Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA)

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, August 24, 2016 | 6:38 PM

Informasi Dasar Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA)

Pengertian Studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan atau yang kita kenal sebagai Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) merupakan salah satu dari beberapa studi primer yang harus dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi atau Pokja AMPL Kabupaten/Kota. Selanjutnya hasil studi ini digunakan untuk menyusun buku Pemetaan Kondisi Sanitasi (Buku Putih Sanitasi) dan Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK) berdasarkan pendekatan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP).

Latar belakang pentingnya pelaksanaan studi EHRA tersebut, antara lain:
  1.  Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat
  2. Data terkait dengan sanitasi dan higiene terbatas di mana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat kelurahan/desa dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda
  3. Isu sanitasi dan higiene masih dipandang kurang penting sebagaimana terlihat dalam prioritas usulan melalui Musrenbang;
  4. Terbatasnya kesempatan untuk dialog antara masyarakat dan pihak pengambil keputusan.
  5. EHRA secara tidak langsung memberi ”amunisi” bagi stakeholders dan masyarakat di tingkat desa/kelurahan  untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama masyarakat atau stakeholders kelurahan/desa
  6. EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan/desa

Data hasil Studi EHRA diharapkan bersifat faktual sesuai kenyataan di lapangan, dengan metode pengumpulan data ilmiah.  Data dimaksud terkait ketersediaan layanan sanitasi di tingkat rumah tangga, baik di tingkat desa, kecamatan, maupun dalam skala kabupaten/kota. Parameter  yang menjadi obyek studi meliputi limbah cair domestik, limbah padat/sampah dan drainase lingkungan, serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) termasuk praktek Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Sedangkan list pertanyaan dalam kuesioner dan lembar pengamatan telah sudah mengadopsi lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Secara detail, fokus studi EHRA terutama pada fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat, seperti:

  1. Fasilitas sanitasi, seperti sumber air minum, layanan pembuangan sampah, Jamban, saluran pembuangan air limbah.
  2. Perilaku, terkait dengan higinitas dan sanitasi dengan mengacu kepada STBM: Buang air besar, Cuci tangan pakai sabun, Pengelolaan air minum rumah tangga, Pengelolaan sampah dengan 3R, Pengelolaan air limbah rumah tangga (drainase lingkungan)

Dalam praktiknya, studi EHRA dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber daya setempat untuk pengumpulan data. Seperti untuk petugas pengumpul data (enumerator) pada umumnya memberdayakan kader Posyandu.

 

Tujuan studi EHRA

Beberapa tujuan studi EHRA antara lain untuk mengumpulkan data primer gambaran situasi sanitasi dan perilaku berisiko terhadap kesehatan lingkungan kabupaten/kota

  1. Mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang berisiko  
  2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi
  3. Menyediakan dasar informasi yang valid dalam penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan
  4. Sedangkan manfaat studi EHRA , digunakan sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota dan Strategi Sanitasi Kota (SSK)

Output studi EHRA
Output yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah input untuk Buku Putih, yang memuat antara lain:
  1. Gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan
  2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi
  3. Menyediakan dasar informasi yang valid dalam penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan
 Refferensi: Panduan Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA), Depkes RI
6:38 PM | 0 comments | Read More

Analisis Kualitas Fisik Air

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, August 23, 2016 | 9:29 PM


Analisis Kualitas Air pada Lingkungan Fisik

Sebelum masuk pada langkah analisa lingkungan fisik, kita harus memahami pengertian Pencemaran Lingkungan Fisik. Sebagaimana kita ketahui, lingkungan terdiri dari lingkungan Fisik, Biologi dan Sosial, Sedangkan sumber pencemaran lingkungan terdiri dari aktivitas manusia dan atau hasil kegiatan alam. Pencemaran tersebut dapat terjadi pada media Air, Tanah, atau Udara, dengan jenis pencemaran berupa Fisik, Biologi, maupun bersifat Kimia

Terkait dengan analisis kualitas air, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, bahwa sumber sumber air di bumi dapat berasal dari air permukaan (surface water) atau air tanah (ground water).

Sehubungan dengan PP dimaksud, beberapa pengertian dapat kita pahami sebagai berikut:
  1. Baku mutu air adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam air pada sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya
  2. Baku mutu limbah cair adalah batas kadar dan jumlah unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam limbah cair untuk dibuang dari satu jenis kegiatan tertentu
  3. Beban pencemaran adalah jumlah suatu parameter pencemaran yang terkandung dalam sejumlah air atau limbah. Beban pencemaran dinyatakan dalam dalam satuan jumlah parameter pencemaran, biasanya sebagai satuan berat, atau untuk aliran air atau limbah dinyatakan dalam satuan jumlah parameter pencemaran per satuan waktu
  4. Daya tampung beban pencemaran (carrying capacity) adalah kemampuan air pada sumber air menerima beban pencemaran limbah tanpa mengakibatkan turunnya kualitas air sehingga melewati baku mutu air yang ditetapkan sesuai dengan peruntukkannya.
Menurut peruntukkannya, penggolongan air terbagi sebagai berikut:
  1. Golongan A: Air yang dapat digunakan sebagai air minum segara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu
  2. Golongan B: Air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
  3. Golongan C: Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
  4. Golongan D: Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, pembangkit listrik tenaga air

Parameter Kualitas Air

Parameter Fisika

Beberapa paremeter fisika kualitas air sebagai antara lain:

  1. Suhu (dikatakan normal jika temperature  dibawah suhu udara luar); Kekeruhan (Turbidity), berpotensi mengganggu transfer cahaya melalui air,
  2. Kekeruhan biasanya disebabkan oleh suspended material baik yang berukuran koloidal sampai butiran kasar. Tingkat kekeruhan dapat berpengaruh terhadap estetika, filtrasi, maupun proses desinfeksi. Sedangkan satuan standar untuk menyatakan tingkat kekeruhan dengan Nephelometric Turbidity Units (NTU)
  3. Warna dan Rasa (Color and Taste), terdiri dari warna alami (true color), dapat diminimalisir dengan proses koagulasi. Kemudian terdapat apparent color, disebabkan oleh bahan tersuspensi (besi). Pada air permukaan warna dipengaruhi oleh proses polusi seperti karena limbah industri. Standard warna pada air permukaan ini  tidak melebihi 15 unit.
Parameter Kimia

Beberapa parameter kimia air antara lain : Solids, Biodegradables and Organic Matter Nutrients, PH, Acidity and Alkalinity, Heavy Metals & Radio nuclides, Synthetic Organic Chemicals, Macro pollutants, Litter & Garbage

  1. Solids, merupakan zat padat tersuspensi (suspended solid). Juga merupakan zat padat tak terlarut baik itu bahan inorganik atau organic seperti lumpur. Biasanya sumber solids berasal dari proses erosi dan limbah
  2. Zat Padat Terlarut (Dissolved Solid). Jenis zat ini dapat terdiri dari garam inorganik, bahan organic, atau gas terlarut. Jenis lain berupa volatile solids, merupakan bahan padat organik yang dapat diubah menjadi gas CO2 dan air pada suhu tertentu. Juga ada fixed solids, berupa bahan padat inorganik yang tertinggal dari proses pemanasan diatas
Biodegradables And Bahan Organic
  1. DO (Dissolved Oxygen), merupakan proses pengukuran oksigen sebagai oksigen terlarut. Dalam keadaan jenuh dan suhu normal, range DO air berkisar antara 9 mg/lt. DO dapat berasal dari kesetimbangan oksigen diudara dan di dalam air. DO juga dapat berasal dari proses photosynthesis.
  2. BOD (Biochemical Oxygen Demand), merupakan jumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerob. BOD dapat sebagai indikasi tingkat pencemaran domestik dan industri dimana dilihat kemampuan purifikasi dari badan air yang bersangkutan. Prinsip pengukuran BOD membutuhkan bibit mikroorganisme dan kandungan oksigen jenuh, dengan inkubasi 5 hari (70-80% BOD).
  3. COD (Chemical Oxygen Demand), merupakan kadar oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi semua bahan organic baik yang biodegradable maupun yang biologically resistant. Dalam praktiknya nilai COD lebih besar dari nilai BOD.
Parameter Nutrients
  1. Beberapa parameter nitrogen, yang dalam air diantaranya dalam bentuk Organik N, Ammonia (NH4+), Nitrat (NO3-), Nitrit (NO2-). Berdampak pada konsumsi kebutuhan oksigen.
  2. Phosphor, merupakan zat organik dan inorganik (phosphates dan Polyphosphates)

pH, Acidity dan Alkalinity

Parameter pH (derajat keasaman), menggambarkan intensitas kondisi asam atau basa dalam air. DXalam praktik analisa lingkungan air, konsentrasi ion hydrogen ini menjadi pertimbangan dalam penentuan koagulasi kimia, proses desinfeksi, proses penurunan kesadahan air, serta dapat digunakan sebagai kontrol korosi. pH tidak mengukur total acidity maupun alkalinitas. Sedangkan standar pH rata-rata badan air pada range 6,7 – 8,6

Kesadahan

Kesadahan atau hardness terjadi karena proses kontak antara air dengan tanah. Beberapa ion yang dapat menyebabkan kesadahan antara lain Ca2+, Mg2+, Mn2+, Fe2+, Sr2+ dan HCO3-, SO42-, Cl-, NO3-, SiO32. Pada kadar kesadahan 150 – 300 sudah termasuk pada golongan air keras. Beberapa jenis kesadahan antara lain kesadahan Kalsium dan Magnesium, Kesadahan Karbonat (kesadahan sementara), Keadahan Non-karbonat (Kesadahan Tetap, Kesadahan Palsu).


Logam Berat

Beberapa parameter logam berat antara lain mercury (Hg), Cadmium (Cd), Copper (Cu), Cobalt (Co). Keberadaan logam berat ini diantaranya karena proses alam seperti adanya pengikisan mineral dan batuan alam oleh cuaca. Jika melebihi nilai ambang batas, keberadaan logam berat ini sangat berbahaya bagi kesehatan, seperti  dapat mengakibatkan penyakit parkinson (karena aluminium), Minamata disease (Mercury).


Bahan Radio Aktih

Bahan radioaktif, sumber bahan ini berasal dari aktivitas manusia dapat mengakibatkan kanker dan kelainan pada janin. Yang sangat berbahaya, beberapa jenis logam berat tersebut terbukti bersifat bioakumulatif.


Refferensi, antara lain : Alaerts G. & Santika S.S. (1984) Metode Penelitian Air, Usaha Nasional, Surabaya; Soedjono et al (1990) Pedoman Bidang Studi Pengawasan Pencemaran Lingkungan Fisik pada Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Lingkungan, Depkes RI, Jakarta.

9:29 PM | 0 comments | Read More

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Penyakit Menular dan Keracunan Pangan


Sebagai ahli kesehatan masyarakat, atau petugas kesehatan lingkungan, sudah seharusnya paham terhadap prosedur penyelidikan epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular maupun kecacunan makanan. Penyelidikan Epidemiologi, atau yang umum kita kenal dengan istilah PE, sudah seringkali kita lakukan. Kita biasa melaukan PE DBD misalnya, atau PE penyakit menular bersumber binatang lainnya.

Pelaksanaan PE penting dilakukan sesuai prosedur, untuk mencari kemungkinan faktor penyebab, juga untuk menentukan langkah-langkah penanggulangan KLB yang efektif dan efisien. Berikut beberapa langkah penyelidikan epidemiologi KLB Penyakit Menular dan Keracunan Pangan, menurut Kemenkes RI, 2011. 

Tahapan Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Secara teori ada beberapa tahapan dalam melakukan penyelidikan dan penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan pangan. Tahapan ini tidak harus sekuensial dalam arti satu kegiatan baru dapat dilaksanakan setelah tahapan yang sebelumnya sudah selesai. Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan secara bersamaan, yang terpenting dalam tahapan kegiatan dapat dipastikan memuat seluruh unsur-unsur tersebut. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1.  Menegakkan atau Memastikan Diagnosis
Untuk dapat membuat penghitungan kasus secara teliti guna keperluan analisis di tahapan berikutnya maka menjadi penting sekali untuk memastikan diagnosis dari kasus-kasus yang dilaporkan sehubungan dengan KLB yang dicurigai. Alasan mengapa langkah ini penting adalah:
  1. Adanya kemungkinan kesalahan dalam diagnosis
  2. Anda mungkin tidak dilapori tentang adanya kasus, melainkan adanya tersangka atau adanya orang yang mempunyai sindroma tertentu.
  3. Informasi dari yang bukan kasus (yaitu kasus-kasus yang dilaporkan tetapi diagnosisnya tidak dapat dipastikan) harus dikeluarkan dari informasi kasus yang digunakan untuk memastikan ada/tidaknya suatu KLB.
Diagnosis yang didasarkan atas pemeriksaan klinis saja mudah salah, sering tanda atau gejala dari banyak penyakit adalah tidak begitu khas untuk dapat menegakkan suatu diagnosis. Beberapa faktor penyulit lain seperti banyak penderita tidak memperlihatkan sindroma yang khas bagi penyakit mereka, serta dimungkinkan banyak serotipe dari spesies penyebab penyakit menular terdapat secara bersamaan di masyarakat. Oleh karena itu, bila mungkin harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis. Namun karena beberapa konfirmasi laboratorium membutuhkan waktu, maka kriteria tanda-tanda dan gejala-gejala suatu penyakit dapat dipertimbangkan untuk menetapkan diagnosis lapangan.
Bila diagnosis lapangan telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah kasus dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada pada kasus. Ini dilakukan dengan cara: pertama, mendaftarkan semua tanda dan gejala yang dilaporkan kasus. Kedua, menghitung jumlah kasus yang mempunyai tanda dan gejala tertentu. Kemudian menghitung persen kasus yang mempunyai tanda atau gejala itu. Untuk memudahkan penafsiran hasilnya, tanda-tanda dan gejala¬gejala itu sebaiknya disusun ke bawah menurut urutan frekuensinya seperti tabel dibawah.

2. Memastikan terjadinya KLB
Tujuan tahap ini adalah untuk memastikan apakah adanya peningkatan kasus yang tengah berjalan memang benar-benar berbeda dibandingkan dengan kasus yang "biasa" terjadi pada populasi yang dianggap mempunyai risiko terinfeksi. Apabila insidens yang tengah berjalan secara menonjol melebihi insidens yang "biasa", maka biasanya dianggap terjadi KLB. Perbedaan-perbedaan kecil antara insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan dapat menimbulkan ketidakpastian, sehingga peneliti harus selalu waspada mencari kasus-kasus baru yang dapat memastikan dugaan adanya KLB.

Apabila suatu KLB baru tersangka, seringkali populasi yang mempunyai risiko tidak diketahui secara jelas. Oleh karena itu pada taraf permulaan, populasi yang mempunyai risiko biasanya diasumsikan saja sama dengan keseluruhan populasi dari daerah geografis atau wilayah pelayanan institusi tertentu tempat penyakit itu berjangkit. Apabila tersangka KLB diketahui atau diduga berjangkit di suatu populasi yang sangat terbatas misalnya suatu sekolah, rumah perawatan, tempat pemeliharaan anak bayi disiang hari atau kelompok sosial tertentu, maka intormasi yang ada tentang angka insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan pada kelompok yang bersangkutan dapat digunakan untuk menetapkan terjadi atau tidaknya KLB.

3.Menghitung jumlah kasus/angka insidens yang tengah berjalan
Apabila dicurigai terjadi suatu KLB, harus dilakukan penghitungan awal dari kasus-kasus yang tengah berjalan (orang-orang yang infeksinya atau keracunannya terjadi di dalam periode KLB) untuk memastikan adanya trekuensi kasus baru yang "berlebihan". Pada saat penghitungan awal itu mungkin tidak terdapat cukup informasi mengenai setiap kasus untuk memastikan diagnosis. Dalam keadaan ini, yang paling baik dilakukan adalah memastikan bahwa setiap kasus benar-benar memenuhi kriteria kasus yg telah ditetapkan.

Laporan kesakitan yang diterima oleh dinas kesehatan segera dapat diolah untuk penghitungan kasus. Di samping catatan Dinas Kesehatan, sumber-sumber tambahan lain seperti dokter, rumah sakit atau klinik, dan laboratorium penting untuk diperhitungkan. Hubungan dengan dokter-dokter praktek kadang¬kadang menyingkapkan kasus-kasus yang didiagnosis tetapi tidak dilaporkan, dan juga kasus-kasus tersangka yang diagnosisnya belum dapat ditegakkan. Rumah sakit dan klinik dapat memberikan informasi klinis dan laboratorium mengenai kasus-kasus yang dirawat.

Mereka harus didorong untuk melaporkan hasil tes diagnosis para tersangka secepatnya.
Kasus-kasus yang telah diketahui beserta orang-orang di sekitarnya merupakan sumber informasi yang penting untuk mendapatkan kasus-kasus tambahan yang tidak didiagnosis atau tidak dilaporkan. Kasus¬kasus yang diwawancarai mungkin memberikan petunjuk ke arah adanya kasus-kasus subklinis maupun klinis di antara anggota keluarganya, sanak saudaranya atau kenalannya. Wawancara itu mungkin dapat menuntun kepada penemuan sumber inteksi, atau kontak yang menjadi sakit karena penularan dari kasus yang diwawancarai.

4. Menggambarkan karakteristik KLB
Seperti disebutkan di atas, KLB sebaiknya dapat digambarkan menurut variabel waktu, tempat dan orang. Penggambaran ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat disusun hipotesis mengenai sumber, cara penularan, dan lamanya KLB berlangsung. Untuk dapat merumuskan hipotesis-hipotesis yang diperlukan, informasi awal yang dikumpulkan dari kasus-kasus harus diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

Variabel waktu :

  1. Kapan periode yang tepat dari KLB ini?
  2. Kapan periode paparan (exposure) yang paling mungkin?
  3. Apakah KLB ini bersifat ”common source” atau ’propagated source' atau keduanya?
Variabel tempat :
  1. Dimanakah distribusi geografik yang paling bermakna dari kasus-kasus (menurut) tempat tinggal? Tempat kerja? Tempat lain?
  2. Berapakah angka serangan (attack rate) pada setiap satuan tempat/geografik?
Variabel orang (kasus) yang terkena :
  1. Berapakah angka serangan menurut golongan umur, dan jenis kelamin
  2. Golongan umur dan jenis kelamin manakah yang risiko sakit paling tinggi dan paling rendah
  3. Dalam hal apa lagi karakteristik kasus-kasus berbeda-beda secara bermakna dari karakteristik populasi seluruhnya

12:11 AM | 0 comments | Read More

Komponen KLB Berdasark Variabel Waktu

Mengambarkan KLB Berdasarkan Variabel  Waktu

Penggambaran KLB harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat disusun hipotesis mengenai sumber, cara penularan, dan lamanya KLB berlangsung. Untuk dapat merumuskan hipotesis-hipotesis yang diperlukan, informasi awal yang dikumpulkan dari kasus-kasus harus diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan antara lain:

Beberapa pertanyaan KLN terkait variabel waktu, antara lain : Kapan periode yang tepat dari KLB ini?; Kapan periode paparan (exposure) yang paling mungkin?; Apakah KLB ini bersifat ”common source” atau ’propagated source' atau keduanya?

Variasi kejadian kasus-kasus suatu penyakit dalam suatu populasi menurut waktu biasanya disebut pola temporal penyakit yang digunakan untuk menggambarkan pola temporal penyakit; periode KLB, yang panjangnya bervariasi tergantung dari lamanya KLB yang bersangkutan. Dari gambaran periode waktu insidens suatu penyakit merupakan pertimbangan yang penting dalam memastikan atau menyingkirkan adanya suatu KLB pada waktu yang tengah berjalan dan dalam meramalkan periode-periode KLB pada masa yang akan datang.

Pembahasan selebihnya mengenai waktu sebagai variabel epidemiologi akan dipusatkan pada pembuatan dan penggunaan kurva epidemi. Sebuah kurva epidemi dibuat terutama untuk :
a.         Menentukan apakah sumber infeksi/diperkirakan bersifat 'common source’ atau 'propagated source' atau keduanya; dan
b.        Mengidentifikasikan waktu paparan yang diperkirakan dari kasus-kasus terhadap sumber infeksi.

Untuk menggambarkan kurva epidemi harus diperoleh tanggal mulai sakit dari kasus-kasus. Untuk penyakit-penyakit tertentu yang mempunyai masa inkubasi atau masa laten yang sangat pendek, jam mulai sakit harus diperoleh untuk setiap kasus. Selanjutnya, pilihlah interval waktu yang akan digunakan untuk membuat grafik dari kasus-kasus tersebut. Interval waktu yang sesuai, yang dapat bervariasi dari kurang dari satu jam hingga bulanan atau lebih lagi, dipilih berdasarkan masa inkubasi atau masa laten penyakit dan lamanya periode KLB.

Pada suatu KLB penyakit yang mempunyai masa inkubasi dalam hitungan jam (seperti pada penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan) dengan kasus-kasus yang terbatas dalam hitungan hari, lebih baik digunakan interval satu atau beberapa jam. Sedangkan pada penyakit-penyakit yang mempunyai masa inkubasi dalam hitungan hari, interval harian lebih cocok.

Interval yang sesuai untuk menggambarkan grafik kasus adalah penting untuk penafsiran kurva epidemi nanti. Kesalahan yang paling penting yang dapat dibuat di sini ialah pemilihan interval yang terlalu panjang, seperti dalam hal menggambarkan grafik kasus-kasus keracunan stafilokok menurut minggu atau bulan timbulnya gejala. Interval yang demikian akan menyembunyikan perbedaan-perbedaan kecil dalam distribusi temporal, termasuk gelombang kasus sekunder yang ditimbulkan oleh penularan orang ke orang, sehingga tidak memungkinkan penggunaan grafiknya untuk kedua tujuan utamanya.

Suatu pedoman yang berguna dalam memilih interval untuk menggambarkan grafik kasus ialah memilih interval sebedar seperdelapan atau seperempat masa inkubasi penyakit yang bersangkutan. Seringkali ada baiknya membuat beberapa kurva epidemi, masingmasing berdasarkan interval yang berbeda, untuk mendapatkan grafik yang paling baik memperagakan data.

Kurva Epidemi dari KLB dengan 'Common Source' dan 'Propagated Source'
KLB seringkali disebutkan sebagai mempunyai 'common source' (kasus-kasus terjadi karena paparan terhadap sumber yang sarna dan umum) atau 'propagated source' (penularan orang ke orang). Pada KLB beberapa penyakit kedua jenis sumber ini mungkin terlibat, kasus-kasus awal terjadi karena paparan suatu sumber bersama, dan kasus-kasus berikutnya (sekunder) terjadi karena penyebaran orang ke orang.

Lamanya KLB berlangsung dipengaruhi oleh beberapa hal seperti :
1.        Jumlah orang-orang rentan yang terpapar terhadap suatu sumber infeksi dan menjadi terinfeksi.
2.        Periode waktu ketika orang-orang rentan terpapar terhadap sumber itu;
3.        Periode inkubasi minimum dan maksimum dari penyakit itu.

KLB yang melibatkan sejumlah besar kasus, dengan kesempatan paparan terbatas pada satu hari atau kurang, dari suatu penyakit yang mempunyai masa inkubasi beberapa hari atau kurang, biasanya mempunyai kurva epidemi yang mendekati distribusi "normal", dalam praktek epidemiologi, kita biasanya dapat menyimpulkan bahwa terdapat suatu sumber "common source" dan bahwa paparan kasus terhadap sumber itu terjadi selama waktu yang pendek (relatif terhadap masa inkubasi maksimum penyakit itu).

Menentukan Periode Paparan yang Paling Mungkin dari Kasus-Kasus dalam KLB 'Common Source'
Dengan mengetahui masa inkubasi rata-rata, maksimum dan minimum dari suatu penyakit yang tengah diselidiki dan tanggal-tanggal mulai sakit dari kasus-kasus, waktu paparan yang paling mungkin dari kasus-kasus terhadap sumber dapat diketahui. Ada dua metode yang sering dipakai untuk hal ini.

Metode pertama menggunakan masa inkubasi rata-rata. Untuk dapat menggunakan metode ini, perlu diidentifikasi tanggal puncak KLB atau tanggal kasus median, lalu dihitung ke belakang selama satu masa inkubasi.

Pada KLB yang mempunyai 'propagated source' kasus-kasus terjadi dalam periode yang lebih lama daripada KLB penyakit yang sama yang mempunyai 'common source'. Tetapi juga dalam hal ini lamanya masa inkubasi mempengaruhi lamanya KLB dengan 'propagated source'.
KLB yang berupa letusan disebabkan karena penularan orang ke orang lebih jarang ditemukan.
Apabila terjadi, biasanya melibatkan penyakit yang mempunyai masa inkubasi pendek. Apabila generasi kedua dan ketiga terjadi, interval di antara puncak-puncaknya seringkali mendekati masa inkubasi rata-rata penyakit itu.

Metode kedua menggunakan masa inkubasi minimum dan menghitung ke belakang dari kasus pertama dan menggunakan masa inkubasi maksimum dan menghitung ke belakang dari kasus terakhir.

Namun, metode-metode ini hanya dapat dipakai apabila lamanya KLB adalah kira-kira sama atau kurang dari selisih masa inkubasi maksimum dan minimum dari penyakit bersangkutan. Jika lamanya KLB jauh lebih panjang daripada selisih, ini, maka KLB ini mungkin disebabkan oleh 'common source' yang berlangsung terus-menerus atau oleh 'propagated source' atau gabungan keduanya.

Dengan paparan selama satu hari atau kurang dan dengan mengetahui bahwa masa inkubasinya adalah antara 15 dan 50 hari, kita dapat mengharapkan bahwa lamanya KLB yang terjadi tidak akan lebih panjang dari 35 hari (50 - 15). Kenyataan bahwa lamanya KLB ini (24 hari) kurang dari yang diharapkan lebih kecil menyokong kesimpulan tentang periode paparan yang singkat.

Dua keterbatasan dari metode minimum/maksimum untuk mengidentifikasi periode paparan yang paling mungkin. Pertama, menghitung ke belakang 15 hari dari kasus pertama menghasilkan tanggal 6 Agustus, satu hari sebelum tanggal paparan yang sesungguhnya (dan bukan, secara ideal, tanggal paparan yang sesungguhnya atau satu dua hari sesudah paparan). Ini mungkin disebabkan karena beberapa hal :
1.        kasus pertama bukan ”hepatitis” yang sebenarnya,
2.        kasus ini adalah hepatitis, tetapi mendapat paparan di tempat lain dan sebelum pesta,
3.        kasus itu mempunyai masa inkubasi yang tidak khas pendeknya, atau
4.        tanggal mulai sakit tidak benar.

Kelemahan kedua adalah bahwa dengan menghitung ke belakang 50 hari dari kasus terakhir menghasilkan tanggal 25 Juli, yaitu 12 hari sebelum paparan. Hasilnya adalah periode paparan dugaan yang terlalu panjang. Hal ini disebabkan karena KLB itu hanya berlangsung selama 24 hari, yaitu 11 hari lebih pendek daripada periodenya yang maksimum secara teoritis. Maka dalam hal ini, dan secara umum, periode paparan yang paling mungkin biasanya lebih teliti dan diidentifikasi dengan menggunakan masa inkubasi rata-rata.

Untuk mengidentifikasikan kasus-kasus sekunder (misalnya, di kalangan anggota keluarga), pertama-tama tetapkanlah tempat tiap kasus menurut saat mulai sakit dan keluarganya. Kemudian, untuk kasus-kasus selanjutnya dalam keluarga yang sama bandingkan interval antara dua kasus dengan lamanya masa inkubasi ditambah periode menular dari kasus sebelum mulai sakitnya.

Secara umum, penggambaran suatu KLB menurut variabel waktu dianggap terlaksana dengan baik apabila :
1.        Interval waktu untuk menggambarkan kasus-kasus dalam grafik adalah sesuai untuk mengidentifikasikan periode paparan yang paling mungkin.
2.        Semua kasus yang diketahui telah digambarkan dalam grafik menurut tanggal mulainya gejala.
3.        Kurva dapat dikenal sebagai KLB yang mempunyai 'common source' atau 'propagated source' atau keduanya.
4.        Dalam hal KLB 'common source', tanggal atau periode berikut telah diidentifikasikan: puncak KLB; permulaan, akhir serta lamanya KLB; periode paparan yang paling mungkin dari kasus terhadap sumber.
5.        Selanjutnya, apabila sumbernya adalah 'common source' dan 'propagated source' bersama-sama, kasus¬kasus 'propagated source' yang diketahui atau dicurigai dapat diidentifikasikan dan ditunjukkan dalam grafik.

Sumber : Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit), Edisi Revisi Tahun 2011, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011
12:11 AM | 0 comments | Read More

Aspek Personal Hygiene dan Penyakit berbasis Lingkungan

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, July 11, 2016 | 6:37 PM



Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan dengan Upaya Higiene Perorangan

Pengertian hygiene menurut Azwar (1993), merupakan usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari hubungan kondisi lingkungan dengan kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena hubungan lingkungan kesehatan tersebut serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan.

Pengertian lain disampaikian Entjang (2001), bahwa pengertian personal hygiene atau hygiene perorangan (usaha kesehatan pribadi) merupakan upaya dari seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri. Beberapa upaya tersebut antara lain meliputi:
1.    Memelihara kebersihan diri (mandi 2x/hari, cuci tangan sebelum dan sesudah makan), pakaian, rumah dan lingkungannya (BAB pada tempatnya).
2.    Memakan makanan yang sehat dan bebas dari bibit penyakit.
3.    Cara hidup yang teratur
4.    Meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani
5.    Menghindari terjadinya kontak dengan sumber penyakit.
6.    Melengkapi rumah dengan fasilitas-fasilitas yang menjamin hidup sehat seperti sumber air yang baik, kakus yang sehat.
7.    Pemeriksaan kesehatan

Menurut berbagai penelitian, upaya sanitasi dan hygiene perorangan sangat efektif untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kecacingan, TBC paru, ascariasis, ISPA, diare, malaria, DBD, keracunan makanan, dan lainnya. Sebagaimana kita ketahui, penularan penyakit berbasis lingkungan dapat melalui  agen biologis, fisik, atau kimia. Sedangkan komponen lingkungan yang lazim kita kenal sebagai media transmisi antara lain meliputi Udara, Air, Pangan, Serangga/vektor , dan Manusia. Atau dengan istilah lain, berbagai faktor dapat berperan seperti water borne diseases, air borne diseases, vector borne diseases, food borne diseases

Teori Simpul Achmadi (2005)
Pada penyakit dengan agen biologis, dibutuhkan peran agen hidup seperti virus, bakteri, jamur, prozoa dan cacing untuk terjadinya infeksi. Seperti terkait infeksi cacing, menurut Depkes RI (2001) usaha pencegahan penyakit infeksi cacing antara lain dapat dilakukan dengan upaya menjaga kebersihan badan, kebersihan lingkungan dengan baik, makanan dan minuman yang baik dan bersih, memakai alas kaki, membuang air besar di jamban (kakus), memelihara kebersihan diri dengan baik seperti memotong kuku dan mencuci tangan sebelum makan.

Referensi, antara lain:
Azwar, A. (1993) Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber Widya. Jakarta.; Depkes RI (2001), Pedoman Modul dan Materi Pelatihan “Dokter Kecil’; Entjang, I. (2001) Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Citra Aditya Bakti. Bandung.
6:37 PM | 0 comments | Read More

Standar Sanitasi Jamban

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, June 28, 2016 | 12:40 AM


Standard Sanitasi Jamban

Sanitasi sesuai nomenklatur MDGs adalah pembuangan tinja. Termasuk dalam pengertian ini  meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Sedangkan kriteria akses terhadap sanitasi layak jika penggunaan fasilitas tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis ‘latrine’ dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah (SPAL). Sedangkan kriteria yang digunakan JMP WHO-UNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu ‘improved’, ‘shared’, ‘unimproved’ dan ‘open defecation’. (Depkes RI, 2010).

Jamban merupakan fasilitas atau sarana pembuangan tinja. Menurut Kusnoputranto (1997), pengertian jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab suatu penyakit serta tidak mengotori permukaan. Sedangkan pengertian lain menyebutkan bahwa pengertian jamban adalah pengumpulan kotoran manusia disuatu tempat sehingga tidak menyebabkan bibit penyakit yang ada pada kotoran manusia dan mengganggu estetika.

Rekan-rekan Sanitarian tentu sudah paham, bahwa dampak buruk jamban terhadap penularan penyakit, menyangkut transmisi penyakit dari tinja. Berbagai penyakit menular seperti hepatitis A, polio, kholera, dan lainnya merupakan penyakit yang terkait dengan akses penyediaan jamban. Dan sebagai salah satu indikator utama terjadinya pencemaran karena tinja ini adalah bakteri E.Coli. Sebagaimana rekan-rekan Sanitarian ketahui escherichia coli hidup dalam saluran pencernaan manusia.

Sanitasi Jamban Sehat

Diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya proses penularan penyakit antara lain kuman penyebab penyakit, sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab, cara keluar dari sumber, cara berpindah dari sumber ke inang (host) baru yang potensial, cara masuk ke inang yang baru, serta inang yang peka (susceptible). Sedangkan proses pemindahan kuman penyakit dari tinja sampai inang baru dapat melalui berbagai perantara, antara lain air , tanah , makanan, tangan, atau serangga.

Fungsi jamban dari aspek kesehatan lingkungan antara lain dapat mencegah berkembangnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. Sementara dampak serius membuang kotoran di sembarang tempat menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara karena menimbulkan bau. Pembuangan tinja yang tidak dikelola dengan baik berdampak mengkawatirkan terutama pada kesehatan dan kualitas air untuk rumah tangga maupun keperluan komersial.

Selain menyangkut perilaku buang air besar masyarakat yang belum semuanya menggunakan jamban, kita juga dihadapkan pada masih banyaknya jumlah jamban yang tidak memenuhi standar. Banyak di masyarakat jamban unimproved atau jamban yang tidak sehat. Sebagai Sanitarian kita harus paham berbagai informasi terkait jamban, baik kriteria maupun prosedur pemeliharaannya, diantaranya persyaratan pembuangan tinja. Menurut Kumoro (1998), terdapat beberapa bagian sanitasi pembuangan tinja, antara lain :

Rumah Kakus: Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkunagn sekitar, harus memenuhi syarat ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi disesuaikan dengan keadaan tingkat ekonomi rumah tangga.

Lantai Kakus: Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik, kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga disesuaikan dengan bentuk rumah kakus.

Tempat Duduk Kakus: Fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan tinja, harus kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah diangkat.

Kecukupan Air Bersih: Jamban hendaklah disiram minimal 4-5 gayung, bertujuan menghindari penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih. Juga agar  menghindari kotoran tidak dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.
Tersedia Alat Pembersih: Tujuan pemakaian alat pembersih, agar jamban tetap bersih setelah jamban disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai agar tidak berlumut dan licin. Sedangkan peralatan pembersih merupakan bahan yang ada di rumah kakus didekat jamban.

Tempat Penampungan Tinja: Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang berfungsi sebagai tempat mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksi lubang harus kedap air dapat terbuat dari pasangan batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran lingkungan.

Saluran Peresapan: Merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang lengkap, berfungsi mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur tinja.

Selain Sanitasi tinja diatas, kita juga harus paham berbagai jenis jamban keluarga. Menurut Azwar (1990), terdapat beberapa jenis jamban, antara lain :

  1. Jamban cubluk (Pit Privy): adalah jamban yang tempat penampungan tinjanya dibangun dibawah tempat injakan atau dibawah bangunan jamban. Fungsi dari lubang adalah mengisolasi tinja sedemikian rupa sehingga tidak dimungkinkan penyebaran dari bakteri secara langsung ke pejamu yang baru. Jenis jamban ini, kotoran langsung masuk ke jamban dan tidak terlalu dalam karena akan menotori air tanah, kedalamannya sekitar 1,5-3 meter (Mashuri, 1994).
  2. Jamban Empang (Overhung Latrine): Adalah jamban yang dibangun diatas empang, sungai ataupun rawa. Jamban model ini ada yang kotorannya tersebar begitu saja, yang biasanya dipakai untuk makanan ikan, ayam.
  3. Jamban Kimia (Chemical Toilet): Jamban model ini biasanya dibangun pada tempat-tempat rekreasi, pada transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang dan lain-lain. Disini tinja disenfeksi dengan zat-zat kimia seperti caustic soda dan pembersihnya dipakai kertas tissue (toilet paper). Sedangkan jamban kimia ada dua macam, yaitu tipe lemari (commode type), dan tipe tangki (tank type). Jamban kimia sifatnya sementara, karena kotoran yang telah terkumpul perlu di buang lagi.
  4. Jamban Leher Angsa (Angsa Trine): Jamban leher angsa merupakan jamban leher lubang closet berbentuk lengkungan, dengan demikian akan terisi air gunanya sebagai sumbat sehingga dapat mencegah bau busuk serta masuknya binatang-binatang kecil. Jamban model ini adalah model yang terbaik yang dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.


Menurut Depkes RI (2004), terdapat beberapa syarat Jamban Sehat, antara lain :

  1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 10-15 meter dari sumber air minum.
  2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.
  3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah di sekitarnya.
  4. Mudah dibersihkan dan aman penggunannya.
  5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna.
  6. Cukup penerangan
  7. Lantai kedap air
  8. Ventilasi cukup baik
  9. Tersedia air dan alat pembersih.

Manfaat dan Fungsi Jamban Keluarga
Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :

  1. Melindungi kesehatan masyarkat dari penyakit
  2. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan saran yang aman
  3. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit
  4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan 

Sedangkan prosedur pemeliharaan jamban menurut Depkes RI (2004) adalah sebagai berikut:

  1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering
  2. Di sekeliling jamban tidak ada genangan air
  3. Tidak ada sampah berserakanan
  4. Rumah jamban dalam keadaan baik
  5. Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat
  6. Lalat, tikus dan kecoa tidak ada
  7. Tersedia alat pembersih
  8. Bila ada yang rusak segera diperbaiki

Refference, antara lain :

  • Azwar, A, 1990,  Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara, Jakarta. 
  • Kusnoputranto, H, 2000. Kesehatan Lingkungan, FKM-UI Jakarta
  • Riskesdas 2010


12:40 AM | 0 comments | Read More

Sanitasi Perilaku Penjamah Makanan

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, June 19, 2016 | 11:47 PM


Faktor Perilaku Penjamah Makanan Pada Laik Hygiene Kantin

Makanan selain mutlak bermanfaat, juga dapat sebagai media penularan penyakit dan masalah kesehatan. Kondisi ini dapat terjadi, baik secara alamiah (include dalam makanan) maupun masuk dari luar, seperti makanan menjadi beracun karena tercemar mikroba.

Beberapa defenisi atau pengertian makanan, diantaranya : Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan hygienis serta berguna bila dimasukan ke dalam tubuh, dan makanan jadi adalah makanan yang telah diolah dan atau langsung disajikan/dikonsumsi ((Depkes, 1996).

Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukan ke dalam tubuh, sedangkan zat gizi yang dimaksud adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan Menurut Almatsier (2002).

Berdasarkan beberapa penelitian, penyebab beberapa kasus keracunan makanan diantaranya adalah bakteri Staphylococcus aureus, Vibrio cholera, E.coli dan Salmonella. Bakteri E.coli dan Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri indikator untuk menilai kualitas sanitasi makanan. Bakteri E.coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan maupun manusia. Sedangkan sumber bakteri Staphylococcus aureus dapat berasal dari tangan, rongga hidung, mulut dan tenggorokan pekerja. Sekitar 70 % kasus keracunan makanan di dunia disebabkan oleh makanan siap santap yaitu makanan yang sudah diolah, terutama oleh usaha katering, rumah makan, kantin, restoran maupun makanan jajanan (Fardiaz, 1997).

Makanan mulai dari awal proses pengolahan sampai siap dihidangkan dapat memungkinkan terjadi kontaminasi oleh bakteri. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan kontaminasi bakteri pada makanan antara lain dapat berasal dari orang yang mengolah atau menangani makanan termasuk perilaku dan higiene perorangan orang yang menangani makanan tersebut serta faktor tempat/bangunan pengelolaan makanan termasuk sanitasinya (Depkes, 1999).

Usaha untuk meminimalisasi dan menghasilkan kualitas makanan yang memenuhi standard kesehatan, dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip sanitasi. Menurut Jenie (1996) bahwa “ilmu sanitasi merupakan penerapan dari prinsip-prinsip yang akan membantu memperbaiki, mempertahankan, atau mengembalikan kesehatan yang baik pada manusia, sanitasi meliputi kegiatan–kegiatan aseptik dalam persiapan, pengolahan, dan penyajian makanan; pembersihan dan sanitasi lingkungan kerja; dan kesehatan pekerja. Secara lebih terinci sanitasi meliputi pengawasan mutu bahan makanan mentah, penyimpanan bahan, suplai air yang baik, pencegahan kontaminasi makanan dari lingkungan, peralatan, dan pekerja, pada semua tahap proses”.


Sebagaimana teori HL Bloom, faktor perilaku terkait pengelolaan makanan ini menjadi faktor penting dalam hygiene sanitasi makanan. Aspek perilaku ini, termasuk perilaku sehat merupakan hal-hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Hal tersebut termasuk tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, menjaga kebersihan tubuh perorangan, menjaga sanitasi makanan dan penyajian makanan. Peran penjamah makanan termasuk perilaku higienis merupakan salah satu faktor dalam penyediaan makanan atau minuman yang memenuhi syarat kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Pendapat senada mengungkapkan bahwa bahwa - sanitasi merupakan bagian penting dalam pengolahan pangan yang harus dilaksanakan dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut (Purnawijayanti, 2001).

Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan sampai dengan penyajian. Peran penjamah makanan sangat penting dan merupakan salah satu faktor dalam penyediaan makanan/minuman yang memenuhi syarat kesehatan. Personal higiene dan perilaku sehat penjamah makanan harus diperhatikan. Seorang penjamah makanan harus beranggapan bahwa sanitasi makanan harus merupakan pandangan hidupnya serta menyadari akan pentingnya sanitasi makanan, higiene perorangan dan mempunyai kebiasaan bekerja, minat maupun perilaku sehat (WHO dan Depkes RI, 2004).

Pemeliharaan kebersihan penjamah makanan, penanganan makanan secara higienis dan higiene perorangan dapat mengatasi masalah kontaminasi makanan. Dengan demikian kebersihan penjamah makanan adalah sangat penting untuk diperhatikan karena merupakan sumber potensial dalam mata rantai perpindahan bakteri ke dalam makanan sebagai penyebab penyakit. WHO (1996) menyebutkan penjamah makanan menjadi penyebab potensial terjadinya kontaminasi makanan apabila: 1) menderita penyakit tertentu; 2) kulit, tangan, jari-jari dan kuku banyak mengandung bakteri kemudian kontak dengan makanan; 3) apabila batuk, bersin maka akan menyebarkan bakteri; 4) akan menyebabkan kontaminasi silang apabila setelah memegang sesuatu kemudian menyajikan makanan; dan 5) memakai perhiasan (Jenie, 1996).

Persyaratan higiene perilaku penjamah makanan
Persyaratan higiene perilaku penjamah makanan, khususnya pda kantin sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003 meliputi, antara lain :
a.    Semua kegiatan pengolahan makanan harus dilakukan dengan cara terlindung dari kontak langsung dengan tubuh.
b.   Perlindungan kontak langsung dengan makanan dilakukan dengan : sarung tangan plastik, penjepit makanan, sendok garpu dan sejenisnya.
c.       Setiap tenaga pengolah makanan pada saat bekerja harus memakai celemek dan penutup rambut.
d.      Setiap tenaga penjamah makanan pada saat bekerja harus berperilaku :
·         Tidak makan atau mengunyah makanan kecil/permen.
·         Tidak memakai perhiasan (cincin).
·         Tidak bercakap-cakap.
·         Selalu mencuci tangan sebelum bekerja dan setelah keluar dari kamar kecil.
·         Tidak memanjangkan kuku.
·         Selalu memakai pakaian yang bersih.

11:47 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik