan pola kehidupan.
  • Mengetahui perubahan lingkungan akibat adanya kegiatan pengusahaan hutan sehingga dapat memanfaatkan kesempatan yang menguntungkan 
  • Sebagai alat bagi masyarakat di dalam keikutsertaannya melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
9:34 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik