Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Dampak Negatif Sampah Medis

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, February 20, 2014 | 7:48 PM

Dampak Negatif Sampah Rumah Sakit

Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan.7 Terkait dengan pengelolaan limbah rumah sakit, sudah diantaranya sudah diterbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Kebijakan ini penting dikeluarkan dan diterapkan, antara lain karena mengingat dampak negatif sampah medis pada sarana pelayanan kesehatan yang harus dikelola dengan baik.

Limbah rumah sakit dapat berbentuk buangan padat, cair, dan gas yang banyak mengandung kuman patogen, zat kimia beracun, zat radioaktif, dan zat lain- lain. Berbagai limbah dan buangan tersebut selain dapat menimbulkan masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat baik di rumah sakit maupun lingkungan sekitarnya.

Agen penyakit yang dihasilkan oleh kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit memasuki media lingkungan melalui air (air kotor dan air minum), udara, makanan, alat atau benda, serangga, tenaga kesehatan, dan media lainnya. Melalui media ini agen penyakit tersebut akan dapat ditularkan kepada kelompok masyarakat rumah sakit yang rentan, misalnya penderita yang dirawat atau yang berobat jalan, karyawan rumah sakit, pengunjung atau pengantar orang sakit, serta masyarakat di sekitar rumah sakit.

Berdasarkan hal tersebut penting dilakukan pengawasan dan pemantauan pada berbagai media diatas terhadap kemungkinan akan adanya kontaminasi agen penyakit yang dihasilkan. Sampah dan limbah medis harus dikelola pada keseluruhan tahapan yang dihasilkan, seperti pada tahap sampah dihasilkan sampai pembuangan akhir. Keberadaan sampah medis ini berpotensi dapat menurunkan kualitaas lingkungan serta menyebabkan dampak kesehatan masyarakat.

Beberapa dampak sampah medias antara lain dapat menurunkan kualitas lingkungan sehingga berpotensi menyebabkan masalah kesehatan, diantaranya dapat menyebabkan tingginya angka kepadatan vektor penyakit seperti nyamuk, kecoa, lalat, dan tikus. Juga dapat menimbulkan pencemaran terhadap tanah, udara, dan air, serta menrunkan derajat keindahan lingkungan.

Dampak lain sampah medis juga dapat berpotensi menimbulkan berkembangnya berbagai penyakit penyakit menular, seperti demam berdarah dengue, diare, penyakit kulit, penyakit demam typhoid, juga kecacingan,

Referensi, antara lain:
Adisasmito W. 2007.  Sistem manajemen lingkungan rumah sakit. PT Raja Grafindo Persada; 7 Depkes RI. 2001.  Pedoman pelaksanaan sanitasi lingkungan dalam pengendalian vector.
7:48 PM | 0 comments | Read More

Dampak Kesehatan dan Lingkungan Mercury

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, January 5, 2014 | 9:06 PM

Dampak dan Standar Air Raksa (Hg) Pada Air Bersih

Air Raksa atau mercury secara kimia merupakan unsur logam transisi yang berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar. Air raksa/merkuri sangat beracun, karena sifatnya yang sangat beracun, maka U.S. Food and Administration (FDA) menentukan pembakuan atau Nilai Ambang Batas kadar merkuri yang ada dalam jaringan tubuh badan air, yaitu sebesar 0,005 ppm.

Sebagaimna kita ketahui, Nilai Ambang Batas (NAB), merupakan suatu keadaan dimana suatu larutan kimia, dalam hal ini Air raksa/merkuri dianggap belum membahayakan bagi kesehatan manusia. Bila dalam air, kadar merkuri sudah melampaui Nilai Ambang Batas, maka air yang diperoleh dari tempat tertentu dinyatakan berbahaya.

Keberadaan mercury pada lingkungan perairan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh organisme air. Selain itu pencemaran perairan oleh air raksa/merkuri mempunyai pengaruh terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam sedimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap dan terakumulasil dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui proses bioaccumulation maupun biomagnifications yaitu melalui rantai makanan. Berikut tabel Beberapa kadar Hg yang diperbolehkan menurut peraturan pemerintah yang ada di Indonesia.

Menurut WHO, air raksa/merkuri di alam umumnya terdapat sebagai metil merkuri (CH3-Hg), yaitu bentuk senyawa organik dengan daya racun tinggi (diatas 0,005 ppm) dan sukar terurai dibandingkan zat asalnya. Air Raksa/Merkuri yang dapat diakumulasi adalah Air Raksa/Merkuri yang bentuk metil merkuri (CH3-Hg), yang mana dapat diakumulasi oleh ikan dan juga merupakan racun bagi manusia.

Metil merkuri (CH3-Hg), sangat mudah diserap tubuh melalui jalur pencernaan (+95% diserab oleh tubuh). Setelah seseorang makan ikan atau makanan lain yang terkontaminasi oleh Metil merkuri (CH3-Hg), maka Metil merkuri (CH3-Hg) akan masuk ke peredaran darah dengan mudah dan cepat tersebar ke seluruh jaringan tubuh. Hanya dalam jumlah kecil Metil merkuri (CH3-Hg), ke peredaran darah melalui kulit, tetapi bentuk lain Hg-organik yaitu dimethilmerkuri (CH3-Hg), dapat dengan cepat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

Berikut berbagai dampak merkuri pada kesehatan manusia maupun pada lingkungan (Priyanto, T. 2006) :

Dampak Merkuri Terhadap Manusia


Akibat keracunan akut merkuri (jangka waktu pendek dan kadar tinggi) untuk kesehatan manusia yaitu kerusakan sistem saraf pusat, kerusakan ginjal, kerusakan paru-paru, ekspos pada janin bayi dapat menimbulkan (cacat mental, buta), meningkatkan angka kematian. Gej ala yang harus diwaspadai yaitu Mati rasa atau rasa tertusuk jarum pada tangan, kaki, jari dan bibir, kulit merah/gatal, gangguan penglihatan. Ekspos Kronis (jangka panjang lama dan kadar rendah) dapat menyebabkan: Terhuyun-huyung, gagap, penglihatan berkurang, pendengaran terganggu, sakit gusi, kasus yang gawat dapat menyebabkan gemetar dan kejang, disusul oleh koma dan kematian. Dampak berbeda tergantung pada :

Jangka waktu terekspos: Dapat terlihat 10 tahun setelah terekspos. Ekspos (cara suatu bahan beracun masuk kedalam tubuh) ini terhadap Merkuri dapat terjadi melalui: menghirup udara yang terkontaminasi, mengkonsumsikan makanan dan minuman yang terkontaminasi, Absorpsi/penyerapan melalui kulit

Kadar merkuri: Gejala bertambah berat jika kadar tinggi. Standard yang ditetapkan badan-badan internasional untuk merkuri adalah sebagai berikut: di air minum 2 ppb (2 gr dalam 1.000.000.000 (satu milyar gr air atau kira-kira satu juta liter)). Di makanan 1 ppm (1 gram tiap 1 juta gram) atau satu gram dalam 10 ton makanan. Di udara 0,1 mg (miligram) metilmerkuri setiap 1 m3, 0,05 mg/m3 logam merkuri untuk orang-orang yang bekerja 40 jam seminggu (8 jam sehari). Kadar merkuri yang ada dalam air sungai, yaitu sebesar 0,005 ppm. Food and Drug Administration (FDA) mengestimasi pajanan Hg dari ikan rata-rata 50 ng/kg/hari atau kira-kira 3,5 Ig/hari untuk orang dewasa dengan berat badan rata-rata (70 kg). Secara alamiah kandungan Hg di lingkungan adalah sebagai berikut: Kadar total Hg udara = 10 – 20 ng/m3 untuk udara outdoor di kota. Kadar total Hg air permukaan = 5 ppt = 5 ng/l dan kadar total Hg dalam tanah 20 – 625 ppb.

Jenis merkuri:
Metil merkuri adalah jenis yang paling beracun ( > 0,005 ppm)

Umur: Bayi, anak-anak, orangtua beresiko tinggi. Dampak terhadap bayi dan anak-anak yaitu rusak otak, cacat mental, gerakan tidak koordinasi, buta, kejang, tidak dapat bicara, fungsi ginjal terganggu, sistim pencernaan terganggu. Anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa terhadap merkuri.

Status Reproduksi: Wanita hamil beresiko tinggi karena wanita hamil yang terpapar alkil merkuri bisa menyebabkan kerusakan pada otak janin sehingga mengakibatkan kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Merkuri di ibu yang mengandung dapat mengalir ke janin yang sedang dikandungnya dan terakumulasi. Juga dapat mengalir ke anak lewat susu ibu. Akibatnya, pada anak dapat berupa kerusakan otak, retardasi mental, buta, bisu, masalah pada pencernaan dan ginjal.

Pekerjaan:
Penambang emas dan nelayan beresiko tinggi. Penambangan emas di Kalimantan Tengah menggunakan bahan Merkuri dicampur dengan air dan pasir untuk “mengikat” logam emas dalam proses ekstraksi. Kemudian sejumlah tailing (sisa tambang) dibuang kedalam sungai. Orang akan tersekspos ketika mandi disungai (diserap kulit) atau minum dan masak dengan air yang terkontaminasi/tercemar. Saat proses pembakaran amalgama yang memisahkan emas, merkuri dibakar dan berubah menjadi uap/gas. Uap ini dapat tersebar diudara jarak jauh sebelum di endapkan kembali didarat. Pekerja dan penduduk sekitar akan terekspos ketika mereka menghirup udara, terumata apabila didalam ruangan tertutup. Merkuri yang terendap di air dan tanah diserap oleh tanaman dan terakumulasi di tubuh hewan. Merkuri dapat disimpan dalam jaringan tubuh tanaman dan hewan kemudian dikonsumsikan oleh manusia.

Dampak Merkuri Terhadap Lingkungan
Dampak Merkuri terhadap Lingkungan yaitu mengurangi jumlah klorofil tanaman hijau, mengurangi pertumbuhan tanaman, merusak pertumbuhan akar dan fungsi, merusak daun dan menurunkan produksi, mematikan tanaman, mengurangi perkembang biakan di hewan, menganggu perkembangan, tingkah laku yang abnormal, bahkan kematian. Dampak merkuri juga dapat menyebabkan kepunahan lokal dari jenis hewan tertentu dan menurunkan biodiversitas. Pengurangan biodiversitas berarti lebih sedikit individu yang dapat didukung ekosistim. Kepunahan atau pengurangan spesies tertentu seperti insectivor, polinator dan penyebar biji dapat menyebabkan pengurangan diversitas tanaman.
9:06 PM | 0 comments | Read More

Standar Kualitas Kimia Udara Ruang

Written By Kesehatan Lingkungan on Friday, December 27, 2013 | 4:08 PM

Komponen Standar Kualitas Kimia Udara dalam Ruang


Terdapat beberapa komponen kualitas kimia udara dalam ruangan. Beberapa parameter kualitas udara dalam ruangan antara lain meliputi karbon dioksida, karbon monoksida, Nitrogen Oksida, Timbal, Timah Hitam, Plumbum, dan Asap Rokok

Karbon dioksida (CO2).
Karbon dioksida merupakan salah satu gas termasuk dalam beberapa gas penyebab efek rumah kaca sehingga diduga menjadi penyebab peningkatan suhu global. Efek peningkatan suhu global ini terhadap kesehatan masyarakat masih menjadi perdebatan di dunia. Gas CO2 berasal dari sisa metabolisme makhluk hidup baik manusia hewan dan tumbuhan. Sebagian berasal dari gas buangan pabrik, kendaraan bermotor dan berbagai pembakaran. Namun konsentrasi CO2 didalam ruangan perlu dipertahankan pada kisaran 0,01% agar menjamin kenyamanan pekerja, keberadaan gas ini dalam ruangan biasanya berasal dari tingginya kepadatan orang diruangan tersebut.

Karbon Monoksida.
Karbon monoksida merupakan gas tidak berbau, dengan bentuk kimia hampir stabil, dan dapat bercampur dengan udara pada berbagai temperatur. Sumber utama terbentuknya CO di udara adalah pembakaran tidak sempurna bahan bakar minyak. Emisi gas CO dalam ruangan terakumulasi dari pembakaran batu bara, gas, atau minyak untuk memasak, pemanas ruangan serta asap rokok. Hal ini umumnya karena kondisi ventilasi ruangan kurang baik sehingga tidak dapat mengalir keluar dengan baik. Namun dapat pula terjadi pada gedung¬gedung yang berada di daerah pencemaran gas CO tinggi dimana emisi CO didalam ruangan justru berasal dari luar ruangan. Bagi kesehatan, tingginya konsentrasi CO dapat berakibat fatal yaitu anemia, gangguan sel darah, penyakit paru kronis, resiko pada kehamilan dan kelahiran bayi.

Nitrogen Oksida (NOx).
Nitrogen Monoksida (NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) adalah
polutan yang paling banyak ditemukan dilingkungan luar (outdoor) biasanya merupakan campuran sehingga sering disebut NOx (Nitrogen Oksida). NOx berasal dari proses pembakaran suhu tinggi, berwarna orange coklat kemerahan dan berbau tajam, bersifat korosif dan merupakan oksidator yang kuat, dilingkungan gas ini merupakan salah satu penyebab dari hujan asam.

Target organ NOx adalah system pernafasan dan sistem kardiovaskuler. Dampaknya bagi kesehatan bersifat kronik dan secara khusus belum banyak dilaporkan. Sumber polutan NOx didalam ruangan berasal dari proses pembakaran rokok dan alat pemanas ruangan.

Timbal, Timah Hitam, Plumbum (Pb).
Pada dasarnya fungsi utama timbal (Pb) dan persenyawaannya dipergunakan untuk bahan pembuatan cat, batu battery, kaca atau gelas, bahan-bahan industri dan percetakan dalam bentuk senyawa Tetra Ethyl Lead (TEL) digunakan sebagai campuran bensin untuk menaikan nilai oktan, sumber emisi Pb di udara kawasan perkotaan terutama berasal dari sarana transportasi. Dampaknya bagi kesehatan adalah keracunan akut maupun kronis, karena Pb terakumulasi dalam tubuh manusia. Pemaparan Pb kepada manusia melalui makan (5% - 10 %), air dan udara (80%). Akibat keracunan dari Pb berupa anemia, penurunan intelegensia pada anak, gangguan metabolisme tubuh dan kematian.

Asap Rokok.
Asap rokok merupakan sumber pencemar ruangan yang potensial. Bahaya asap rokok tidak saja mengganggu kesehatan perokok tetapi juga orang-orang yang bukan perokok atau perokok pasif yang menghisap rokok secara tidak sengaja atau bahkan yang tidak dikehendakinya, perokok pasif mempunyai risiko lebih besar daripada perokok aktif. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan asap rokok adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem pernafasan, sistem sirkulasi darah, luka lambung, kangker pada bibir, lidah dan kandung kemih.

Sumber :
Enviromental Health Center (EHC). 2003. Sick Building Syndrome. IAQ Fact Sheet: Sick Building Syndrome. Enviromental Health Center. A Division of National Safety Caoncil. Washington DC.
4:08 PM | 0 comments | Read More

Sanitasi Rumah Faktor Risiko Infeksi Kecacingan

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, December 22, 2013 | 4:56 PM

Kualitas Sanitasi Rumah Dan Faktor Risiko Infeksi Kecacingan

Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini Dari sisi epidemiologis, telah terjadi pula transisi yang cukup cepat terhadap beberapa penyakit menular, seperti  penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), Flu Burung, Leptospirosis. Terdapat beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa sanitasi rumah yang tidak baik dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi cacing tambang pada anak.  Kualitas Sanitasi rumah adalah kondisi sanitasi dasar lingkungan rumah dengan prinsip-prinsip usaha untuk meniadakan atau setidak-tidaknya menguasai faktor-faktor lingkungan yang dapat menimbulkan penyakit melalui kegiatan¬kegiatan untuk mengendalikan: sanitasi air, sanitasi makanan, pembuangan kotoran, air buangan dan sampah, sanitasi udara, vektor dan binatang pengerat serta hygiene perumahan.

Sedangkan secara garis besar beberapa indikator kualitas sanitasi rumah yang berhubungan dengan kasus kecacingan antara lain sebagai berikut:

Jamban Keluarga
Menurut Machfoedz (2008), beberapa syarat pembuangan tinja antara lain meliputi tidak mengkontaminasi tanah, sumber air tanah, air permukaan, tidak dapat dicapai berbagai hewan seperti lalat, kecoa, tikus dan tidak menyebabkan bau dan mengganggu estetis. Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan penyebaran berbagai macam penyakit, daintaranya penyakit kecacingan.  Pembuangan kotoran yang tidak sehat menyebabkan telur cacing dapat dengan mudah menyebar dilingkungan.

Menurut  Gandahusada dkk (2004), berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyebaran telur cacing di lingkungan, antara lain dengan membuang tinja di jamban. Sementara menurut Sumanto (2010), anak yang mempunyai kebiasaan buang air besar di kebun dan di halaman rumah akan beresiko terinfeksi kecacingan dibanding anak yang mempunyai kebiasaan buang air besar di jamban. Telur cacing yang matang dapat mencemari tanah atau air limbah dan menginfeksi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari beberapa pernyataan tersebut di atas peneliti bisa menyimpulkan bahwa pembuangan tinja di jamban akan memutus rantai penularan penyakit kecacingan.

Lantai rumah
Masih menurut Machfoedz (2008), beberapa persyaratan fisik rumah sehat, diantaranya yaitu kontruksi rumah harus kuat dan baik, terutama lantai rumah. Hal ini disebabkan karena banyak penyakit dapat ditularkan melalui media tanah, salah satunya penyakit kecacingan pada anak  Menurut Depkes R.I (2006), penyebaran penyakit kecacingan dapat melalui kontaminasi tanah dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura.

Telur diatas dapat tumbuh dalam tanah liat yang lembab dan tanah dengan suhu optimal ± 30°C. Menurut Gandahusada dkk (2004), tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25°C- 30°C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi bentuk infektif Pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28°C-32°C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23°C-25°C.

Ketersediaan air bersih
Pengertian umum air bersih, merupakan air yang digunakan untuk keperluan sehari hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.  Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya syarat fisik (tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna), syarat kimia (kadar besi, maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, kesadahan, maks 500 mg/l, syarat mikrobiologis (koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air).

Sebagaimana kita ketahui, air dapat dapat berperan sebagai faktor utama dalam berbagai penularan jenis penyakit seperti thypus,dysentery, diare, kholera dan kecacingan. Menurut Gandahusada dkk (2004), terpenuhinya kebutuhan air sehari-hari (seperti untuk keperluan aie bersih di jamban, untuk mandi dan cuci tangan secara teratur), merupakan upaya pengendalian penyakit kecacingan. Pendapat senada dikemukakan Sadjimin (2000), bahwa infeksi kecacingan pada manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tidak terdapatnya air bersih dan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Sarana pembuangan sampah

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik, seperti menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sampah dapat berpengaruh negatif terhadap dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara.
Sampah dapat menjadi sarang vektor-vektor penyakit seperti lalat, kecoak dan binatang-binatang lain yang senang berkembang biak di dalam sampah padat yang kotor terutama cacing-cacing tertentu yang bisa membahayakan kesehatan seperti cacing cambuk dan cacing gelang. Pengelolaan sampah yang paling sederhana dengan cara dikumpulkan kemudian dibuang kelubang khusus sampah setelah penuh baru ditimbun dengan tanah, dibuang ke tempat sampah keluarga dan ada juga yang kemudian diambil tukang sampah untuk dikirim ke tempat pembuangan sampah umum. Peneliti berpendapat bahwa pengelolaan sampah yang baik (tempat sampah yang tertutup) dapat mencegah rantai penularan penyakit kecacingan oleh vektor biologis (lalat dan kecoa).

Sarana pembungan air limbah

Limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan genangan dan mencemari lingkungan, disamping tidak baik dari aspek estetika juga dapat menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit. Menurut Machfoedz (2008), air limbah rumah tangga sebaiknya di buang ke dalam tanah dengan membuat resapan di halaman atau tempat lain di sekitar rumah, yang syaratnya paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur. Sementara menurut Notoatmojo (2007), pengelolaan air limbah bertujuan agar tidak mencemari badan air, tanah, dan lingkungan. Air limbah banyak mengandung bibit penyakit, sehingga pengolahan air limbah perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran air limbah dilingkungan. Pencemaran limbah di lingkungan menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit kecacingan. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang

Kebersihan halaman rumah.
Menurut Depkes RI (2006), penyakit kecacingan pada anak disebabkan karena kondisi lingkungan yang jelek seperti halaman rumah yang kotor sebagai tempat bermain anak, merupakan sumber penularan penyakit kecacingan. Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah yaitu cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang. Mengingat penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan, salah satu cara pengendaliannya perlu peningkatan kualitas sanitasi lingkungan terutama kebersihan halaman rumah.

Sosial ekonomi

Semakin rendah tingkat kemiskinan masyarakatnya maka akan semakin berpeluang untuk mengalami infeksi kecacingan. Hal ini dihubungkan dengan kemampuan dalam menjaga personal higiene dan sanitasi lingkungan tempat tinggalnya. Jumlah prevalensi tertinggi penyakit kecacingan ditemukan di daerah pinggiran atau pedesaan yang masyarakatnya sebagian besar masih hidup dalam kekurangan (Hotez,2008).

Perilaku
Beberapa Perilaku buruk yang menyebabkan infeksi kecacingan antara lain membuang tinja sembarang tempat, tidak mengelola makanan dan minuman secara bersih dan sehat, tidak mencuci tangan sebelum makan, dan tidak memakai alas kaki bila keluar rumah. Menurut Achmadi (2005), perilaku penduduk berhubungan dengan lingkungan bisa menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit. Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan penduduk berikut perilakunya, dapat diukur dalam konsep perilaku pejamu. Perilaku pejamu adalah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya penyakit. Komponen lingkungan yang mengandung potensi penyakit dapat digambarkan sebagai berikut: seorang anak mempunyai perilaku tidak menggunakan alas kaki waktu bermain dan keluar rumah, bila dalam lingkungan tersebut ada bibit penyakit (parasit cacing), kemungkinan akan terinfeksi penyakit kecacingan. Perilaku hidup tidak sehat seperti ini dapat disebut sebagai faktor risiko kesehatan.


Referensi, antara lain:
  • Depkes RI, 2006. Pedoman Pengendalian Cacingan, Keputusan Menteri Kesehatan No.424/Menkes/SK/VI/2006.
  • Gandahusada S, dkk, 2004. Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran UI
  • Machfoedz, Ircham, 2008. Menjaga Kesehatan Rumah dari Berbagai Penyakit, Fitramaya
  • Achmadi, U. F, 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Penerbit Buku Kompas.
  • Notoatmojo, Soekijo, 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan seni. Rineka Cipta.
  • Hotez P, 2008. Hookworm and Poverty, Department of Microbiology, Immunology and Tropical Medicine, The George Washington University
4:56 PM | 0 comments | Read More

Jenis Obat Anti Nyamuk

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, December 12, 2013 | 4:28 PM

Yang Perlu Kita Ketahui Tentang Obat Anti Nyamuk Aerosol, Bakar dan Elektrik

Penggunaan insektisida rumah tangga yang bersifat terus menerus dan dilakukan di dalam ruangan (indoor) berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena akumulasi bahan aktif insektisida.

Beberapa jenis insektisida anti nyamuk yang umum kita ketahui, antara lain berbentuk aerosol, bakar dan elektrik. Anti nyamuk yang masuk dalam kelompok anti nyamuk elektrik meliputi anti nyamuk lempengan (mats), uap cair yang berbentuk liquid dan juga minyak, termasuk semua produk yang membutuhkan panas elektrik untuk dapat mengevaporasikan bahan aktif insektisida dari bentuk dasarnya. Anti nyamuk dalam kelompok elektrik biasanya sudah diproduksi sepasang yaitu heater dan refill-nya. Bahan aktif yang digunakan umunya adalah Pyrethroid.

Terdapat beberapa tips sederhana untuk mengurangi dampak pencemaran penggunaan anti nyamuk ini. Secara umum hal-hal yang harus diperhatikan antara lain
  1. Menjauhkan insectisida anti nyamuk ini dari jangkauan anak
  2. Tidak menyimpan insectisida anti nyamuk bersama makanan dan sayuran
  3. Selalu mencuci tangan setelah menyentuh anti nyamuk
  4. Tidak menutup pemanasnya
  5. Tidak merusak lapisan transparan dibawah aluminium foil
  6. Tidak mencuci heater dengan air
  7. Menghindari penumpukan kotoran dan debu pada pemanas
  8. Tidak membuka botol yang sudah kosong.
Anti Nyamuk Aerosol
Jenis anti nyamuk aerosol didesain untuk mampu mengeluarkan insektisida dalam bentuk droplet kecil ke udara sehingga dapat membunuh serangga terbang seperti nyamuk dan lalat.

Anti Nyamuk Bakar

Anti nyamuk bakar biasanya berbentuk pipih menyerupai spiral yang melingkar. Cara penggunaannya dengan memberikan api untuk meningkatkan temperatur dari massa anti nyamuk itu sendiri. Dengan terjadinya peningkatan suhu, menyebabkab anti nyamuk mengeluarkan asap. Asap yang dikeluarkan mengandung bahan aktif insektisida dalam bentuk gas, sehingga bila terhirup nyamuk akan menyebabkan keracunan dan mati.

Anti nyamuk lempengan (mats vaporizer)
Bahan aktif diletakkan di dalam cardboard mats yang dicelup dalam larutan (pre- solution) dan ditutup packaging material bertujuan untuk evaporasi bahan aktif. Bahan aktif diberikan formulasi tambahan pelindu ng dekomposisi, penghambat evaporasi cepat, parfu m, bahan pencelup dan larutan hidrokarbon. Anti nyamuk mats digunakan dengan heater pada suhu 1400 C - 1900 C dengan perlindungan selama lebih kurang 8 jam. Anti nyamuk ini didesain untuk ruangan dan memiliki sifat menolak dan membunuh nyamuk.

Agar diperoleh hasil optimum, beberapa pertimbangan teknis penggunaan antara lain dengan menghindarkannya dari hembusan angin dalam ruang serta dari jendela dan pintu yang terbuka lebar.

Anti nyamuk uap cair elektrik (liquid vaporizer)
Jenis anti nyamuk ini memerlukan pemanasan elektrik untuk bisa menguapkan bahan aktif dalam bentuk cair minyak. Tempat yang digunakan pada umumnya adalah berupa botol. Pemanasan yang dibutuhkan mencapai 1250 C. Botol dapat dilakukan refill sendiri oleh pemiliknya. Bahan aktif yang biasa digunakan adalah Pyrethroid. Penggunaan di ruang terbuka dan dalam kondisi angin yang kencang akan mengurangi efektifitasnya dalam mengendalikan nyamuk

Anti nyamuk membran elektrik/tissu
Jenis anti nyamuk yang berbentuk tisu merupakan bentuk terbaru insektisida rumah tangga. Bahan aktif yang digunakan dalam bentuk gel yang diletakkan dalam aluminium foil, kemudian ditutup dengan plastik untuk mengurangi evaporasi yang terlalu cepat. Bahan aktif yang dimasukkan biasanya dapat digunakan hingga 45 hari (paling efektif pada 30 menit pertama).

Refference, antara lain: WHO, 1999, Safe and Effectife Use of Household Insecticide Products, WHOPES.
4:28 PM | 0 comments | Read More

Dampak Kesehatan Anti Nyamuk Bakar

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, December 2, 2013 | 4:29 PM

Risiko Kesehatan Penggunaan Anti Nyamuk Bakar

Menurut WHO (2005), penggunaan insektisida rumah tangga yang bersifat terus menerus dan dilakukan di dalam ruangan (indoor) berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena akumulasi bahan aktif insektisida. Sebagian besar insektisida rumah tangga saat ini berbahan aktif pyrethroid. Senyawa ini mempunyai toksisitas akut yang rendah pada manusia namun bila tertelan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan dan kematian.

Pada industri insektisida rumah tangga, penggunaan anti nyamuk bakar (obat nyamuk bakar) merupakan salah satu bentuk insektisida anti nyamuk dengan formulasi tertua. Anti nyamuk bakar terdiri dari beberapa bahan dasar antara lain tepung kayu, kanji, bubuk batang kelapa, bahan pencelup. Sedangkan lem, pengatur pembakaran, serta insektisida yang digunakan pada umumnya dalam dosis rendah. Sementara bahan aktif yang digunakan biasanya dari bahan pirethrin alami dan phyrethroid yang tidak persisten di alam. Sangat tidak direkomendasikan penggunaan bahan aktif dari organoklorin, karena sudah terbukti berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menurut WHO (1999), anti nyamuk bakar biasanya bentuknya pipih menyerupai spiral yang melingkar. Cara penggunaannya dengan memberikan api untuk meningkatkan temperatur dari massa anti nyamuk itu sendiri. Dengan terjadinya peningkatan suhu, menyebabkab anti nyamuk mengeluarkan asap. Asap yang dikeluarkan mengandung bahan aktif insektisida dalam bentuk gas, sehingga bila terhirup nyamuk akan menyebabkan keracunan dan mati.

Kelebihan anti nyamuk bakar diantaranya pada kecepatan efek knockdown pada serangga. Namun kelemahan anti nyamuk bakar pada dihasilkannya asap dan bau yang tajam, serta risiko terjadinya kebakaran rumah. Hal ini dapat terjadi misalnya karena terjadinya kebakaran kasur tempat tidur, karena kurang hati-hati dalam meletakkan obat nyamuk bakar.

Menurut laporan university of California riverside (Indrosancoyo, 2008), anti nyamuk bakar di Indonesia mengandung S2 (Octachlorodiphropyl eter), yang merupakan penyebab kuat kanker paru-paru. Namun saat ini penggunaan S2 di Indonesia sudah dilarang.

Refference, antara lain : Indrosancoyo A.W. 2008. Formulasi Pestisida Rumah Tangga : dalam Seminar Nasional : Alternatif Pengendalian Vektor Penyakit. Tahija Foundation. Yogyakarta; WHO, 2005, Safety of Pyrethroids of Public Health Use, WHOPES; WHO, 1999, Safe and Effectife Use of Household Insecticide Products, WHOPES.
4:29 PM | 0 comments | Read More

Paradigma Kesehatan Lingkungan

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, November 18, 2013 | 7:11 PM

Sanitasi Lingkungan Paradigma Kesehatan Lingkungan

Berdasarkan teori HL Blum, faktor lingkungan mempunyai pengaruh paling dominan terhadap derajat kesehatan seseorang.  Menurut Suyono & Budiman (2010), paradigma Blum tentang status kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Keempat faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dan faktor yang paling berhubungan dengan status kesehatan adalah faktor lingkungan.

Faktor lingkungan tersebuat dapat berasal dari lingkungan pemukiman, lingkungan sosial, lingkungan rekreasi, atau lingkungan kerja. Pengertian lingkungan amat luas, namun kesehatan lingkungan lebih menitikberatkan kepada lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit. Terkait dengan hal ini, salah satu aplikasi pemahaman dapat kita mukai dari proses kejadian penyakit atau patogenesis penyakit. Patogenesis penyakit dan pengaruh lingkungan dapat dipelajari pada disiplin ilmu kesehatan lingkungan. Menurut Ahmadi (2008), ilmu kesehatan lingkungan mempelajari hubungan interaktif antara komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit dengan berbagai variabel kependudukan seperti perilaku, pendidikan dan umur. Ilmu ini juga memiliki metode, baik itu pengukuran maupun solusi masalah yang ditimbulkan.


Hubungan interaktif antara manusia serta perilakunya dengan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit, dikenal juga sebagai proses kejadian penyakit (pathogenesis). Penyakit memiliki potogenesis sendiri-sendiri. Patogenesis penyakit dalam perspektif lingkungan dan variabel kependudukan dapat diuraikan dalam 4 simpul, yaitu: simpul 1: sumber penyakit; simpul 2: komponen lingkungan yang merupakan media transmisi penyakit; simpul 3: penduduk dengan berbagai variabel kependudukan seperti pendidikan, perilaku, kepadatan, gender, sedangkan simpul 4: penduduk yang dalam keadaan sehat atau sakit setelah mengalami interaksi atau exposure dengan komponen lingkungan yang mengandung agent penyakit.

Titik simpul pada dasarnya menuntun kita sebagai simpul manajemen. Untuk mencegah penyakit tertentu tidak perlu menunggu hingga simpul 4 terjadi. Dengan mengendalikan sumber penyakit, kita dapat mencegah sebuah proses kejadian hingga simpul 3 atau 4.

Sementara pengertian sanitasi lingkungan menurut Entjang (2001), merupakan upaya pengawasan fisik, biologis, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan.

Refference, antara lain : Achmadi U.F, 2008.  Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, UI Press; Suyono & Budiman, 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam Konteks Kesehatan Lingkungan. EGC; Entjang, I., 2001. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Citra Aditya Bakti
7:11 PM | 0 comments | Read More

Karakteristik Air Limbah Domestik

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, November 11, 2013 | 4:42 PM

Sumber dan Komposisi Air Limbah Rumah Tangga

Beberapa pengertian air limbah, antara lain menurut Djabu (1990), adalah air yang bercampur zat padat (dissolved dan suspended) yang berasal dari kegiatan rumah tangga, pertanian, perdagangan dan industri. Hal senada disampaikan Ehless dan Steel, air limbah adalah cairan buangan dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lain yang mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kehidupan manusia maupun makhluk hidup lain serta mengganggu kelestarian lingkungan.  Sementara air air limbah domestik, menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah merupakan air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman (real estate), rumah makan (restaurant), perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama.

Sumber Air Limbah
Air limbah bersumber dari kegiatan domestik, industri serta rembesan dan tambahan. Sementara menurut Sugiharto (1987), sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan dan daerah perdagangan.

Komposisi Air Limbah
Komposisi air limbah sebagian besar terdiri dari air (99,9%) sedangkan sisanya terdiri dari partikel-partikel padat terlarut (dissolved solid) dan tersuspensi (suspended solid) sebesar 0,1%. Partikel padat tersebut terdiri dari zat organik ± 70% dan ± 30% zat anorganik. Zatzat rganik ini terdiri dari protein ± 65%, karbohidrat ± 25% dan lemak ± 10% Zat-zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (biodegradable) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi bakteri dan mikroorganisme lain. Sedangkan zat-zat anorganik terdiri dari grit (kerikil), salt (garam) dan metal (logam berat). Zat-zat ini merupakan bahan pencemar penting.

Refference, antara lain: Djabu, U, Kusmantoro, H ,dkk, (1990). Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja dan Air Limbah, Pusdiknakes Depkes RI.
4:42 PM | 0 comments | Read More

Dampak Limbah pada Lingkungan

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, November 6, 2013 | 3:47 PM

Pengaruh Limbah Cair terhadap Kesehatan dan Lingkungan

Sesuai Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, maka diperlukan berbagai usaha untuk melakukan pengamanan limbah cair. Limbah
yang tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan maupun kesehatan.

Dampak air limbah pada kesehatan, diantaranya  karena air limbah dapat berperan sebagai media penularan penyakit, seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis, serta schistomiasis. Selain sebagai media,  dalam air limbah itu sendiri banyak terdapat bakteri pathogen penyebab penyakit, mengandung bahan-bahan beracun, penyebab iritasi, bau, juga bahan-¬bahan lain yang mudah terbakar.

Salah satu dampak buruk limbah cair bagi kesehatan dan lingkungan, diantaranya menurut Alloway (1990), limbah cair yang mengandung bahan berbahaya seperti logam berat, jika terserap akar tanaman akan terserap kedalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya akan masuk kedalam siklus rantai makanan. Hal ini sesuai Stowsand (1986), bahwa tanaman, seperti sayuran mempunyai kemampuan menyerap logam berat.

Air limbah yang mengandung mikroorganisme dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti ascariasis, cholera, cacingan, leptospirosis, dan lain lain. Disamping itu air limbah yang mengandung bahan kimia juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan (Djabu, 1994). Sementara menurut Chandra (2006), air limbah yang tidak diolah dengan benar dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, seperti kontaminasi dan pencemaran pada air permukaan dan badan-badan air, mengganngu biota air, mematikan hewan dan tumbuhan air, menimbulkan bau (sebagai hasil dekomposisi zat anaerobik dan zat anorganik). Juga menghasilkan lumpur yang mengakibatkan pendangkalan yang berpotensi menimbulkan banjir.

Zat pencemar dalam air limbah, juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut dalam air. Hal ini menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan terganggu, sehingga menimbulkan gangguan terhadap kehidupan biotik. Selain itu kematian organisme dalam air dapat juga disebabkan karena adanya zat beracun dalam air limbah tersebut. Zat ini menyebabkan terjadinya kematian bakteri, sehingga menghambat proses penjernihan sendiri (self purification) air limbah. Disamping itu, kehidupan di dalam air juga dapat terganggu dengan adanya pengaruh fisik seperti temperatur tinggi pada limbah industri, yang menyebabkan kematian organisme apabila tidak dikelola lebih dahulu sebelum di buang ke lingkungan.

Air limbah juga dapat berdampak pada keindahan. beberapa industri menghasilkanbuangan air limbah bahan-bahan organik dalam jumlah besar. Proses pengendapan harus dilakukan pada limbah organik ini, sebelum dibuang ke lingkungan. Proses pembusukan pada pengendapan ini memerlukan waktu lama dan tempat luas, serta menimbulkan bau sebagai hasil penguraian zat organic. Kondisi ini berpotensi mengganggu keindahan lingkungan sekitar.

Air limbah juga dapat menimbulkan gangguan terhadap kerusakan benda. Kandungan karbondioksida agresif pada air limbah akan mempercepat proses terjadinya karat pada benda yang terbuat dari besi. Kondisi ini dapat menyebabkan pada meningkatkan biaya pemeliharaannya dan menimbulkan kerugian material. Selain itu air limbah dengan karakteristik pH rendah atau tinggi, juga dapat mengakibatkan timbulnya kerusakan pada benda-benda yang dilaluinya.

Refference, antara lain : Djabu, U, Kusmantoro, H ,dkk, (1990). Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja dan Air Limbah, Pusdiknakes Depkes RI; Chandra, B, 2006.  Pengantar Kesehatan Lingkungan, Buku Kedokteran FGC.
3:47 PM | 0 comments | Read More

Metode Sederhana Memperbaiki Kualitas Air Bersih

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, October 16, 2013 | 5:06 PM

Aerasi dan Saringan Sederhana sebagai Metode Meningkatkan Kualitas Air Tanah

Air tanah merupakan sumber air bersih yang paling banyak digunakan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di pedesaaan. Agar air tanah selalu  aman digunakan, maka sumber air tanah harus terhindar dari pencemaran, seperti jamban, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan limbah/ air bekas, kotoran ternak, dan lainnya. Namun kondisi air tanah yag dikonsumsi masyarakat, seringkali tidak sesuai dengan harapan. Untuk meningkatkan kualitas air tanah yang dihasilkan, perlu dilakukan perbaikan kualitas baik secara kimiawi maupun bakteriologis. Berikut beberapa metode perbaikan tersebut, yaitu dengan Aerasi dan Saringan Sederhana

Aerasi
Menurut Said (2005), aerasi merupakan proses penambahan konsentrasi oksigen yang terkandung dalam air. Proses ini memerlukan alat aerator, yang merupakan alat untuk mengontakkan oksigen dari udara dengan air agar zat besi yang ada didalam air sumur dapat bereaksi dengan oksigen dan membentuk senyawa ferri (Fe3+) yang tidak larut dalam air. Kecepatan oksidasi Fe dipengaruhi oleh pH air, makin tinggi pH air maka kecepatan oksidasi juga semakin cepat. Selain untuk menurunkan kadar besi dan mangan aerasi dapat menurunkan tingkat kekeruhan, dapat memperbaiki derajat keasaman, dapat memperbaiki rasa dan warna pada air yang kurang atau tidak memenuhi syarat secara fisik, memberikan rasa segar pada air dan mengurangi bau pada air.

Secara garis besar, proses aerasi dilakukan dengan menampung air baku pada suatu tempat,  selanjutnya air dialirkan melalui pipa yang digunakan sebagai alat pembagi aliran yang diletakkan tepat di atas aerator pertama yang akan jatuh pada tray kedua dan seterusnya sampai aerator yang terakhir, selanjutnya dilakukan proses pengendapan selama 30 sampai 60 menit, Fe yang sudah tidak larut dalam air ini dengan adanya gaya grafitasi akan mengendap sehingga diharapkan pada tahap ini kadar Fe sudah turun.

Terdapat beberapa cara untuk menambahkan oksigen kedalam air:
  1. Memasukan udara kedalam air, dengan menggunakan nozzle yang diletakkan dibagian tengah sehingga meningkatkan kecepatan kontak gelembung udara dengan air. Biasanya pipa ini diletakkan pada bagian dasar bak aerasi.
  2. Memaksa air keatas untuk kontak dengan oksigen, melalui baling- baling yang diletakkan dipermukaan air.
  3. Menyebarkan air dengan udara diatas lempengan tipis, melalui tetesan air kecil, atau mencampur air dengan gelembung-gelembung udara.
  4. Mengontakkan air dengan udara melalui proses terjunan bertahap.

Saringan Sederhana
Metode ini dilakukan dengan cara membuang padatan dan kandungan bahan kimia atau biologi yang terdapat dalam air. Tahap proses pengolahan dilakukan secara fisika (pengendapan, penyaringan, absorbsi dan adsorbsi), dan secara mekanis dengan berbagai bahan alami yang efektif sebagai media filtrasi (seperti kerikil, pasir, ijuk, arang batok kelapa).

Sementara proses penyaringan terdiri dari beberapa tahap, sebagai berikut :
  1. Koagulasi, merupakan proses pembubuhan bahan kimia kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan tersuspensi (seperti zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain) dapat menggumpal dan cepat mengendap. Cara yang paling mudah dan murah adalah dengan membubuhkan tawas dalam tandon air.
  2. Pengendapan kotoran terjadi karena pembentukan alumunium hidroksida/Al (OH)3, berupa partikel padat yang akan menarik partikel-partikel kotoran sehingga menggumpal menjadi besar dan berat dan yang pada akhirnya dapat mengendap. Sementara prosedur pembubuhan tawas dilakukan dengan cara antara lain :  a). sejumlah tawas dilarutkan dalam air kemudian dimasukkan kedalam air baku lalu; b). dilakukan pengadukan cepat ± 2menit hingga merata; c).. Setelah itu kecepatan pengadukkan dikurangi sedemikian rupa sehingga terbentuk gumpalan-gumpalan kotoran akibat bergabungnya kotoran tersuspensi yang ada dalam air baku. Setelah itu dibiarkan beberapa saat sehingga gumpalan kotoran (flok) menjadi besar/berat sehingga cepat mengendap.
  3. Setelah proses koagulasi, air didiamkan (± 45 - 60 menit). sehingga gumpalan kotoran yang mengendap semua, sehingga air tampak lebih jernih. Endapan yang terkumpul didasar tangki dapat dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki.
  4. Setelah proses pengendapan diatas, masih terdapat butiran gumpalan kotoran berukuran kecil dan ringan yang masih melayang-layang dalam air. Terhadap kotoran ini dilakukan penyaringan  dengan cara mengalirkan air ke bak penyaring saringan pasir.
Referensi: Said, N.I. (2005), Metode praktis menghilangkan Zat Besi dan mangan didalam Air Minum Kelompok Teknologi Pengolahan Air Bersih dan Limbah Cair Direktorat Teknologi Lingkungan.
5:06 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik