Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Standar Pengambilan Sampel Makanan

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, November 24, 2014 | 7:30 AM

Standar Pemeriksaan Makanan Di Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)

Sebelum dilakukan pengambilan sampel makanan di TPM, terlebih dahulu dilakukan inspeksi sanitasi pada TPM menggunakan checklist inspeksi sanitasi Tempat Pengelolan Makanan. Standar waktu yang diperlukan adalah 1 jam untuk pengambilan sampel serta  5 hari untuk pemeriksaan laboratorium. Sedangkan Prosedur Pelaksanaan kegiatan sebagai berikut:
  1. Petugas datang ke TPM
  2. Dilakukan penilaian TPM menggunakan checklist inspeksi sanitasi TPM
  3. Dilakukan pengambilan sampel makanan berdasarkan jenisnya menggunakan pincet dan sendok steril, kemudian dimasukkan dalam plastik steril.
  4. Plastik sampel makanan diberi etiket yang berisi informasi berikut: -    Jenis Sarana; -Jenis pemeriksaan; - Lokasi pengambilan; -Jam pengambilan, -Tanggal pengambilan; -    Petugas pengambil; -    pH; - Suhu
  5. Sampel makanan dimasukkan termos dan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan uji lab.
  6. Berdasarkan hasil uji lab diberikan rekomendasi/umpan balik kepada penanggung jawab TPM serta digunakan sebagai bahan rekomendasi dan evaluasi di tingkat Kabupaten.
Peralatan yang digunakan pada pengambilan sampel makanan antara lain terdiri dari Checklist inspeksi sanitasi TPM, Alat tulis, Pincet, Plastik Steril, dan Termos.

Beberapa dasar hukum yang digunakan sebagai acuan dalam Pelayanan Pemeriksaan Makanan di Tempat Pengelolaan Makanan (TPM), antara lain:
  1. Kep. Menkes 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Kesehatan Rumah Makan dan Restoran
  2. Kep. Menkes 715/Menkes/SK/XI/V/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Jasa Boga
  3. Permenkes RI Nomor 80/Menkes/PER/II/1990 tentang Persyaratan Kesehatan Hotel (beserta keputusan Dirjen PPM & PL pendukung)
  4. Peraturan Menteri Kesehatan  No 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang persyaratan kualitas air berish
  5. Peraturan Menteri Kesehatan No 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum
7:30 AM | 0 comments | Read More

Inspeksi Sanitasi Lingkungan Kerja Industri

Written By Kesehatan Lingkungan on Friday, November 21, 2014 | 9:42 PM

Standar Sanitasi Lingkungan Kerja Industri


Format Inspeksi Sanitasi Lingkungan Kerja Industi disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1405/Menkes/SK/XI/2002 Tanggal 19 Nopember 2002 tentang Kesehatan Lingkungan Kerja Industri. Parameter yang dinilai antara lain Sarana sanitasi, Udara ruangan, Pencahayaan, Kebisingan, Tingkat Radiasi, dan lain -lain.

Beberapa persyaratan lingkungan kerja industri, antara lain :

Syarat Air Bersih
  • Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan dengan kapasitas minimal 60 lt/org/hari 
  • Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan fisika, kimia, mikrobiologi dan radio aktif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 
  • Distribusi air bersih menggunakan sistem perpipaan 
  • Sumber air bersih dan sarana distribusinya bebas dari pencemaran fisik, kimia, dan bakteriologis 
  • Dilakukan pengambilan sampel air bersih pada sumber, bak penampungan dan pada kran terjauh untuk diperiksa di laboratorium minimal 2x setahun yaitu pada musim kemarau danmusim hujan 
Syarat Limbah dan Sampah
 

  • Limbah padat yang dapat dimanfaatkan kembali dengan pengolahan daur ulang dan pemanfaatan sebagian (re-use, recycling, recovery) agar dipisahkan dengan limbah padat yang non B3 Limbah B3 dikelola ke tempat pengolahan limbah B3 sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
  • Limbah radio aktif dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  • Limbah Cair : a.  Saluran limbah cair harus kedap air, tertutup, limbah cair dapat mengalir dengan lancar dan tidak menimbulkan bau. b.  Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan fisik, kimia, atau biologis sesuai kebutuhan
Syarat Toilet
  • Toilet karyawan wanita terpisah dengan toilet untuk karyawan pria
  • Memiliki toilet dengan jumlah wastafel, jamban dan peturasan dengan jumlah sesuai standard
  • Toilet harus dibersihkan minimal 2 kali sehari 
  • Tidak menjadi tempat berkembang biaknya serangga dan tikus
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri

9:42 PM | 1 comments | Read More

Konstruksi Jamban Pada Kondisi Khusus

Konstruksi Jamban Pada Daerah Pasang Surut Pantai, Daerah Banjir, serta Rumah Panggung

Tulisan ini sebetulnya memenuhi permintaan Mas Faidul - Kendari , saat chatting di media sillaturrahim facebook kemarin. Saya menggunakan acuan yang dibuat WSP dan UP3D LPPM-ITS. Pada dasarnya perencanaan jamban pada daerah khusus ini tetap mengacu pada teori hydrogeology – penyebaran dan pergerakan air akibat resapan alamiah sesuai tinggi rendagnya Muka Air Tanah (MAT). Berbagai Aspek MAT terhadap letak dan konstruksi jamban, akan saya sampaikan dilain kesempatan.

Pada kondisi khusus ini, kontruksi jamban dapat dibuat dengan dua model :
  1. Jamban dengan permukaan ditinggikan. Jamban model ini dapat dilihat sebagaimana gambar dibawah ini. Dengan meninggikan permukaan dasar bangunan jamban sehingga dapat menampung rumah jamban sekaligus penampungan tinja di bawahnya. Jamban Ditinggikan
  2. Jamban untuk daerah banjir/pasang surut, atau rumah panggung. Jamban model ini dirancang untuk digunakan pada daerah yang biasa terkena dampak banjir selama musim hujan. Juga cocok digunakan pada daerah pasang surut serta rumah panggung. Jamban Daerah Banjir dan PantaiJika kita lihat gambar diatas, sumur penampung tinja berada diatas tanah. Sumur ini dihubungkan dengan slab dan closet melalui sejumlah ring beton dan pipa. Jumlah ring beton dan panjang pipa dapat disesuaikan dengan ketinggian air selama banjir atau pasang surut.  Karena sumur akan penuh selama banjir atau pasang, maka bagian satu-satunya yang “dapat digunakan” dari tangki adalah bagian yang melewati permukaan banjir atau pasang. Rumah jamban perlu ditinggikan melebihi permukaan air yang tertinggi. Jamban model ini akan lebih mahal biaya pembuatannya daripada jamban jenis lain. Juga harus diperhitungkan semakin berkurangnya kekuatan bahan bangunan yang digunakan akibat terendam air. Akan sangat disarankan jika menggunakan bahan dengan spesifikasi tahan air.
Persyaratan Teknis Konstruksi
Persyaratan Teknis Konstruksi model jamban diatas antara lain :
  1. Tangki septic menggunakan pasangan batu bata biasa dengan adukan 1ps:2sm:3kp, sedangkan untuk adukan kedap air/plester menguunakan adukan 1sm:3ps
  2. Tangki septic harus dilengkapi dengan pipa udara dengan diameter 50 mm (2”) dan tinggi 25 m dari permukaan tanah.
  3. Tangki septic harus dilengkapi dengan lubang periksa yang berukuran 40 cm x 40 cm.
Persyaratan Teknis Resapan
  1. Konstruksi sumur resapan merupakan sumuran yang berdiameter 80 cm dengan kedalaman 160 cm
  2. Sumur resapan menggunakan pasangan batu bata system sarang lebah pada bagian bawah (daerah yang terendam air), dan konstruksi bata dengan adukan kapur untuk bagian atas (daerah kering).
Pengurasan jamban jenis ini menjadi tidak mudah untuk dilakukan. Dampak dari pengerjaan tukang yang kurang baik, akan dapat menyebabkan runtuh atau ring bergeser, sehingga nasehat ahli pertukangan sangat disarankan selama pengerjaan.

Tulisan ini mungkin masih jauh dari detail yang dibutuhkan rekan sanitarian. Namun setidaknya (harapannya) dapat menjadi sedikit acuan (semoga ….
9:38 PM | 0 comments | Read More

Aspek Kuantitas dan Kualitas Air Tanah

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, November 20, 2014 | 1:27 AM

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Air

Menurut Ringkasan Kajian Unicef Indonesia Oktober 2012, Di Indonesia, diare masih merupakan penyebab utama kematian anak berusia di bawah lima tahun. Laporan Riskesdas 2007 menunjukkan diare sebagai penyebab 31 persen kematian anak usia antara 1 bulan hingga satu tahun, dan 25 persen kematian anak usia antara satu sampai empat tahun.

Angka diare pada anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan sumur terbuka untuk air minum tercatat 34 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan air ledeng, Selain itu, angka diare lebih tinggi sebesar 66 persen pada anak-anak dari keluarga yang melakukan buang air besar di sungai atau selokan dibandingkan mereka pada rumah tangga dengan fasilitas toilet pribadi dan septik tank.

Kematian dan penyakit yang disebabkan oleh diare pada umumnya dapat dicegah. Bahkan tanpa perbaikan pada sistem pengairandan sanitasi, mencuci tangan secara tepat dengan menggunakan sabun dapat mengurangi resiko penyakit diare sebesar 42 sampai 47 persen.

Di daerah-daerah kumuh perkotaan, sanitasi yang tidak memadai, praktek kebersihan yang buruk, kepadatan penduduk yang berlebihan, serta air yang terkontaminasi secara sekaligus dapat menciptakan kondisi yang tidak sehat. Penyakit¬penyakit terkait dengan ini meliputi disentri, kolera dan penyakit diare lainnya, tipus, hepatitis, leptospirosis, malaria, demam berdarah, kudis, penyakit pernapasan kronis dan infeksi parasit usus.

Terkait dengan akses pada air bersih, menurut kajian Unicef diatas kita justru mengalami penurunan akses pada air bersih. Perbandingan dengan tahun 2007 menunjukkan akses air bersih pada tahun 2010 telah mengalami penurunan kira-kira sebesar tujuh persen. Perhitungan dengan menggunakan kriteria MDG nasional Indonesia untuk air bersih dan data dari sensus tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia harus mencapai tambahan 56,8 juta orang dengan persediaan air bersih pada tahun 2015. Di sisi lain, jika kriteria Program Pemantauan Bersama WHO-UNICEF (JMP) untuk air bersihii akan digunakan, Indonesia harus mencapai tambahan 36,3 juta orang pada tahun 2015. Permintaan terhadap penggunan air semakin meningkat, baik untuk keperluan irigasi, industri, air minum, rekreasi, dan lainnya. Namun yang menjadi masalah, tingkat persediaan air bersih relative tetap dengan kemampuan alam menahan air semakin berkurang.

Kuantitas merupakan jumlah air yang tersedia dan siap digunakan oleh masyarakat dengan ketentuan bahwa: Air minum yang dikonsumsi oleh penduduk baik di desa maupun di kota harus memperhatikan kualitas maupun kuantitasnya. Kebutuhan air bersih masyarakat perkotaan berkisar 150 lt/org/hr, dan untuk masyarakat pedesaan 80 lt/org/hr. Air tersebut digunakan untuk keperluan sehari¬hari dan keperluan pendukung lainnya termasuk yang mendukung kebutuhan¬-kebutuhan sekunder. Kebutuhan Pokok Air Minum adalah kebutuhan air sebesar 10 meter kubik konsumsi 100 lt/org/hr dan pedesaan sebanyak 40% dengan konsumsi 60 lt/org/hr.

Sedangkan pengertian kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter- parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang¬undangan yang berlaku. Kriteria mutu air adalah tolok ukur mutu air untuk setiap kelas air.

Menurut Permenkes RI No. 416 Tahun 1990 Kualitas air bersih meliputi kualitas secara fisika, secara kimia, secara mikrobiologi dan kualitas secara radioaktivitas. Sedangkan parameter-parameter yang harus terpenuhi meliputi :
  1. Parameter fisika meliputi: Bau, Rasa, Warna, Zat padat terlarut dan Suhu.
  2. Parameter kimia meliputi: kimia Anorganik seperti Air raksa, Arsen, Fluorida, Kadmium, Kesadahan (Ca CO3), Khlorida, Kromium-Valensi-6, Mangan, Nitrat sebgai N, Nitrit sebagai N, pH, Selenium, Seng, Sianida, Sulfat dan Timbal. Kimia Organik seperti Aldrin dan Dieldrin, Benzene, Benzo (a) pyrene, Chlordane (total isomer), Chloroform, 2,4 D, DDT, Detergen, ,2 Dichloroethane, 1,2 Dichloroethane, 1,1 Dichloroethane, Heptachlor dan heptachlor epoxide, Hexachlorbenzene, Gamma-HCH (Lindane), Methoxychlor, Pentachlorophenol, Pestisiotalda T, 3,4,6-Trichlorephenol, Zat Organik (KMnO4).
  3. Parameter Mikrobiologi meliputi: Total Caliform (MPN).
  4. Parameter Radioaktifitas meliputi: Aktivitas Alpha (Gross Alpha Activity), Aktivitas Beta (Gross Beta Activity).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Air
  1. Kedalaman Permukaan Air tanah: Kedalaman permukaan air tanah merupakan permukaan tertinggi dari air yang naik ke atas suatu sumuran atau tempat yang rendah. Ketiggian air tanah antara lain dipengaruhi oleh jenis tanah, curah hujan, penguapan, dan kedalaman aliran perkukaan terbuka (sungai). Kedalaman permukaan air tanah akan berpengaruh pada penyebaran bakteri coliform secara vertikal.
  2. Curah Hujan: Air hujan yang mengalir di permukaan tanah dapat menyebabkan bakteri coliform yang ada di permukaan tanah terlarut dalam air tersebut. Meresapnya air hujan ke dalam lapisan tanah mempengaruhi bergeraknya bakteri coliform di dalam lapisan tanah. Semakin banyak air hujan yang meresap ke dalam lapisan tanah semakin besar kemungkinan terjadinya pencemaran.
  3. Jenis Tanah: Jenis tanah berbeda mempunyai daya kandung air dan daya melewatkan air yang berbeda pula. Daya kandung atau kemampuan tanah untuk menyimpan air disebut porositas, yaitu rasio antara pori-pori tanah dengan volume total tanah dan biasannya dinyatakan dalam satuan persen, sedangkan kemampuan tanah untuk melewatkan air disebut permeabilitas, yaitu jumlah air yang dapat dilewatkan oleh tanah dalam satuan waktu per satuan luas penampang. Porositas dan permeabilitas tanah akan berpengaruh pada penyebaran bakteri coliform, mengingat air merupakan alat tranportasi bakteri dalam tanah. Makin besar permeabilitas tanah, makin besar kemampuan melewatkan air yang berarti jumlah bakteri yang dapat bergerak mengikuti aliran juga makin besar.
Kualitas air yang memenuhi syarat kesehatan pada umumnya berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
  • Secara alamiah memang air tersebut tidak memenuhi syarat, misalnya keruh, berwarna, berbau dan mengandung besi atau mangan dalam kadar yang berlebihan/tinggi.
  • Lingkungan sekitar sarana air bersih yang dapat mencemari air, misalnya terdapat jamban, pembuangan sampah, kandang ternak dan genangan air kotor pada jarak kurang 11 meter.
  • Konstruksi sarana air bersih yang tidak memenuhi persyaratan teknis seperti sumur gali tanpa dilengkapi bibir, dinding, lantai dan saluran pembuangan air bekas yang kedap air.
Refference, antara lin :
  • Ringkasan Kajian Unicef Indonesia Oktober 2012. Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan. www.unicef.or.id
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, Jakarta.
  • Manual Teknis Upaya Penyehatan Air, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, Depkes RI. 1995.
1:27 AM | 0 comments | Read More

Panduan WHO Pencegahan Infeksi Nosokomial


Panduan Praktis Pencegahan Infeksi Nosokomial

Terdapat Sebuah panduan praktis (edisi kedua) yang diterbitkan oleh Department of Communicable Disease, Surveillance and Response WHO. Panduan ini kami rasa penting perlu diketahui oleh rekan-rekan Sanitarian dan praktisi kesehatan masyarakat lainnya.

Berikut sekilas beberapa poin dalam panduan ini

Infeksi nosokomial - juga disebut sebagai suatu "infeksi didapat di rumah sakit" dapat didefinisikan sebagai Infeksi yang diperoleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Pengertian lain juga menyebut sebaga sebuah infeksi yang terjadi pada pasien yang melakukan perawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, dimana infeksi ini tidak ditemukan atau tidak dalam masa inkubasi pada saat pasien masuk rumah sakit.

Infeksi nosokomial terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi baik pada negara maju maupun negara miskin sumber daya. Infeksi ini merupakan  salah satu penyebab utama kematian dan morbiditas meningkat pada pasien rawat inap. Mereka adalah beban yang signifikan baik bagi pasien maupun kesehatan masyarakat. Sebuah survei prevalensi dilakukan di bawah naungan WHO yang dilakukan pada 55 rumah sakit dari 14 negara yang mewakili 4 wilayah WHO (Eropa, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat) menunjukkan

  1. Rata-rata 8,7% dari pasien rumah sakit mengalami infeksi nosokomial.
  2. Lebih dari 1,4 juta orang di dunia menderita komplikasi infeksi yang diperoleh di rumah sakit
  3. Frekuensi tertinggi infeksi nosocomial dilaporkan dari rumah sakit di Timur Tengah dan Asia Tenggara (masing-masing sebesar 11,8% dan 10,0%), dengan prevalensi 7,7% dan 9,0% masing-masing di wilayah Eropa Barat dan Pacific
  4. Infeksi nosokomial yang paling sering adalah jenis infeksi karena luka bedah, infeksi saluran kemih dan infeksi saluran pernafasan bawah. Penelitian WHO, dan lain-lain, juga telah menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi infeksi nosokomial terjadi di unit perawatan intensif,  bangsal bedah dan ortopedi akut. Angka infeksi yang lebih tinggi di antara pasien dengan kerentanan meningkat karena faktor usia, penyakit bawaan, atau karena tindakan kemoterapi.

Dampak infeksi nosokomial
Infeksi nosokomial juga salah satu penyebab utama kematian. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan inos cukup besar, antara lain karena memperpanjang masa tinggal rawat inap pasien di rumah sakit, merupakan kontributor terbesar untuk kenaikan komponen biaya. Satu studi menunjukkan bahwa peningkatan secara menyeluruh dalam durasi perawatan di rumah sakit (karena inos), untuk pasien dengan infeksi luka bedah adalah 8,2 hari, mulai dari 3 hari untuk ginekologi menjadi 9,9 untuk operasi umum dan 19,8 untuk bedah ortopedi.

Masa tinggal yang berkepanjangan tidak hanya meningkatkan biaya langsung kepada pasien tetapi juga biaya tidak langsung karena kehilangan pekerjaan. Peningkatan penggunaan obat-obatan, kebutuhan untuk isolasi, dan penggunaan laboratorium tambahan dan studi diagnostik lainnya juga berkontribusi terhadap biaya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan infeksi nosokomial, antara lain :

Faktor Agent Penyakit (the microbial agent)
Kontak antara pasien dan mikroorganisme tidak dengan sendirinya secara klinis mengakibatkan perkembangan penyakit. Terjadinya  infeksi tergantung sebagian pada karakterstik mikroorganisme, termasuk ketahanan terhadap agent, virulensi intrinsik, dan jumlah bahan infektif. Banyak jenis bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang diperoleh dari orang lain di rumah sakit (infeksi silang) atau mungkin disebabkan oleh flora pasien sendiri. Beberapa organisme dapat diperoleh dari benda mati atau infeksi dari lingkungan. Kemajuan dalam pemakaian antibiotik telah secara signifikan mengurangi resiko terjadinya infeksi karena bakteri, dan telah menurunkan tingkat kematian penyakit menular.

Kerentanan Pasien (patient susceptibility)
Faktor  penting pasien yang mempengaruhi terjadinya. Pasien dengan penyakit kronis seperti leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) memiliki peningkatan kerentanan terhadap infeksi.

Faktor Lingkungan (environmental factors)
Pengaturan lingkungan perawatan harus dilakukan dengan baik. Lingkungan sebagai tempat berkumpul orang memungkinkan terjadinya peningkatan interaksi antara orang yang terinfeksi dan orang-orang beresiko terinfeksi. Pasien dengan infeksi dirawat di rumah sakit  atau  mikroorganisme patogen merupakan sumber potensial dari infeksi baik pada pasien maupun staf.

Faktor Resistensi Bakteri (bacterial resistance)
Banyak pasien menerima obat antimikroba. Melalui seleksi dan pertukaran elemen resistensi secara genetik, penggunaan antibiotik berpotensi memunculkan strain bakteri yang resisten terhadap obat. Meluasnya penggunaan antimikroba untuk terapi atau profilaksis merupakan penentu utama resistensi. Agen antimikroba dalam beberapa kasus, menjadi kurang efektif karena resistensi. Banyak strain pneumococci, staphylococci, enterococci, dan TBC saat ini resisten terhadap sebagian besar atau semua antimikroba yang dulunya efektif.

Panduan WHO untuk pencegahan infeksi nosokomial ini secara detail berisi hal-hal sebagai berikut :

Chapter I. Epidemiology of nosocomial infections   
  • Definitions of nosocomial infections    
  • Nosocomial infection sites    
  • Urinary infections    
  • Surgical site infections    
  • Nosocomial pneumonia    
  • Nosocomial bacteraemia    
  • Other nosocomial infections    
  • Microorganisms    
  • Bacteria    
  • Viruses    
  • Parasites and fungi    
  • Reservoirs and transmission    
Chapter II. Infection control programmes    
  • National or regional programmes    
  • Hospital programmes    
  • Infection Control Committee
  • Infection control professionals (infection control team)    
  • Infection control manual    
  • Infection control responsibility
  • Role of hospital management    
  • Role of the physician    
  • Role of the microbiologist    
  • Role of the hospital pharmacist    
  • Role of the nursing staff    
  • Role of the central sterilization service    
  • Role of the food service    
  • Role of the laundry service    
  • Role of the housekeeping service    
  • Role of maintenance    
  • Role of the infection control team (hospital hygiene service)    
  Chapter III. Nosocomial infection surveillance    
  • Objectives    
  • Strategy    
  • Implementation at the hospital level    
  • Implementation at the network (regional or national) level    
  • Methods    
  • Prevalence study    
  • Incidence study    
  • Calculating rates    
  • Organization for efficient surveillance    
  • Data collection and analysis    
  • Feedback/dissemination    
  • Prevention and evaluation    
  • Evaluation of the surveillance system    
  • Evaluation of the surveillance strategy    
  • Feedback evaluation    
  • Validity/data quality    

Chapter IV. Dealing with outbreaks    

  • Identifying an outbreak    
  • Investigating an outbreak    
  • Planning the investigation    
  • Case definition    
  • Describing the outbreak    
  • Suggesting and testing a hypothesis    
  • Control measures and follow-up    
  • Communication    
Chapter V. Prevention of nosocomial infection    
  • Risk stratification    
  • Reducing person-to-person transmission    
  • Hand decontamination    
  • Personal hygiene    
  • Clothing    
  • Masks    
  • Gloves    
  • Safe injection practices    
  • Preventing transmission from the environment    
  • Cleaning of the hospital environment    
  • Use of hot/superheated water    
  • Disinfection of patient equipment    
  • Sterilization    

Chapter VI. Prevention of common endemic nosocomial infections    

  • Urinary tract infections (UTI)    
  • Surgical wound infections (surgical site infections)
  • Operating room environment    
  • Operating room staff    
  • Pre-intervention preparation of the patient    
  • Antimicrobial prophylaxis    
  • Surgical wound surveillance    
  • Nosocomial respiratory infections    
  • Ventilator-associated pneumonia in the intensive care unit    
  • Medical units    
  • Surgical units    
  • Neurological patients with tracheostomy    
  • Infections associated with intravascular lines    
  • Peripheral vascular catheters
  • Central vascular catheters    
  • Central vascular totally implanted catheters    
Chapter VII. Infection control precautions in patient care    
  • Practical aspects    
  • Standard (routine) precautions    
  • Additional precautions for specific modes of transmission    
  • Antimicrobial-resistant microorganisms    
Chapter VIII. Environment    
  • Buildings    
  • Planning for construction or renovation    
  • Architectural segregation    
  • Traffic flow    
  • Materials    
  • Air    
  • Airborne contamination and transmission
  • Ventilation    
  • Operating theatres    
  • Ultra-clean air    
  • Water    
  • Drinking-water    
  • Baths    
  • Pharmaceutical (medical) water    
  • Microbiological monitoring    
  • Food    
  • Agents of food poisoning and foodborne infections    
  • Factors contributing to food poisoning    
  • Prevention of food poisoning
  • Waste
  • Definition and classification    
  • Handling, storage and transportation of health care waste    
 Chapter lX. Antimicrobial use and antimicrobial resistance    
  • Appropriate antimicrobial use    
  • Therapy    
  • Chemoprophylaxis    
  • Antimicrobial resistance    
  • MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus)    
  • Enterococci    
  • Antibiotic control policy    
  • Antimicrobial Use Committee    
  • Role of the microbiology laboratory    
  • Monitoring antimicrobial use    
Chapter X. Preventing infections of staff    
  • Exposure to human immunodeficiency virus (HIV)    
  • Exposure to hepatitis B virus    
  • Exposure to hepatitis C virus    
  • Neisseria meningitidis infection    
  • Mycobacterium tuberculosis    
  • Other infections    

Jika memungkinkan akan kita tuliskan pada posting berikutnya, detail per bab panduan ini. Dokumen lengkap dapat rekan-rekan akses di http://www.who.int/emc
1:26 AM | 0 comments | Read More

Sanitasi Rumah Faktor Risiko Infeksi Kecacingan

Kualitas Sanitasi Rumah Dan Faktor Risiko Infeksi Kecacingan

Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat dengan penyakit berbasis lingkungan, dimana kecenderungannya semakin meningkat akhir-akhir ini Dari sisi epidemiologis, telah terjadi pula transisi yang cukup cepat terhadap beberapa penyakit menular, seperti  penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), Flu Burung, Leptospirosis. Terdapat beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa sanitasi rumah yang tidak baik dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi cacing tambang pada anak.  Kualitas Sanitasi rumah adalah kondisi sanitasi dasar lingkungan rumah dengan prinsip-prinsip usaha untuk meniadakan atau setidak-tidaknya menguasai faktor-faktor lingkungan yang dapat menimbulkan penyakit melalui kegiatan¬kegiatan untuk mengendalikan: sanitasi air, sanitasi makanan, pembuangan kotoran, air buangan dan sampah, sanitasi udara, vektor dan binatang pengerat serta hygiene perumahan.

Sedangkan secara garis besar beberapa indikator kualitas sanitasi rumah yang berhubungan dengan kasus kecacingan antara lain sebagai berikut:

Jamban Keluarga
Menurut Machfoedz (2008), beberapa syarat pembuangan tinja antara lain meliputi tidak mengkontaminasi tanah, sumber air tanah, air permukaan, tidak dapat dicapai berbagai hewan seperti lalat, kecoa, tikus dan tidak menyebabkan bau dan mengganggu estetis. Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan penyebaran berbagai macam penyakit, daintaranya penyakit kecacingan.  Pembuangan kotoran yang tidak sehat menyebabkan telur cacing dapat dengan mudah menyebar dilingkungan.

Menurut  Gandahusada dkk (2004), berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyebaran telur cacing di lingkungan, antara lain dengan membuang tinja di jamban. Sementara menurut Sumanto (2010), anak yang mempunyai kebiasaan buang air besar di kebun dan di halaman rumah akan beresiko terinfeksi kecacingan dibanding anak yang mempunyai kebiasaan buang air besar di jamban. Telur cacing yang matang dapat mencemari tanah atau air limbah dan menginfeksi manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari beberapa pernyataan tersebut di atas peneliti bisa menyimpulkan bahwa pembuangan tinja di jamban akan memutus rantai penularan penyakit kecacingan.

Lantai rumah
Masih menurut Machfoedz (2008), beberapa persyaratan fisik rumah sehat, diantaranya yaitu kontruksi rumah harus kuat dan baik, terutama lantai rumah. Hal ini disebabkan karena banyak penyakit dapat ditularkan melalui media tanah, salah satunya penyakit kecacingan pada anak  Menurut Depkes R.I (2006), penyebaran penyakit kecacingan dapat melalui kontaminasi tanah dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura.

Telur diatas dapat tumbuh dalam tanah liat yang lembab dan tanah dengan suhu optimal ± 30°C. Menurut Gandahusada dkk (2004), tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar antara 25°C- 30°C sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi bentuk infektif Pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28°C-32°C dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23°C-25°C.

Ketersediaan air bersih
Pengertian umum air bersih, merupakan air yang digunakan untuk keperluan sehari hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.  Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya syarat fisik (tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna), syarat kimia (kadar besi, maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, kesadahan, maks 500 mg/l, syarat mikrobiologis (koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air).

Sebagaimana kita ketahui, air dapat dapat berperan sebagai faktor utama dalam berbagai penularan jenis penyakit seperti thypus,dysentery, diare, kholera dan kecacingan. Menurut Gandahusada dkk (2004), terpenuhinya kebutuhan air sehari-hari (seperti untuk keperluan aie bersih di jamban, untuk mandi dan cuci tangan secara teratur), merupakan upaya pengendalian penyakit kecacingan. Pendapat senada dikemukakan Sadjimin (2000), bahwa infeksi kecacingan pada manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tidak terdapatnya air bersih dan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Sarana pembuangan sampah

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik, seperti menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sampah dapat berpengaruh negatif terhadap dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara.
Sampah dapat menjadi sarang vektor-vektor penyakit seperti lalat, kecoak dan binatang-binatang lain yang senang berkembang biak di dalam sampah padat yang kotor terutama cacing-cacing tertentu yang bisa membahayakan kesehatan seperti cacing cambuk dan cacing gelang. Pengelolaan sampah yang paling sederhana dengan cara dikumpulkan kemudian dibuang kelubang khusus sampah setelah penuh baru ditimbun dengan tanah, dibuang ke tempat sampah keluarga dan ada juga yang kemudian diambil tukang sampah untuk dikirim ke tempat pembuangan sampah umum. Peneliti berpendapat bahwa pengelolaan sampah yang baik (tempat sampah yang tertutup) dapat mencegah rantai penularan penyakit kecacingan oleh vektor biologis (lalat dan kecoa).

Sarana pembungan air limbah

Limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan genangan dan mencemari lingkungan, disamping tidak baik dari aspek estetika juga dapat menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit. Menurut Machfoedz (2008), air limbah rumah tangga sebaiknya di buang ke dalam tanah dengan membuat resapan di halaman atau tempat lain di sekitar rumah, yang syaratnya paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur. Sementara menurut Notoatmojo (2007), pengelolaan air limbah bertujuan agar tidak mencemari badan air, tanah, dan lingkungan. Air limbah banyak mengandung bibit penyakit, sehingga pengolahan air limbah perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran air limbah dilingkungan. Pencemaran limbah di lingkungan menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit kecacingan. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang

Kebersihan halaman rumah.
Menurut Depkes RI (2006), penyakit kecacingan pada anak disebabkan karena kondisi lingkungan yang jelek seperti halaman rumah yang kotor sebagai tempat bermain anak, merupakan sumber penularan penyakit kecacingan. Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah yaitu cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang. Mengingat penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan, salah satu cara pengendaliannya perlu peningkatan kualitas sanitasi lingkungan terutama kebersihan halaman rumah.

Sosial ekonomi

Semakin rendah tingkat kemiskinan masyarakatnya maka akan semakin berpeluang untuk mengalami infeksi kecacingan. Hal ini dihubungkan dengan kemampuan dalam menjaga personal higiene dan sanitasi lingkungan tempat tinggalnya. Jumlah prevalensi tertinggi penyakit kecacingan ditemukan di daerah pinggiran atau pedesaan yang masyarakatnya sebagian besar masih hidup dalam kekurangan (Hotez,2008).

Perilaku
Beberapa Perilaku buruk yang menyebabkan infeksi kecacingan antara lain membuang tinja sembarang tempat, tidak mengelola makanan dan minuman secara bersih dan sehat, tidak mencuci tangan sebelum makan, dan tidak memakai alas kaki bila keluar rumah. Menurut Achmadi (2005), perilaku penduduk berhubungan dengan lingkungan bisa menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit. Hubungan interaktif antara komponen lingkungan dengan penduduk berikut perilakunya, dapat diukur dalam konsep perilaku pejamu. Perilaku pejamu adalah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi bahaya penyakit. Komponen lingkungan yang mengandung potensi penyakit dapat digambarkan sebagai berikut: seorang anak mempunyai perilaku tidak menggunakan alas kaki waktu bermain dan keluar rumah, bila dalam lingkungan tersebut ada bibit penyakit (parasit cacing), kemungkinan akan terinfeksi penyakit kecacingan. Perilaku hidup tidak sehat seperti ini dapat disebut sebagai faktor risiko kesehatan.


Referensi, antara lain:
  • Depkes RI, 2006. Pedoman Pengendalian Cacingan, Keputusan Menteri Kesehatan No.424/Menkes/SK/VI/2006.
  • Gandahusada S, dkk, 2004. Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran UI
  • Machfoedz, Ircham, 2008. Menjaga Kesehatan Rumah dari Berbagai Penyakit, Fitramaya
  • Achmadi, U. F, 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Penerbit Buku Kompas.
  • Notoatmojo, Soekijo, 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan seni. Rineka Cipta.
  • Hotez P, 2008. Hookworm and Poverty, Department of Microbiology, Immunology and Tropical Medicine, The George Washington University
1:25 AM | 0 comments | Read More

Kesehatan Lingkungan dan Global Health

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, November 6, 2014 | 10:58 PM

Perkembangan Global Health dan ikutan Wajah Kesehatan Lingkungan

Global health atau kesehatan global merupakan sebuah wilayah untuk studi, penelitian, dan praktek yang menempatkan prioritas pada peningkatan kesehatan dan mencapai kesetaraan dalam kesehatan bagi semua orang di seluruh dunia. Kesehatan global ini terutama menekankan masalah kesehatan transnasional atau antar negara beserta determinan, dan solusi pemecahannya. Global health melibatkan banyak disiplin ilmu di dalam dan di luar ilmu kesehatan serta berusaha mengabungkan serta sinkronisasi berbagai cabang disiplin ilmu. Disiplin ilmu ini juga menekankan pentingnya berbagai usaha pencegahan di penyakit dan masalah kesehatan pada tingkatan populasi yang dibarengi dengan usaha perawatan pada tingkat  individu (Consortium of Universities for Global Health Executive Board, 2009)

BENDERA KARANTINA
Sejarah perkembangan glogal health sendiri dimulai dengan tonggak peristiwa yang secara langsung maupun tidak ikut berpengaruh pada perkembangan penyakit dan masalah kesehatan di dunia. Beberapa peristiwa terkait diantaranya antara lain :

Konsep Karantina: Konsep karantina ini merupakan era dimulainya strategi kesehatan global modern. Karantina atau quadraginta (latin) berarti 40. Pada awalnya  konsep ini menerapkan konsep isolasi selama 40 hari terhadap semua penderita penyakit pes. Sebagaimana kita ketahui pada tahun 1348 lebih dari 60 juta orang meninggal karena penyakit Pes. Peristiwa ini dikenal sebagai Black Death. Pada tahun 1348 Pelabuhan Venesia sebagai salah satu pelabuhan yang terbesar di Eropa melakukan upaya karantina dengan cara menolak masuknya kapal yang datang dan daerah terjangkit Pes atau dicurigai terjangkit penyakit pes (plague).

Kota Roguasa pada tahun 1377 menetapkan peraturan bahwa penumpang dari daeah terjangkit penyakit pes harus tinggal di suatu tempat diluar pelabuhan dan tinggal di sana selama 2 bulan supaya bebas dari penyakit. Itulah sejarah tindakan karantina dalam bentuk isolasi pertama kali dilakukan. terhadap manusia.
Pada tahun 1383 di Marseille, Perancis, ditetapkan UU Karantina yang pertama dan didirikan Station Karantina yang pertama.

Tahap perdangangan dan perbudakan: Tahap ini telah memunculkan era pertukaran penyakit dan masalah kesehatan antar negara, seiring lalu lintas dan mobilitas pergerakan manusia antar negara yang mengikutinya.

Era lahirnya kedokteran tropis: Era ini dimulai ketika banyak penyakit tropis meluas ke Eropa Utara dan Amerika Utara (Abad 17-19). Beberapa penyakit yang menandai era itu misalnya Plasmodium vivax (malaria), Plague, Typhoid, Cholera, Cacar. P. vivax menjadi indigenous di southeast England. Kedokteran tropis sendiri pada mulanya berasal  Kerajaan Inggris atau Colonial science, yang dikembangkan sebagai komponen penting dari Future development of British economic and social imperialism. Bidang ini dimanfaatkan oleh kolonialis untuk menjaga kesehatan personil British di berbagai wilayah kekuasaan dan sekembalinya ke Inggris. Sedangkan berbagai disiplin ilmu yang terlibat antara lain kesehatan masyarakat, travel dan eksplorasi, ilmu pengetahuan alam, teori evolusi, dan pengetahuan  tentang penyebab penyakit. Beberapa lembaga dan perguruan tinggi dunia yang mengembangkan ilmu kedokteran tropis diantaranya School of Tropical Medicine, London (1899), Liverpool School of Tropical Medicine (1899), London School of Hygiene and Tropical Medicine (1929), Ross Institute for Tropical Hygiene (1934).

International Sanitary Conferences dan L’Office Internationale d’Hygiene Publique (OIHP):
Latar belakang lahirnya konferensi ini ditandai antara lain, bahwa pada kurun waktu 1830 – 1847,wabah kolera melanda Eropa. Kemudian dilaksanakan diplomasi penyakit infeksi secara intensif dan kerjasama multilateral kesehatan masyarakat yang kemudian menghasilkan international sanitary conference, di Paris pada tahun 1851, yang kemudian dikenal sebagai ISR 1851. Pada tahun 1951 World Health Organization mengadopsi regulasi yang dihasilkan oleh international sanitary conference. Kemudian pada tahun 1969 diubah lagi menjadi  International Health Regulations (IHR) dan dikenal sebagai IHR 1969. tujuan ihr adalah untuk menjamin keamanan maksimum terhadap penyebaran penyakit infeksi dengan melakukan tindakan yang sekecil mungkin mempengaruhi lalu lintas dunia. Pada tahun 1983 WHO melakukan revisi international health regulations menjadi IHR 1969 third annotated edition. Dengan revisi ini penyakit Karantina yang dulunya 6 penyakit menjadi 3 penyakit yaitu Pes (Plague), Demam kuning (Yellow Fever) serta Kolera.

The League of Nations Health Organization: Liga bangsa-bangsa sendiri merupakan sebuah organisasi antar pemerintah yang didirikan sebagai hasil dari Konferensi Perdamaian Paris yang mengakhiri Perang Dunia Pertama. Ini adalah organisasi internasional pertama permanen yang utama misi adalah untuk menjaga perdamaian. Sedangkan terkait kesehatan, Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia telah ditandatangani oleh semua 61 negara dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 22 Juli 1946. Sejak pembentukannya, WHO telah bertanggung jawab untuk memainkan peran utama dalam pemberantasan cacar. Prioritas saat ini meliputi penyakit menular, khususnya, HIV / AIDS, malaria dan TBC, mitigasi dampak penyakit tidak menular, kesehatan seksual dan reproduksi, pengembangan, dan penuaan, nutrisi, keamanan dan kesehatan makanan, dan lain sebagainya.

Office of Malaria control in War areas: 1942-1945 :
Latar belakang era ini dimulai ketika mulai disadari oelh para pemimpin perang bahwa malaria telah melumpuhkan dan membunuh banyak serdadu mereka, sehingga tindakan khusus penting segera dilakukan untuk menjamin keselamatan tentara dari keganasan penyakit ini.

WHO Constitution (1946): Konstitusi WHO ini merekomendasikan kesehatan untuk semua orang, dengan definisi kesehatan sebagai keadaan sejahtera dari fisik, mental dan sosial dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kecacatan.

The Cold War Effect:1949-1956 : Perang Dingin adalah sebutan bagi situasi tegang dan konflik antara Blok Barat dengan komando Amerika Serikat dan Blok Timur dibawah Uni Soviet. Dampak era ini juga berimbas pada bidang kesehatan dan epidemiologi, dengan kompetisi dibidang pengembangan vaksin, eradikasi berbagai penyakit, dan lain sebagainya.

The global malaria Eradication (1955-1978): Tahap ini di Indonesia ditandai dengan pencanangan Kopem (Komando pemberantasan malaria) oleh Presiden Soekarno yang kemudian diikuti penyemprotan nyamuk malaria secara simbolis pada tanggal 12 November 1964, di desa Kalasan, kota Yogyakarta, yang kemudian kita kenal sebagai Hari Kesehatan Nasional itu. Dikemudian hari kopem ini merupakan cikal bakal lahirnya konsep dan lembaga Puskesmas.

The Small Pox Eradication (1959): Pemberantasan penyakit cacar disebut merupakan prestasi terbesar dalam kesehatan masyarakat.Sebuah resolusi Majelis (Kesehatan Dunia WHA33.3), yang diadopsi pada tanggal 8 Mei 1980, menyatakan bahwa tujuan global pemberantasan cacar telah dicapai, dimana kasus terakhir ditemukan pada tanggal 26 Oktober 1977 di Somalia. Temuan ini kemudian diikuti oleh dua tahun pencarian kasus aktif untuk memastikan bahwa penularan virus itu telah dihentikan.

Alma Ata Conference (1978): Deklarasi Alma-Ata diadopsi pada Konferensi Internasional tentang Kesehatan hasil konferensi ini antara lain mengemukakan pentingnya tindakan mendesak oleh semua pemerintah, semua pekerja kesehatan dan pembangunan, dan masyarakat dunia untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan semua orang. Deklarasi ini merupakan deklarasi internasional pertama yang menggarisbawahi pentingnya perawatan kesehatan primer. Dan sejak itu diterima oleh negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kunci untuk mencapai tujuan "Kesehatan Untuk Semua".

Health for All in the Year 2000: merupakan deklarasi dari "Kesehatan untuk Semua di Tahun 2000" menganjurkan pendekatan "inter-sektoral" dan multidimensi untuk kesehatan dan pembangunan sosial ekonomi, menekankan penggunaan "teknologi tepat guna," dan mendesak partisipasi aktif masyarakat dalam perawatan kesehatan dan pendidikan kesehatan di setiap tingkat.

Selective vs comprehensive primary health care:
Kita mengenal era ini dengan istilah G.O.B.I, yang merupakan akronim dari huruf pertama yang menggambarkan masing-masing empat unsur dalam paket intervensi yaitu Growth monitoring atau monitoring pertumbuhan anak, Oral  rehydration therapy  atau terapi rehidrasi oral dalam kasus diare, Breast  feeding  atau pemberian ASI eksklusif pada bayi serta Immunization atau imunisasi. Dalam prakteknya masih sering terjdi perdebatan efektifitas program ini dengan Primary Health Care. Program ini dipelopori oleh UNICEF.

The recipe for economic recession:
Era ini ditandai dengan adanya krisis minyak pada tahun 1970-an, yang melahirkan kebijakan formula dari Bank Dunia, IMF dan AS, diantaranya dengan melakukan pemotongan secara drastis terhadap belanja publik termasuk kesehatan. Hal ini untuk mengurangi inflasi dan hutang public. Paket kebijakan yang terkenal ari formula ini antara lain privatisasi di semua sector serta desentralisasi.

The decline of WHO:
Pada tahun 1982 terjadi pengurangan (pembekuan?) anggaran WHO sangat signifikan.yang diikuti kebijakan Amerika Serikat (1985) untuk menahan kontribusi anggaran rutin mereka pada WHO sebagai protes terhadap kebijakan program Obat Esensial dan international Code on pengganti ASI.

Bagaimana dengan wajah kesehatan lingkungan pada berbagai proses diatas  ...  ?  .. to be continued ...
10:58 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik