Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Survey Jentik Nyamuk

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, October 20, 2014 | 10:25 PM

Prosedur Pengambilan Sampel Jentik Nyamuk

Pengambilan sampel jentik nyamuk antara lain bertujuan  untuk mengetahui habitat perkembangbiakan jentik nyamuk. Sebagaimana kita ketahui, beberapa habitat nyamuk umumnya berupa genangan air (kontainer, parit, rawa, kolam, dan lainnya).Alat dan metode pengambilan berikut digunakan untuk pengambilan sampel jentik Anopheles sp.

Alat Pengambilan Jentik
  1. Alat pengambil jentik/gayung (dipper)
  2. Lampu senter
  3. Pipet
  4. Botol kecil (via bottle)
  5. Kertas label
  6. Alkohol 70 %
  7. Alat tulis
  8. Mikroskop
  9. Kaca benda dan penutupnya
  10. Formulir survei jentik
  11. Kasa untuk pemeliharaan jentik untuk menjadi nyamuk
  12. Mangkuk aluminium

Cara Pengambilan Jentik
  1. Disesuaikan dengan karakteristik jentik (Seperti Anopheles sp, posisi jentik biasanya sejajar dengan permukaan air)
  2. Pada saat penangkapan, gayung hanya dimasukkan sebagian saja ke dalam air dengan mulut gayung miring kira-kira 450
  3. Setelah Jentik dan air akan masuk ke dalam gayung, dengan menggunakan pipet, jentik dikumpulkan ke dalam botol kecil (via bottle )
  4. Catat informasi tempat perindukan (lokasi, jarak dari rumah, kepadatan larva serta karakteristiknya menurut faktor biotik (flora dan fauna) dan abiotik (tipe perairan, kedalaman, suhu, kelembaban, kejernihan dan bau / rasa.).
  5. Larva yang tertangkap dipelihara (kolonisasi) untuk identifikasi.
  6. Kepadatan larva diukur dengan menghitung jumlah cidukan gayung/jumlah larva tertangkap (larva/gayung)
  7. Larva yang tertangkap sebagian digunakan untuk identifikasi, untuk memastikan larva Anopheles sp atau bukan, dan  sebagian lagi dipelihara agar berkembang menjadi nyamuk yang selanjutnya digunakan untuk identifikasi species.
Pemeliharaan pupa/jentik untuk identifikasi species
  1. Pupa yang sudah terkumpul, diambil dengan pipet atau sendok
  2. Kemudian pupa dimasukkan dalam mangkuk alumunium yang diisi air 2/3 volume mangkuk
  3. Selanjutnya dimasukkan kedalam kurungan pemeliharaan nyamuk
  4. Setelah nyamuk dewasa dimatikan dengan clorofom
  5. Kemudian nyamuk disusun diatas petridish dengan alas tisu (dibawahnya diberi taburan kapur barus)
  6. Nyamuk siap dikirim untuk diidentifikasi.
Identifikasi larva / jentik Anopheles sp
Sebagai bahan identifikas, beberapa hal berikut dapat menjadi referensi:
  1. Jentik Anopheles sp pada ruas-ruas abdomen mempunyai sepasang bulu kipas, bukan Anopheles sp tidak ada bulu kipas
  2. Di ruas-ruas abdomen mempunyai utar-utar (tergel parte) bukan Anopheles sp tidak ada utar-utar
  3. Anopheles sp dibagian ujung abdomen tak mempunyai tabung udara (siphon), sedangkan bukan Anopheles sp memilikinya
  4. Posisi istirahat jentik Anopheles sp sejajar dengan permukaan air, sedangkan jika bukan jentik Anopheles sp posisi istirahat menyudut dengan permukaan air.

Refference, antara lain:
  1. Depkes RI. Survei Entomologi Malaria. Dirjen PPM & PL. 1990.
  2. Depkes RI. Malaria Epidemiologi I. Dirjen PPM & PL. 1993.

10:25 PM | 0 comments | Read More

Standar Pengambilan Sampel Makanan

Standar Pemeriksaan Makanan Di Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)

Sebelum dilakukan pengambilan sampel makanan di TPM, terlebih dahulu dilakukan inspeksi sanitasi pada TPM menggunakan checklist inspeksi sanitasi Tempat Pengelolan Makanan. Standar waktu yang diperlukan adalah 1 jam untuk pengambilan sampel serta  5 hari untuk pemeriksaan laboratorium. Sedangkan Prosedur Pelaksanaan kegiatan sebagai berikut:
  1. Petugas datang ke TPM
  2. Dilakukan penilaian TPM menggunakan checklist inspeksi sanitasi TPM
  3. Dilakukan pengambilan sampel makanan berdasarkan jenisnya menggunakan pincet dan sendok steril, kemudian dimasukkan dalam plastik steril.
  4. Plastik sampel makanan diberi etiket yang berisi informasi berikut: -    Jenis Sarana; -Jenis pemeriksaan; - Lokasi pengambilan; -Jam pengambilan, -Tanggal pengambilan; -    Petugas pengambil; -    pH; - Suhu
  5. Sampel makanan dimasukkan termos dan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan uji lab.
  6. Berdasarkan hasil uji lab diberikan rekomendasi/umpan balik kepada penanggung jawab TPM serta digunakan sebagai bahan rekomendasi dan evaluasi di tingkat Kabupaten.
Peralatan yang digunakan pada pengambilan sampel makanan antara lain terdiri dari Checklist inspeksi sanitasi TPM, Alat tulis, Pincet, Plastik Steril, dan Termos.

Beberapa dasar hukum yang digunakan sebagai acuan dalam Pelayanan Pemeriksaan Makanan di Tempat Pengelolaan Makanan (TPM), antara lain:
  1. Kep. Menkes 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Kesehatan Rumah Makan dan Restoran
  2. Kep. Menkes 715/Menkes/SK/XI/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasa Boga
  3. Permenkes RI Nomor 80/Menkes/PER/II/1990 tentang Persyaratan Kesehatan Hotel (beserta keputusan Dirjen PPM & PL pendukung)
  4. Peraturan Menteri Kesehatan  No 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang persyaratan kualitas air berish
  5. Peraturan Menteri Kesehatan No 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum
7:30 AM | 0 comments | Read More

Waterborne Disease

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, August 14, 2014 | 2:11 AM

Hubungan Air dengan Penularan Penyakit dan Masalah Kesehatan

Pengertian water borne disease secara prinsip merupakan penyakit yang ditularkan melalui air yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen. Frekwensi terbanyak penyakit ini ditularkan pada air tawar yang terkontaminasi. Infeksi umumnya didapatkan ketika melakukan kegiatan seperti selama mandi, mencuci, minum, pengolahan  makanan, atau pada saat mengkonsumsi makanan. Kejadian paling menonjol adalah timbulnya penyakit diare yang ditularkan melalui air.

Macam-macam sumber air yang dipergunakan oleh masyarakat di Indonesia yaitu air permukaan, adalah air yang terdapat pada permukaan tanah, misalnya air sungai, air rawa dan air danau. Air tanah yang tergantung kedalamannya bisa di sebut air tanah dangkal atau air tanah dalam. Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir seperti hujan dan salju (Slamet, 2009).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah: mengambil air dari sumber yang bersih, mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air, memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan sumber pengotoran seperti septictank, tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter, menggunakan air minum yang direbus, mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai risiko menderita diare lebih kecil bila dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih (Andrianto, 1995).

Sebagai tindakan monitoring dan deteksi dini terhadap potensi pencemaran terhadap sumber air bersih, dilakukan kegiatan inspeksi sanitasi. Risiko pencemaran sumber air merupakan kualifikasi penilaian terhadap keadaan sumber air bersih yang digunakan penduduk terhadap kemungkinan kontaminasi kotoran atau pencemaran air. Pencemaran air dapat berasal dari kondisi sekitar sumber air bersih seperti kontaminasi tinja, sampah, air limbah maupun kotoran hewan. Pencemaran air dapat juga berasal kondisi konstruksi sumber air bersih serta cara pengambilan air.

Sebagaimana kita ketahui, keberadaan air di dalam tubuh manusia, berkisar antara 50-70% dari seluruh berat badan yang tersebar di seluruh bagian tubuh. Pentingnya air bagi kesehatan dapat dilihat dari jumlah air dalam tubuh dimana apabila terjadi kehilangan air 15% dari berat badan dapat mengakibatkan kematian. Karena itu orang dewasa perlu minum paling sedikit 1,5-2 liter air per hari.

Selain untuk kebutuhan minum, air juga merupakan kebutuhan dasar manusia dalam melangsungkan aktivitas sehari-hari seperti memasak, mandi, mencuci, kakus serta aktivitas kebersihan rumah tangga lainnya. Banyaknya air yang digunakan untuk kegiatan di dalam masyarakat sangat bervariasi, dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas air, sosial ekonomi masyarakat, harga air, iklim daerah serta karakteristik penduduk.

Istilah water borne disease terutama dimaksudkan untuk jenis infeksi yang terutama ditularkan melalui kontak  atau mengkonsumsi air yang terinfeksi. Namun istilah ini juga dapat merujuk pada penyakit seperti malaria atau DHF sebagai "waterborne" terutama karena nyamuk memiliki fase air dalam siklus hidup mereka. Sedangkan mikroorganisme yang secara spesifik menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air diantaranya protozoa dan bakteri, banyak parasit usus, atau menyerang jaringan atau sistem peredaran darah melalui dinding saluran pencernaan. Berbagai penyakit ditularkan melalui air lainnya disebabkan oleh virus, parasit metazoan, nematoda tertentu, dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut Chandra (2007), penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air berdasarkan cara penularannya ada beberapa kelompok. Mekanisme penularan penyakit terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:

Waterborne mechanism : Adalah kuman patogen dalam air yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia ditularkan kepada manusia melalui mulut atau system pencernaan. Seperti : kolera, tifoid, hepatitis, disentri dan poliomyelitis. Watherwashed mechanism :Mekanisme penularan ini berkaitan dengan kebersihan umum dan perorangan. Pada mekanisme ini terdapat tiga cara penularan, yaitu:
  1. Infeksi melalui alat pencernaan, seperti diare pada anak-anak
  2. Infeksi melalui kulit dan mata, seperti scabies dan trachoma
  3. Penularan melalui binatang pengerat seperti pada penyakit leptospirosis 
Water-based mechanism : Penyakit yang ditularkan dengan mekanisme ini memiliki agens penyebab yang menjalani sebagian siklus hidupnya di dalam tubuh vektor atau sebagai intermediate host yang hidup di dalam air. Contohnya: skistosomiasis dan penyakit akibat Dracunculus medinensis

Wather-related insect vector mechanism :Agens penyakit ditularkan melalui gigitan serangga yang berkembang biak di dalam air. Contoh: filariasis, dengue, malaria dan yellow fever.

Sedangkan detail lain faktor penyebab, agent, sumber penularan, dan gejalam umum  waterborne disease sebagai berikut :

Parasitic infections

Bacterial infections

Viral infections

Protozoal infections


Sumber Pustaka,
antara lain  : Chandra, B., 2007, Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC; Wikidedia-Waterborne Disease
2:11 AM | 0 comments | Read More

Pedoman WHO Kualitas Udara dalam Ruangan

Pedoman WHO Untuk Kontrol Kualitas Udara dalam Ruangan, terkait Kelembaban dan Jamur

Terdapat sebuah pedoman yang dikeluarkan WHO terkait kontrol kualitas udara dalam ruangan (WHO guidelines for indoor air quality : dampness and mould). Pedoman ini menurut kami penting sebagai referensi tupoksi rekan-rekan Sanitarian, misalnya untuk melengkapi referensi penyehatan rumah. 

Berikut beberapa kuotasi yang diambilkan dari pedoman tersebut :

Sebagaimana diketahui, kita menghabiskan sebagian besar waktu, sepanjang hari, dalam ruangan : di rumah, kantor, sekolah, fasilitas kesehatan, atau tempat publik lainnya. Kualitas udara yang kita hirup di gedung-gedung merupakan faktor penentu penting dari kesehatan kita.

Polusi udara dalam ruangan karena faktor kelembaban, keberadaan mikroorganisme, merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Sekitar 1,5 juta kematian setiap tahun terkait dengan pembakaran bahan bakar padat dalam ruangan (seperti di dapur), yang sebagian besar terjadi di kalangan perempuan dan anak-anak di negara berpenghasilan rendah.

Pencemaran mikroba adalah elemen kunci terjadinya polusi udara dalam ruangan. Hal ini disebabkan oleh karena terdapat ribuan spesies bakteri dan jamur, tumbuh di dalam rumah ketika kelembaban optimal tersedia untuk pertumbuhan mereka.  Efek yang paling penting dari kondisi ini, berupa terjadinya peningkatan prevalensi gejala sakit pernafasan, alergi dan asma serta gangguan dari sistem kekebalan.

Cara yang paling penting untuk menghindari resiko yang merugikan kesehatan adalah pencegahan (atau minimisasi) kelembaban pada permukaan interior dan struktur bangunan, sehingga mampu meminimasi reseiko pertumbuhan mikroba.

Pengetahuan tentang kualitas udara dalam ruangan, dan kaitan eratnya dengan kesehatan serta faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas udara ruangan merupakan kunci untuk dipahami semua pihak, sehingga dapat diambil tindakan yang memungkinkan tindakan oleh pemangku kepentingan, termasuk pemilik bangunan, pengembang, pengguna dan penghuni - untuk menjaga udara dalam ruangan tetap bersih.

Pedoman WHO ini antara lain bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari risiko kesehatan akibat kelembaban, terkait dengan pertumbuhan mikroorganisme dan terjadinya kontaminasi dalam ruangan tertutup. Pedoman ini didasarkan pada tinjauan komprehensif dan evaluasi dari bukti ilmiah yang dikumpulkan oleh kelompok  ahli dari berbagai multidisiplin ilmu.

Masalah kualitas udara dalam ruangan diakui sebagai faktor risiko penting bagi kesehatan. Udara dalam ruangan juga penting karena populasi menghabiskan sebagian besar waktu di dalam bangunan.

Pencemaran mikroba melibatkan ratusan spesies bakteri dan jamur yang tumbuh di dalam ruangan ketika kelembaban cukup tersedia. Paparan mikroba kontaminan secara klinis dikaitkan dengan gejala penyakit pernapasan, alergi, asma dan reaksi imunologi .

Beberapa bukti menunjukkan peningkatan risiko rhinitis alergi dan asma. Beberapa studi intervensi juga menunjukkan bahwa perbaikan pada aspek kelembaban dapat mengurangi resiko kesehatan yang merugikan.

Setelah membaca pedoman ini, sesuatu yang mungkin tidak kita fokuskan selama ini, bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kelembanban dalam ruangan antara lain seperti kebocoran air, hujan, dan banjir, infiltrasi melalui selubung bangunan, bingkai logam pada jendela, pipa air berpendingin dari AC, dan lainnya. Kegiatan inspeksi yang teliti, jika memungkinkan diikuti pengukuran yang tepat dapat digunakan untuk mengkonfirmasi kelembaban ruangan dan pertumbuhan mikroba. Hubungan antara kelembaban, paparan mikroba dan efek kesehatan dapat diukur secara tepat.

Pedoman ini secara garis besar berisi beberapa detail topik penting berikut :

  1. Pedoman dan manajemen kualitas udara dalam ruangan
  2. Kelembaban Bangunan dan pengaruhnya terhadap eksposur dalam ruangan untuk polutan biologi dan non-biologis
  3. Frekuensi kelembaban dalam ruangan
  4. Pengaruh kelembaban pada kualitas lingkungan dalam ruangan
  5. Kelembaban yang terkait polutan dalam ruangan
  6. Kontrol  Kelembaban dan ventilasi
  7. Sumber kelembaban
  8. Jamur dan tungau sebagai indikator kualitas bangunan
  9. Peran ventilasi
  10. Sistem ventilasi
  11. Lingkungan eksternal dan sumber-sumber polusi yang berhubungan dengan ventilasi
  12. Ventilasi dan penyebaran kontaminan
  13. Kontrol terhadap kelembaban  dalam bangunan
  14. Langkah-langkah untuk melindungi kerusakan akibat kelembaban
  15. Efek  kesehatan yang berhubungan dengan kelembaban dan jamur
  16. Ulasan bukti epidemiologi
  17. Aspek Klinis pada  efek kesehatan
  18. Mekanisme Toksikologi
  19. Bukti terkait efek kesehatan
  20. Evaluasi terhadap risiko kesehatan pada manusia

Pedoman lengkap dapat rekan-rekan akses pada website WHO, dengan keyword sebagimana dimaksud. 
2:02 AM | 0 comments | Read More

Dampak Negatif Sampah Medis

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, February 20, 2014 | 7:48 PM

Dampak Negatif Sampah Rumah Sakit

Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan.7 Terkait dengan pengelolaan limbah rumah sakit, sudah diantaranya sudah diterbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Kebijakan ini penting dikeluarkan dan diterapkan, antara lain karena mengingat dampak negatif sampah medis pada sarana pelayanan kesehatan yang harus dikelola dengan baik.

Limbah rumah sakit dapat berbentuk buangan padat, cair, dan gas yang banyak mengandung kuman patogen, zat kimia beracun, zat radioaktif, dan zat lain- lain. Berbagai limbah dan buangan tersebut selain dapat menimbulkan masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat baik di rumah sakit maupun lingkungan sekitarnya.

Agen penyakit yang dihasilkan oleh kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit memasuki media lingkungan melalui air (air kotor dan air minum), udara, makanan, alat atau benda, serangga, tenaga kesehatan, dan media lainnya. Melalui media ini agen penyakit tersebut akan dapat ditularkan kepada kelompok masyarakat rumah sakit yang rentan, misalnya penderita yang dirawat atau yang berobat jalan, karyawan rumah sakit, pengunjung atau pengantar orang sakit, serta masyarakat di sekitar rumah sakit.

Berdasarkan hal tersebut penting dilakukan pengawasan dan pemantauan pada berbagai media diatas terhadap kemungkinan akan adanya kontaminasi agen penyakit yang dihasilkan. Sampah dan limbah medis harus dikelola pada keseluruhan tahapan yang dihasilkan, seperti pada tahap sampah dihasilkan sampai pembuangan akhir. Keberadaan sampah medis ini berpotensi dapat menurunkan kualitaas lingkungan serta menyebabkan dampak kesehatan masyarakat.

Beberapa dampak sampah medias antara lain dapat menurunkan kualitas lingkungan sehingga berpotensi menyebabkan masalah kesehatan, diantaranya dapat menyebabkan tingginya angka kepadatan vektor penyakit seperti nyamuk, kecoa, lalat, dan tikus. Juga dapat menimbulkan pencemaran terhadap tanah, udara, dan air, serta menrunkan derajat keindahan lingkungan.

Dampak lain sampah medis juga dapat berpotensi menimbulkan berkembangnya berbagai penyakit penyakit menular, seperti demam berdarah dengue, diare, penyakit kulit, penyakit demam typhoid, juga kecacingan,

Referensi, antara lain:
Adisasmito W. 2007.  Sistem manajemen lingkungan rumah sakit. PT Raja Grafindo Persada; 7 Depkes RI. 2001.  Pedoman pelaksanaan sanitasi lingkungan dalam pengendalian vector.
7:48 PM | 0 comments | Read More

Dampak Kesehatan dan Lingkungan Mercury

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, January 5, 2014 | 9:06 PM

Dampak dan Standar Air Raksa (Hg) Pada Air Bersih

Air Raksa atau mercury secara kimia merupakan unsur logam transisi yang berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar. Air raksa/merkuri sangat beracun, karena sifatnya yang sangat beracun, maka U.S. Food and Administration (FDA) menentukan pembakuan atau Nilai Ambang Batas kadar merkuri yang ada dalam jaringan tubuh badan air, yaitu sebesar 0,005 ppm.

Sebagaimna kita ketahui, Nilai Ambang Batas (NAB), merupakan suatu keadaan dimana suatu larutan kimia, dalam hal ini Air raksa/merkuri dianggap belum membahayakan bagi kesehatan manusia. Bila dalam air, kadar merkuri sudah melampaui Nilai Ambang Batas, maka air yang diperoleh dari tempat tertentu dinyatakan berbahaya.

Keberadaan mercury pada lingkungan perairan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh organisme air. Selain itu pencemaran perairan oleh air raksa/merkuri mempunyai pengaruh terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam sedimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap dan terakumulasil dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui proses bioaccumulation maupun biomagnifications yaitu melalui rantai makanan. Berikut tabel Beberapa kadar Hg yang diperbolehkan menurut peraturan pemerintah yang ada di Indonesia.

Menurut WHO, air raksa/merkuri di alam umumnya terdapat sebagai metil merkuri (CH3-Hg), yaitu bentuk senyawa organik dengan daya racun tinggi (diatas 0,005 ppm) dan sukar terurai dibandingkan zat asalnya. Air Raksa/Merkuri yang dapat diakumulasi adalah Air Raksa/Merkuri yang bentuk metil merkuri (CH3-Hg), yang mana dapat diakumulasi oleh ikan dan juga merupakan racun bagi manusia.

Metil merkuri (CH3-Hg), sangat mudah diserap tubuh melalui jalur pencernaan (+95% diserab oleh tubuh). Setelah seseorang makan ikan atau makanan lain yang terkontaminasi oleh Metil merkuri (CH3-Hg), maka Metil merkuri (CH3-Hg) akan masuk ke peredaran darah dengan mudah dan cepat tersebar ke seluruh jaringan tubuh. Hanya dalam jumlah kecil Metil merkuri (CH3-Hg), ke peredaran darah melalui kulit, tetapi bentuk lain Hg-organik yaitu dimethilmerkuri (CH3-Hg), dapat dengan cepat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

Berikut berbagai dampak merkuri pada kesehatan manusia maupun pada lingkungan (Priyanto, T. 2006) :

Dampak Merkuri Terhadap Manusia


Akibat keracunan akut merkuri (jangka waktu pendek dan kadar tinggi) untuk kesehatan manusia yaitu kerusakan sistem saraf pusat, kerusakan ginjal, kerusakan paru-paru, ekspos pada janin bayi dapat menimbulkan (cacat mental, buta), meningkatkan angka kematian. Gej ala yang harus diwaspadai yaitu Mati rasa atau rasa tertusuk jarum pada tangan, kaki, jari dan bibir, kulit merah/gatal, gangguan penglihatan. Ekspos Kronis (jangka panjang lama dan kadar rendah) dapat menyebabkan: Terhuyun-huyung, gagap, penglihatan berkurang, pendengaran terganggu, sakit gusi, kasus yang gawat dapat menyebabkan gemetar dan kejang, disusul oleh koma dan kematian. Dampak berbeda tergantung pada :

Jangka waktu terekspos: Dapat terlihat 10 tahun setelah terekspos. Ekspos (cara suatu bahan beracun masuk kedalam tubuh) ini terhadap Merkuri dapat terjadi melalui: menghirup udara yang terkontaminasi, mengkonsumsikan makanan dan minuman yang terkontaminasi, Absorpsi/penyerapan melalui kulit

Kadar merkuri: Gejala bertambah berat jika kadar tinggi. Standard yang ditetapkan badan-badan internasional untuk merkuri adalah sebagai berikut: di air minum 2 ppb (2 gr dalam 1.000.000.000 (satu milyar gr air atau kira-kira satu juta liter)). Di makanan 1 ppm (1 gram tiap 1 juta gram) atau satu gram dalam 10 ton makanan. Di udara 0,1 mg (miligram) metilmerkuri setiap 1 m3, 0,05 mg/m3 logam merkuri untuk orang-orang yang bekerja 40 jam seminggu (8 jam sehari). Kadar merkuri yang ada dalam air sungai, yaitu sebesar 0,005 ppm. Food and Drug Administration (FDA) mengestimasi pajanan Hg dari ikan rata-rata 50 ng/kg/hari atau kira-kira 3,5 Ig/hari untuk orang dewasa dengan berat badan rata-rata (70 kg). Secara alamiah kandungan Hg di lingkungan adalah sebagai berikut: Kadar total Hg udara = 10 – 20 ng/m3 untuk udara outdoor di kota. Kadar total Hg air permukaan = 5 ppt = 5 ng/l dan kadar total Hg dalam tanah 20 – 625 ppb.

Jenis merkuri:
Metil merkuri adalah jenis yang paling beracun ( > 0,005 ppm)

Umur: Bayi, anak-anak, orangtua beresiko tinggi. Dampak terhadap bayi dan anak-anak yaitu rusak otak, cacat mental, gerakan tidak koordinasi, buta, kejang, tidak dapat bicara, fungsi ginjal terganggu, sistim pencernaan terganggu. Anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa terhadap merkuri.

Status Reproduksi: Wanita hamil beresiko tinggi karena wanita hamil yang terpapar alkil merkuri bisa menyebabkan kerusakan pada otak janin sehingga mengakibatkan kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Merkuri di ibu yang mengandung dapat mengalir ke janin yang sedang dikandungnya dan terakumulasi. Juga dapat mengalir ke anak lewat susu ibu. Akibatnya, pada anak dapat berupa kerusakan otak, retardasi mental, buta, bisu, masalah pada pencernaan dan ginjal.

Pekerjaan:
Penambang emas dan nelayan beresiko tinggi. Penambangan emas di Kalimantan Tengah menggunakan bahan Merkuri dicampur dengan air dan pasir untuk “mengikat” logam emas dalam proses ekstraksi. Kemudian sejumlah tailing (sisa tambang) dibuang kedalam sungai. Orang akan tersekspos ketika mandi disungai (diserap kulit) atau minum dan masak dengan air yang terkontaminasi/tercemar. Saat proses pembakaran amalgama yang memisahkan emas, merkuri dibakar dan berubah menjadi uap/gas. Uap ini dapat tersebar diudara jarak jauh sebelum di endapkan kembali didarat. Pekerja dan penduduk sekitar akan terekspos ketika mereka menghirup udara, terumata apabila didalam ruangan tertutup. Merkuri yang terendap di air dan tanah diserap oleh tanaman dan terakumulasi di tubuh hewan. Merkuri dapat disimpan dalam jaringan tubuh tanaman dan hewan kemudian dikonsumsikan oleh manusia.

Dampak Merkuri Terhadap Lingkungan
Dampak Merkuri terhadap Lingkungan yaitu mengurangi jumlah klorofil tanaman hijau, mengurangi pertumbuhan tanaman, merusak pertumbuhan akar dan fungsi, merusak daun dan menurunkan produksi, mematikan tanaman, mengurangi perkembang biakan di hewan, menganggu perkembangan, tingkah laku yang abnormal, bahkan kematian. Dampak merkuri juga dapat menyebabkan kepunahan lokal dari jenis hewan tertentu dan menurunkan biodiversitas. Pengurangan biodiversitas berarti lebih sedikit individu yang dapat didukung ekosistim. Kepunahan atau pengurangan spesies tertentu seperti insectivor, polinator dan penyebar biji dapat menyebabkan pengurangan diversitas tanaman.
9:06 PM | 0 comments | Read More

Standar Kualitas Kimia Udara Ruang

Written By Kesehatan Lingkungan on Friday, December 27, 2013 | 4:08 PM

Komponen Standar Kualitas Kimia Udara dalam Ruang


Terdapat beberapa komponen kualitas kimia udara dalam ruangan. Beberapa parameter kualitas udara dalam ruangan antara lain meliputi karbon dioksida, karbon monoksida, Nitrogen Oksida, Timbal, Timah Hitam, Plumbum, dan Asap Rokok

Karbon dioksida (CO2).
Karbon dioksida merupakan salah satu gas termasuk dalam beberapa gas penyebab efek rumah kaca sehingga diduga menjadi penyebab peningkatan suhu global. Efek peningkatan suhu global ini terhadap kesehatan masyarakat masih menjadi perdebatan di dunia. Gas CO2 berasal dari sisa metabolisme makhluk hidup baik manusia hewan dan tumbuhan. Sebagian berasal dari gas buangan pabrik, kendaraan bermotor dan berbagai pembakaran. Namun konsentrasi CO2 didalam ruangan perlu dipertahankan pada kisaran 0,01% agar menjamin kenyamanan pekerja, keberadaan gas ini dalam ruangan biasanya berasal dari tingginya kepadatan orang diruangan tersebut.

Karbon Monoksida.
Karbon monoksida merupakan gas tidak berbau, dengan bentuk kimia hampir stabil, dan dapat bercampur dengan udara pada berbagai temperatur. Sumber utama terbentuknya CO di udara adalah pembakaran tidak sempurna bahan bakar minyak. Emisi gas CO dalam ruangan terakumulasi dari pembakaran batu bara, gas, atau minyak untuk memasak, pemanas ruangan serta asap rokok. Hal ini umumnya karena kondisi ventilasi ruangan kurang baik sehingga tidak dapat mengalir keluar dengan baik. Namun dapat pula terjadi pada gedung¬gedung yang berada di daerah pencemaran gas CO tinggi dimana emisi CO didalam ruangan justru berasal dari luar ruangan. Bagi kesehatan, tingginya konsentrasi CO dapat berakibat fatal yaitu anemia, gangguan sel darah, penyakit paru kronis, resiko pada kehamilan dan kelahiran bayi.

Nitrogen Oksida (NOx).
Nitrogen Monoksida (NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) adalah
polutan yang paling banyak ditemukan dilingkungan luar (outdoor) biasanya merupakan campuran sehingga sering disebut NOx (Nitrogen Oksida). NOx berasal dari proses pembakaran suhu tinggi, berwarna orange coklat kemerahan dan berbau tajam, bersifat korosif dan merupakan oksidator yang kuat, dilingkungan gas ini merupakan salah satu penyebab dari hujan asam.

Target organ NOx adalah system pernafasan dan sistem kardiovaskuler. Dampaknya bagi kesehatan bersifat kronik dan secara khusus belum banyak dilaporkan. Sumber polutan NOx didalam ruangan berasal dari proses pembakaran rokok dan alat pemanas ruangan.

Timbal, Timah Hitam, Plumbum (Pb).
Pada dasarnya fungsi utama timbal (Pb) dan persenyawaannya dipergunakan untuk bahan pembuatan cat, batu battery, kaca atau gelas, bahan-bahan industri dan percetakan dalam bentuk senyawa Tetra Ethyl Lead (TEL) digunakan sebagai campuran bensin untuk menaikan nilai oktan, sumber emisi Pb di udara kawasan perkotaan terutama berasal dari sarana transportasi. Dampaknya bagi kesehatan adalah keracunan akut maupun kronis, karena Pb terakumulasi dalam tubuh manusia. Pemaparan Pb kepada manusia melalui makan (5% - 10 %), air dan udara (80%). Akibat keracunan dari Pb berupa anemia, penurunan intelegensia pada anak, gangguan metabolisme tubuh dan kematian.

Asap Rokok.
Asap rokok merupakan sumber pencemar ruangan yang potensial. Bahaya asap rokok tidak saja mengganggu kesehatan perokok tetapi juga orang-orang yang bukan perokok atau perokok pasif yang menghisap rokok secara tidak sengaja atau bahkan yang tidak dikehendakinya, perokok pasif mempunyai risiko lebih besar daripada perokok aktif. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan asap rokok adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem pernafasan, sistem sirkulasi darah, luka lambung, kangker pada bibir, lidah dan kandung kemih.

Sumber :
Enviromental Health Center (EHC). 2003. Sick Building Syndrome. IAQ Fact Sheet: Sick Building Syndrome. Enviromental Health Center. A Division of National Safety Caoncil. Washington DC.
4:08 PM | 0 comments | Read More

Sanitasi Rumah Faktor Risiko Infeksi Kecacingan

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, December 22, 2013 | 4:56 PM

Kualitas Sanitasi Rumah Dan Faktor Risiko Infeksi Kecacingan

Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini Dari sisi epidemiologis, telah terjadi pula transisi yang cukup cepat terhadap beberapa penyakit menular, seperti  penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), Flu Burung, Leptospirosis. Terdapat beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa sanitasi rumah yang tidak baik dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi cacing tambang pada anak.  Kualitas Sanitasi rumah adalah kondisi sanitasi dasar lingkungan rumah dengan prinsip-prinsip usaha untuk meniadakan atau setidak-tidaknya menguasai faktor-faktor lingkungan yang dapat menimbulkan penyakit melalui kegiatan¬kegiatan untuk mengendalikan: sanitasi air, sanitasi makanan, pembuangan kotoran, air buangan dan sampah, sanitasi udara, vektor dan binatang pengerat serta hygiene perumahan.

Sedangkan secara garis besar beberapa indikator kualitas sanitasi rumah yang berhubungan dengan kasus kecacingan antara lain sebagai berikut:

Jamban Keluarga
Menurut Machfoedz (2008), beberapa syarat pembuangan tinja antara lain meliputi tidak mengkontaminasi tanah, sumber air tanah, air permukaan, tidak dapat dicapai berbagai hewan seperti lalat, kecoa, tikus dan tidak menyebabkan bau dan mengganggu estetis. Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan penyebaran berbagai macam penyakit, daintaranya penyakit kecacingan.  Pembuangan kotoran yang tidak sehat menyebabkan telur cacing dapat dengan mudah menyebar dilingkungan.

Menurut  Gandahusada dkk (2004), berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyebaran telur cacing di lingkungan, antara lain dengan membuang tinja di jamban. Sementara menurut Sumanto (2010), anak yang mempunyai kebiasaan buang air besar di kebun dan di halaman rumah akan beresiko terinfeksi kecacingan dibanding anak yang mempunyai kebiasaan buang air besar di jamban. Telur cacing yang matang dapat mencemari tanah atau air limbah dan menginfeksi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari beberapa pernyataan tersebut di atas peneliti bisa menyimpulkan bahwa pembuangan tinja di jamban akan memutus rantai penularan penyakit kecacingan.

Lantai rumah
Masih menurut Machfoedz (2008), beberapa persyaratan fisik rumah sehat, diantaranya yaitu kontruksi rumah harus kuat dan baik, terutama lantai rumah. Hal ini disebabkan karena banyak penyakit dapat ditularkan melalui media tanah, salah satunya penyakit kecacingan pada anak  Menurut Depkes R.I (2006), penyebaran penyakit kecacingan dapat melalui kontaminasi tanah dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura.

Telur diatas dapat tumbuh dalam tanah liat yang lembab dan tanah dengan suhu optimal ± 30°C. Menurut Gandahusada dkk (2004), tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25°C- 30°C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi bentuk infektif Pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28°C-32°C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23°C-25°C.

Ketersediaan air bersih
Pengertian umum air bersih, merupakan air yang digunakan untuk keperluan sehari hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.  Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya syarat fisik (tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna), syarat kimia (kadar besi, maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, kesadahan, maks 500 mg/l, syarat mikrobiologis (koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air).

Sebagaimana kita ketahui, air dapat dapat berperan sebagai faktor utama dalam berbagai penularan jenis penyakit seperti thypus,dysentery, diare, kholera dan kecacingan. Menurut Gandahusada dkk (2004), terpenuhinya kebutuhan air sehari-hari (seperti untuk keperluan aie bersih di jamban, untuk mandi dan cuci tangan secara teratur), merupakan upaya pengendalian penyakit kecacingan. Pendapat senada dikemukakan Sadjimin (2000), bahwa infeksi kecacingan pada manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tidak terdapatnya air bersih dan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Sarana pembuangan sampah

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik, seperti menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sampah dapat berpengaruh negatif terhadap dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara.
Sampah dapat menjadi sarang vektor-vektor penyakit seperti lalat, kecoak dan binatang-binatang lain yang senang berkembang biak di dalam sampah padat yang kotor terutama cacing-cacing tertentu yang bisa membahayakan kesehatan seperti cacing cambuk dan cacing gelang. Pengelolaan sampah yang paling sederhana dengan cara dikumpulkan kemudian dibuang kelubang khusus sampah setelah penuh baru ditimbun dengan tanah, dibuang ke tempat sampah keluarga dan ada juga yang kemudian diambil tukang sampah untuk dikirim ke tempat pembuangan sampah umum. Peneliti berpendapat bahwa pengelolaan sampah yang baik (tempat sampah yang tertutup) dapat mencegah rantai penularan penyakit kecacingan oleh vektor biologis (lalat dan kecoa).

Sarana pembungan air limbah

Limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan genangan dan mencemari lingkungan, disamping tidak baik dari aspek estetika juga dapat menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit. Menurut Machfoedz (2008), air limbah rumah tangga sebaiknya di buang ke dalam tanah dengan membuat resapan di halaman atau tempat lain di sekitar rumah, yang syaratnya paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur. Sementara menurut Notoatmojo (2007), pengelolaan air limbah bertujuan agar tidak mencemari badan air, tanah, dan lingkungan. Air limbah banyak mengandung bibit penyakit, sehingga pengolahan air limbah perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran air limbah dilingkungan. Pencemaran limbah di lingkungan menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit kecacingan. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang

Kebersihan halaman rumah.
Menurut Depkes RI (2006), penyakit kecacingan pada anak disebabkan karena kondisi lingkungan yang jelek seperti halaman rumah yang kotor sebagai tempat bermain anak, merupakan sumber penularan penyakit kecacingan. Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah yaitu cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang. Mengingat penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan, salah satu cara pengendaliannya perlu peningkatan kualitas sanitasi lingkungan terutama kebersihan halaman rumah.

Sosial ekonomi

Semakin rendah tingkat kemiskinan masyarakatnya maka akan semakin berpeluang untuk mengalami infeksi kecacingan. Hal ini dihubungkan dengan kemampuan dalam menjaga personal higiene dan sanitasi lingkungan tempat tinggalnya. Jumlah prevalensi tertinggi penyakit kecacingan ditemukan di daerah pinggiran atau pedesaan yang masyarakatnya sebagian besar masih hidup dalam kekurangan (Hotez,2008).

Perilaku
Beberapa Perilaku buruk yang menyebabkan infeksi kecacingan antara lain membuang tinja sembarang tempat, tidak mengelola makanan dan minuman secara bersih dan sehat, tidak mencuci tangan sebelum makan, dan tidak memakai alas kaki bila keluar rumah. Menurut Achmadi (2005), perilaku penduduk berhubungan dengan lingkungan bisa menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit. Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan penduduk berikut perilakunya, dapat diukur dalam konsep perilaku pejamu. Perilaku pejamu adalah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya penyakit. Komponen lingkungan yang mengandung potensi penyakit dapat digambarkan sebagai berikut: seorang anak mempunyai perilaku tidak menggunakan alas kaki waktu bermain dan keluar rumah, bila dalam lingkungan tersebut ada bibit penyakit (parasit cacing), kemungkinan akan terinfeksi penyakit kecacingan. Perilaku hidup tidak sehat seperti ini dapat disebut sebagai faktor risiko kesehatan.


Referensi, antara lain:
  • Depkes RI, 2006. Pedoman Pengendalian Cacingan, Keputusan Menteri Kesehatan No.424/Menkes/SK/VI/2006.
  • Gandahusada S, dkk, 2004. Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran UI
  • Machfoedz, Ircham, 2008. Menjaga Kesehatan Rumah dari Berbagai Penyakit, Fitramaya
  • Achmadi, U. F, 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Penerbit Buku Kompas.
  • Notoatmojo, Soekijo, 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan seni. Rineka Cipta.
  • Hotez P, 2008. Hookworm and Poverty, Department of Microbiology, Immunology and Tropical Medicine, The George Washington University
4:56 PM | 0 comments | Read More

Jenis Obat Anti Nyamuk

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, December 12, 2013 | 4:28 PM

Yang Perlu Kita Ketahui Tentang Obat Anti Nyamuk Aerosol, Bakar dan Elektrik

Penggunaan insektisida rumah tangga yang bersifat terus menerus dan dilakukan di dalam ruangan (indoor) berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena akumulasi bahan aktif insektisida.

Beberapa jenis insektisida anti nyamuk yang umum kita ketahui, antara lain berbentuk aerosol, bakar dan elektrik. Anti nyamuk yang masuk dalam kelompok anti nyamuk elektrik meliputi anti nyamuk lempengan (mats), uap cair yang berbentuk liquid dan juga minyak, termasuk semua produk yang membutuhkan panas elektrik untuk dapat mengevaporasikan bahan aktif insektisida dari bentuk dasarnya. Anti nyamuk dalam kelompok elektrik biasanya sudah diproduksi sepasang yaitu heater dan refill-nya. Bahan aktif yang digunakan umunya adalah Pyrethroid.

Terdapat beberapa tips sederhana untuk mengurangi dampak pencemaran penggunaan anti nyamuk ini. Secara umum hal-hal yang harus diperhatikan antara lain
  1. Menjauhkan insectisida anti nyamuk ini dari jangkauan anak
  2. Tidak menyimpan insectisida anti nyamuk bersama makanan dan sayuran
  3. Selalu mencuci tangan setelah menyentuh anti nyamuk
  4. Tidak menutup pemanasnya
  5. Tidak merusak lapisan transparan dibawah aluminium foil
  6. Tidak mencuci heater dengan air
  7. Menghindari penumpukan kotoran dan debu pada pemanas
  8. Tidak membuka botol yang sudah kosong.
Anti Nyamuk Aerosol
Jenis anti nyamuk aerosol didesain untuk mampu mengeluarkan insektisida dalam bentuk droplet kecil ke udara sehingga dapat membunuh serangga terbang seperti nyamuk dan lalat.

Anti Nyamuk Bakar

Anti nyamuk bakar biasanya berbentuk pipih menyerupai spiral yang melingkar. Cara penggunaannya dengan memberikan api untuk meningkatkan temperatur dari massa anti nyamuk itu sendiri. Dengan terjadinya peningkatan suhu, menyebabkab anti nyamuk mengeluarkan asap. Asap yang dikeluarkan mengandung bahan aktif insektisida dalam bentuk gas, sehingga bila terhirup nyamuk akan menyebabkan keracunan dan mati.

Anti nyamuk lempengan (mats vaporizer)
Bahan aktif diletakkan di dalam cardboard mats yang dicelup dalam larutan (pre- solution) dan ditutup packaging material bertujuan untuk evaporasi bahan aktif. Bahan aktif diberikan formulasi tambahan pelindu ng dekomposisi, penghambat evaporasi cepat, parfu m, bahan pencelup dan larutan hidrokarbon. Anti nyamuk mats digunakan dengan heater pada suhu 1400 C - 1900 C dengan perlindungan selama lebih kurang 8 jam. Anti nyamuk ini didesain untuk ruangan dan memiliki sifat menolak dan membunuh nyamuk.

Agar diperoleh hasil optimum, beberapa pertimbangan teknis penggunaan antara lain dengan menghindarkannya dari hembusan angin dalam ruang serta dari jendela dan pintu yang terbuka lebar.

Anti nyamuk uap cair elektrik (liquid vaporizer)
Jenis anti nyamuk ini memerlukan pemanasan elektrik untuk bisa menguapkan bahan aktif dalam bentuk cair minyak. Tempat yang digunakan pada umumnya adalah berupa botol. Pemanasan yang dibutuhkan mencapai 1250 C. Botol dapat dilakukan refill sendiri oleh pemiliknya. Bahan aktif yang biasa digunakan adalah Pyrethroid. Penggunaan di ruang terbuka dan dalam kondisi angin yang kencang akan mengurangi efektifitasnya dalam mengendalikan nyamuk

Anti nyamuk membran elektrik/tissu
Jenis anti nyamuk yang berbentuk tisu merupakan bentuk terbaru insektisida rumah tangga. Bahan aktif yang digunakan dalam bentuk gel yang diletakkan dalam aluminium foil, kemudian ditutup dengan plastik untuk mengurangi evaporasi yang terlalu cepat. Bahan aktif yang dimasukkan biasanya dapat digunakan hingga 45 hari (paling efektif pada 30 menit pertama).

Refference, antara lain: WHO, 1999, Safe and Effectife Use of Household Insecticide Products, WHOPES.
4:28 PM | 0 comments | Read More

Dampak Kesehatan Anti Nyamuk Bakar

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, December 2, 2013 | 4:29 PM

Risiko Kesehatan Penggunaan Anti Nyamuk Bakar

Menurut WHO (2005), penggunaan insektisida rumah tangga yang bersifat terus menerus dan dilakukan di dalam ruangan (indoor) berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena akumulasi bahan aktif insektisida. Sebagian besar insektisida rumah tangga saat ini berbahan aktif pyrethroid. Senyawa ini mempunyai toksisitas akut yang rendah pada manusia namun bila tertelan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan dan kematian.

Pada industri insektisida rumah tangga, penggunaan anti nyamuk bakar (obat nyamuk bakar) merupakan salah satu bentuk insektisida anti nyamuk dengan formulasi tertua. Anti nyamuk bakar terdiri dari beberapa bahan dasar antara lain tepung kayu, kanji, bubuk batang kelapa, bahan pencelup. Sedangkan lem, pengatur pembakaran, serta insektisida yang digunakan pada umumnya dalam dosis rendah. Sementara bahan aktif yang digunakan biasanya dari bahan pirethrin alami dan phyrethroid yang tidak persisten di alam. Sangat tidak direkomendasikan penggunaan bahan aktif dari organoklorin, karena sudah terbukti berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menurut WHO (1999), anti nyamuk bakar biasanya bentuknya pipih menyerupai spiral yang melingkar. Cara penggunaannya dengan memberikan api untuk meningkatkan temperatur dari massa anti nyamuk itu sendiri. Dengan terjadinya peningkatan suhu, menyebabkab anti nyamuk mengeluarkan asap. Asap yang dikeluarkan mengandung bahan aktif insektisida dalam bentuk gas, sehingga bila terhirup nyamuk akan menyebabkan keracunan dan mati.

Kelebihan anti nyamuk bakar diantaranya pada kecepatan efek knockdown pada serangga. Namun kelemahan anti nyamuk bakar pada dihasilkannya asap dan bau yang tajam, serta risiko terjadinya kebakaran rumah. Hal ini dapat terjadi misalnya karena terjadinya kebakaran kasur tempat tidur, karena kurang hati-hati dalam meletakkan obat nyamuk bakar.

Menurut laporan university of California riverside (Indrosancoyo, 2008), anti nyamuk bakar di Indonesia mengandung S2 (Octachlorodiphropyl eter), yang merupakan penyebab kuat kanker paru-paru. Namun saat ini penggunaan S2 di Indonesia sudah dilarang.

Refference, antara lain : Indrosancoyo A.W. 2008. Formulasi Pestisida Rumah Tangga : dalam Seminar Nasional : Alternatif Pengendalian Vektor Penyakit. Tahija Foundation. Yogyakarta; WHO, 2005, Safety of Pyrethroids of Public Health Use, WHOPES; WHO, 1999, Safe and Effectife Use of Household Insecticide Products, WHOPES.
4:29 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik