Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Sanitasi Perilaku Penjamah Makanan

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, June 19, 2016 | 11:47 PM


Faktor Perilaku Penjamah Makanan Pada Laik Hygiene Kantin

Makanan selain mutlak bermanfaat, juga dapat sebagai media penularan penyakit dan masalah kesehatan. Kondisi ini dapat terjadi, baik secara alamiah (include dalam makanan) maupun masuk dari luar, seperti makanan menjadi beracun karena tercemar mikroba.

Beberapa defenisi atau pengertian makanan, diantaranya : Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan hygienis serta berguna bila dimasukan ke dalam tubuh, dan makanan jadi adalah makanan yang telah diolah dan atau langsung disajikan/dikonsumsi ((Depkes, 1996).

Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukan ke dalam tubuh, sedangkan zat gizi yang dimaksud adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan Menurut Almatsier (2002).

Berdasarkan beberapa penelitian, penyebab beberapa kasus keracunan makanan diantaranya adalah bakteri Staphylococcus aureus, Vibrio cholera, E.coli dan Salmonella. Bakteri E.coli dan Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri indikator untuk menilai kualitas sanitasi makanan. Bakteri E.coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan maupun manusia. Sedangkan sumber bakteri Staphylococcus aureus dapat berasal dari tangan, rongga hidung, mulut dan tenggorokan pekerja. Sekitar 70 % kasus keracunan makanan di dunia disebabkan oleh makanan siap santap yaitu makanan yang sudah diolah, terutama oleh usaha katering, rumah makan, kantin, restoran maupun makanan jajanan (Fardiaz, 1997).

Makanan mulai dari awal proses pengolahan sampai siap dihidangkan dapat memungkinkan terjadi kontaminasi oleh bakteri. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan kontaminasi bakteri pada makanan antara lain dapat berasal dari orang yang mengolah atau menangani makanan termasuk perilaku dan higiene perorangan orang yang menangani makanan tersebut serta faktor tempat/bangunan pengelolaan makanan termasuk sanitasinya (Depkes, 1999).

Usaha untuk meminimalisasi dan menghasilkan kualitas makanan yang memenuhi standard kesehatan, dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip sanitasi. Menurut Jenie (1996) bahwa “ilmu sanitasi merupakan penerapan dari prinsip-prinsip yang akan membantu memperbaiki, mempertahankan, atau mengembalikan kesehatan yang baik pada manusia, sanitasi meliputi kegiatan–kegiatan aseptik dalam persiapan, pengolahan, dan penyajian makanan; pembersihan dan sanitasi lingkungan kerja; dan kesehatan pekerja. Secara lebih terinci sanitasi meliputi pengawasan mutu bahan makanan mentah, penyimpanan bahan, suplai air yang baik, pencegahan kontaminasi makanan dari lingkungan, peralatan, dan pekerja, pada semua tahap proses”.


Sebagaimana teori HL Bloom, faktor perilaku terkait pengelolaan makanan ini menjadi faktor penting dalam hygiene sanitasi makanan. Aspek perilaku ini, termasuk perilaku sehat merupakan hal-hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan. Hal tersebut termasuk tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, menjaga kebersihan tubuh perorangan, menjaga sanitasi makanan dan penyajian makanan. Peran penjamah makanan termasuk perilaku higienis merupakan salah satu faktor dalam penyediaan makanan atau minuman yang memenuhi syarat kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Pendapat senada mengungkapkan bahwa bahwa - sanitasi merupakan bagian penting dalam pengolahan pangan yang harus dilaksanakan dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut (Purnawijayanti, 2001).

Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan sampai dengan penyajian. Peran penjamah makanan sangat penting dan merupakan salah satu faktor dalam penyediaan makanan/minuman yang memenuhi syarat kesehatan. Personal higiene dan perilaku sehat penjamah makanan harus diperhatikan. Seorang penjamah makanan harus beranggapan bahwa sanitasi makanan harus merupakan pandangan hidupnya serta menyadari akan pentingnya sanitasi makanan, higiene perorangan dan mempunyai kebiasaan bekerja, minat maupun perilaku sehat (WHO dan Depkes RI, 2004).

Pemeliharaan kebersihan penjamah makanan, penanganan makanan secara higienis dan higiene perorangan dapat mengatasi masalah kontaminasi makanan. Dengan demikian kebersihan penjamah makanan adalah sangat penting untuk diperhatikan karena merupakan sumber potensial dalam mata rantai perpindahan bakteri ke dalam makanan sebagai penyebab penyakit. WHO (1996) menyebutkan penjamah makanan menjadi penyebab potensial terjadinya kontaminasi makanan apabila: 1) menderita penyakit tertentu; 2) kulit, tangan, jari-jari dan kuku banyak mengandung bakteri kemudian kontak dengan makanan; 3) apabila batuk, bersin maka akan menyebarkan bakteri; 4) akan menyebabkan kontaminasi silang apabila setelah memegang sesuatu kemudian menyajikan makanan; dan 5) memakai perhiasan (Jenie, 1996).

Persyaratan higiene perilaku penjamah makanan
Persyaratan higiene perilaku penjamah makanan, khususnya pda kantin sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003 meliputi, antara lain :
a.    Semua kegiatan pengolahan makanan harus dilakukan dengan cara terlindung dari kontak langsung dengan tubuh.
b.   Perlindungan kontak langsung dengan makanan dilakukan dengan : sarung tangan plastik, penjepit makanan, sendok garpu dan sejenisnya.
c.       Setiap tenaga pengolah makanan pada saat bekerja harus memakai celemek dan penutup rambut.
d.      Setiap tenaga penjamah makanan pada saat bekerja harus berperilaku :
·         Tidak makan atau mengunyah makanan kecil/permen.
·         Tidak memakai perhiasan (cincin).
·         Tidak bercakap-cakap.
·         Selalu mencuci tangan sebelum bekerja dan setelah keluar dari kamar kecil.
·         Tidak memanjangkan kuku.
·         Selalu memakai pakaian yang bersih.

11:47 PM | 0 comments | Read More

Berbagai Macam Alat Pengendali Vektor

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, June 14, 2016 | 11:39 PM

Peralatan Pengendalian Vektor, Peralatan Fogging


Masih semangat upload soal vektor dan penyakit menular. Walaupun trend angka kesakitan dan kematian penyakit tidak menular (PTM) telah melampauai penyakit menular, namun penularan penyakit melalu perantara vektor masih sangat penting dikelola.

Berikut beberapa peralatan untuk pengendalian vektor khususnya nyamuk menurut Permenkes 374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor.


1).    Spray – can (Alat semprot bertekanan yang dioperasikan dengan tangan (Compression Sprayer).

Alat semprot ini terutama digunakan untuk penyemprotan residual pada permukaan dinding dengan Pestisida, terdiri dari tangki formulasi yang berbentuk silinder dilengkapi dengan pompa yang dioperasikan dengan tangan dengan 2 (dua) pegangan pada ujung batang pompa (bila dikehendaki), komponen pengaman tekanan, selang yang tersambung di bagian atas batang pengisap, trigger valve dengan pengunci, tangkai semprotan, pengatur keluaran dan nozzle dan komponen tambahan lainnya yang dinyatakan oleh produsen.

Alat semprot harus mempunyai tempat meletakkan tangkai semprot ketika tidak digunakan, tidak ada bagian yang tajam sehingga dapat melukai operator dan tidak terdapat komponen yang terbuat dari kayu. Jenis bahan termasuk penutup lubang pengisian harus dinyatakan secara jelas dan harus tahan terhadap korosi, tekanan dan sinar ultra violet. Tidak boleh terjadi kerusakan, kebocoran pada (las) sambungan atau keretakan ketika dilakukan uji daya tahan ( Fatique test). Tidak boleh ada kandungan timbale atau seng pada bahan penyolder kecuali pada sambungan, tangkai semprotan, trigger valve, badan nozzle dan pipa pengisap.Dalam keadaan terisi penuh pada pengoperasian normal,beratnya harus dinyatakan dan tidak boleh melebihi 25 Kg.

Tangki formulasi alat semprot ini dengan volume untuk operasional secara normal dinyatakan, diameter lubang pengisian tidak kurang dari 90 mm dan klep tekanan/ klep pembuang tekanan harus terletak di bagian atas alat semprot dan mampu membuang habis tekanan sebelum tangki dibuka dan ketika beroperasi harus mampu menahan tekanan agar alat semprot dapat bekerja normal. Klep tekanan keamanan (Safety Pressure Valve) maksimum mampu menahan +/- 10 persen dari tekanan kerja maksimum dan harus mampu menahan tekanan agar alat semprot dapat bekerja normal.Tali sandang dan gesper, minimal lebarnya 50 mm dan panjang yang dapat diatur dengan minmal 100 cm. Tali sandang dan pengencangnya harus mampu bertahan pada uji jatuh (drop test).

Pompa dengan tangki yang berisi penuh sesuai kapasitas dan semua komponen terpasang, harus mampu mencapai tekanan kerja maksimum dengan pemompaan tidak melebihi ke 60
Klep udara pompa harus mampu menahan cairan agar tidak masuk ke dalam silender pompa ketika tekanan pompa pada tekanan kerja maksimum dan tangkai pompa berada posisi terdorong penuh ke dalam. Ukuran penyaring (filter) yang apabila filter tidak tersedia pada nozzle yang lubangnya antara 0,3 mm – 0,5 mm, maka filter pada trigger valve harus lebih kecil dari lubang pada nozzle terpasang dan tidak lebih besar dari 50 mesh. Alat semprot setidaknya dilengkapi dengan 1 atau 2 penyaring dengan ukuran mesh yang dapat mencegah terjadinya penyumbatan. Salah satu penyaring terletak persis di belakang nozzle.Panjang selang dinyatakan dan tidak kurang dari 1500 mm terbuat dari bahan yang memenuhi syarat.

Tuas buka / tutup aliran (Trigger valve). Tipe dari trigger valve dinyatakan dan harus tidak terjadi kebocoran ketika dilakukan pengujian sesuai B.1.9.2. Lebar penuas tidak kurang dari 100 mm diukur mulai dari titik gerak dengan pemasangan maksimum 1,5 newton. Komponen pengatur keluaran harus terpasang dan tipenya harus dinyatakan. Komponen pengatur keluaran harus mampu keseragaman pengeluaran dengan deviasi +/- 5%. Tipe nozzle dan jumlah keluaran (flow rate) harus dinyatakan dan sesuai dengan standard internasional.

Tekanan kerja maksimum dinyatakan. Tangki harus mampu menahan tekanan dari dalam yang besarnya 2 (dua) kali besarnya tekanan kerja dan memenuhi syarat pada B.1.15. dan setelah perlakuan uji jatuh sesuai B.1.17.1. Uji jatuh dilakukan tanpa dan dengan tekanan kerja yang dianjurkan pada posisi horizontal, vertical dan miring 45 derajat setelah pengujian tersebut alat semprot tidak boleh mengalami kebocoran pada keadaan tanpa tekanan.

2. Mist Blower Bermotor (Model Gendong)

Alat yang digunakan untuk menyemprotkan pestisida sampai rumah atau area lain yang sulit atau tidak bias dicapai dengan alat semprot bertekanan yang dioperasikan dengan tangan untuk tujuan residual. Berupa alat semprot yang dilengkapi dengan mesin penggerak yang memutar kipas agar menghasilkan hembusan udara yang kuat kearah cairan formulasi Pestisida di masukkan secara terukur. Mesin penggerak dilengkapi dengan sistem untuk menghidupkan / mematikan mesin.

Tangki bahan bakar terletak dibawah mesin penggerak. Semua bagian yang bergerak atau knalpot terlindung agar tidak menimbulkan cidera pada operator. Semua tombol / tuas mudah terlihat oleh operator. Mesin penggerak/fan dipasang pada sebuah rangka sehingga nyaman untuk digendong belakang oleh operator. Penyangga punggung yang tidak menyerap cairan terpasang. Engine mounting pada frame dapat menyerap getaran mesin. Komponen yang terpasang tidak tajam dan kekuatan semburan tidak dapat mencederai operator pada pengoperasian normal. Semua tombol / tuas pengatur terpasang secara permanen dan ditandai.

Beratnya tidak lebih dari 25 Kg pada pengoperasian normal dengan semua tangki terisi penuh. Lubang pengisian tangki dinyatakan ukurannya dan tidak melebihi diameter 90 mm dan dilengkapi penutup yang membuat kedap udara.

Filter harus sedemikian rupa bentuknya dan cukup dalam masuk ke dalam tangki agar waktu pengisian tangki tidak lebih dari 60 detik tanpa menyebabkan ceceran.
Klep pembuang tekanan dinyatakan pada semua mesin yang bekerja dengan tekanan dan dapat membuang habis tekanan sebelum tutupnya dibuka. Jenis bahan bakar dan kapasitasnya dinyatakan dan tandanya terpasang secara permanen di mesin.

Pipa udara dari blower disalurkan melalui pipa menuju nozzle. Pipa udara tersebut sedemikian rupa sehingga mudah digerakkan kearah penyemprotan yang dikehendaki. Cairan dari tangki atau pompa dialirkan ke nozzle melalui sebuah alat pengatur aliran. Sebuah saringan 50 mesh dipasang sebelum nozzle mencegah terjadinya penyumbatan. Alat pengatur besarnya aliran cairan yang terpasang tetap atau dapat dipertukarkan dinyatakan. Alat ini terpasang pada pipa untuk mengatur besarnya aliran rata-rata. Ukuran partikel dengan berbagai besar aliran ( flow rate ) dan jenis cairan dinyatakan. Volume Median Diameter ( VMD ) berada pada 50 – 100 mikron dinyatakan berdasarkan pengujian.

Daya tahan mampu dioperasikan selama 50 jam dalam 10 hari berurutan. Salah satunya 8 jam non stop sebagai simulasi penanganan kejadian luar biasa. Setiap penghentian pengoperasian harus dicatat alasannya dan perbaikan yang dilakukan. Data jumlah pemakaian bahan bakar dicatat. Tali sandang dengan lebar, minimal 50 mm dinyatakan. Tali sandang dengan penyangga pada bahu dapat diatur panjangnya dengan minimal 750 mm.

3. Mesin pengkabut dingin (ULV, mesin aerosol) Model jinjing

Mesin pengkabut dingin (ULV, mesin aerosol) digunakan untuk penyemprotan ruang (space spray ) di dalam bangunan atau ruang terbuka yang tidak bias dicapai dengan mesin yang dioperasikan diatas kendaraan pengangkut. Mesin dapat dijinjing atau digendong dilengkapi dengan komponen yang menghasilkan aerosol untuk penyemprotan ruang. Tidak terdapat bagian yang tajam yang dapat mencederai operator pada pemakaian normal. Apabila mesin terpasang pada rangka maka dilengkapi dengan penahan yang tidak menyerap cairan agar nyaman digendong. Pasangan juga dapat menyerap getaran mesin.Semua komponen bergerak dan knalpot terlindung agar tidak membahayakan operator selama pengoperasian. Tombol-tombol dan tuas yang berfungsi untuk pengaturan terpasang tetap pada mesin dan diberi tanda yang jelas.Jenis bahan dinyatakan dan setiap komponen yang bersentuhan langsung dengan Pestisida tahan terhadap korosi dan tidak menyerap.

Berat alat ketika tangki terisi penuh untuk operasi normal tidak lebih dari 20 Kg untuk model jinjing dan 25 Kg untuk model yang terpasang pada rangka model gendong.

Tangki pestisida yang terpasang tetap atau dapat diganti-ganti dinyatakan dan isinya tidak kurang dari 1 liter. Dengan penandaan yang sedemikian rupa agar mudah diketahui isi cairan didalamnya. Pada tangki bahan bakar tersedia filter yang terpasang tetap atau pada corong dinyatakan. Kapasitas tangki bahan bakar cukup untuk pengoperasian mesin selama minimum 1 jam terus menerus. Petunjuk jenis bahan bakar terpasang di tangki atau mesin secara permanen.

Klep buka / tutup tersedia sebelum nozzle atau aliran formulasi akan berhenti dengan sendirinya bila mesin mati. Pengatur keluaran cairan menuju nozzle dinyatakan. Pembatas keluaran terpasang tetap atau dapat dipertukarkan dinyatakan. Rentang ukuran partikel dengan berbagai besar aliran (flow rate) dan jenis cairan dinyatakan. Volume yang disyar Median Diameter (VMD) kurang dari 30 mikron dinyatakan berdasarkan pengujian.

Tali sandang dengan lebar minimal 50 mm dinyatakan. Tali sandang dengan penyangga pada bahu dapat diatur panjangnya dengan panjang minimal 750 mm. Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda “alat pelindung pendengaran harus dipakai selama pengoperasian” dipasang permanen pada mesin.

4).    Mesin Pengabut Dingin ( Aerosol/ULV) yang dioperasikan diatas kendaraan pengangkut. 
Digunakan untuk penyemprotan ruang terbuka di luar bangunan, tanpa efek residu. Merupakan mesin yang menghasilkan aerosol /ULV yang dirancang untuk di tempatkan di bak belakang kendaraan pengangkut dan dioperasikan dari ruang penumpang. Mesin semprot harus mempunyai sistempembilasan dan memiliki sistem pengendali.

Tangki formulasi harus dapat dipisahkan atau apabila terpasang tetap tangki harus memiliki klep pembuang agar dapat dibersihkan. Rangka mesin harus tahan korosi, semua tangki formulasi baik yang terpasang tetap atau dapat dipindahkan harus dapat dibedakan satu dengan lainnya. Semua bagian bergerak atau knalpot harus terlindungi agar tidak mencederai operator. Tidak terdapat bagian yang tajam yang dapat mencederai operator selama pemakaian normal atau perawatan.Semua bahan yang bersentuhan langsung dengan pestisida harus tahan kimia, tidak menyerap dan lulus pengujian. Berat bersih dengan tangki dalam keadaan kosong dinyatakan dan tidak lebih dari 250 Kg. Kapasitas tangki harus dinyatakan dan tidak lebih dari 50 liter. Apabila tangki tidak tembus pandang atau tanda skala maka tangki harus memiliki alat petunjuk isi.

Lubang pengisian tangki harus terletak dibagian atas, dengan diameter lubang pengisian tidak kurang dari 40 mm. Apabila lubang pengisian kurang dari 90 mm, corong harus disediakan oleh pabrik agar tidak terjadi ceceran sewaktu mengisi. Kapasitas tangki / konsumsi bahan bakar harus cukup untuk pengoperasian selama 2 (dua) jam terus menerus pada keluaran formulasi yang terendah tanpa harus pengisian ulang. Jenis bahan bakar dinyatakan.

Kompresor udara atau blower adalah sebuah filter yang tahan korosi harus terpasang pada kompresor / blower dan mampu menahan partikel lebih besar dari 100 mikron. Tipe pengatur aliran dinyatakan. Semua peralatan harus mempunyai pengatur aliran yang manual (dapat berupa pengatur aliran yang tetap) tetapi dapat juga yang keluarannya dapat disesuaikan dengan kecepatan kendaraan pengangkut. Jenis klep buka/ tutup dinyatakan, dan harus menutup ketika mesin dimatikan atau salah satu komponen tidak berfungsi. Papan pengendali harus mempunyai tanda permanen pada tombol / tuas OFF (mematikan) mesin penggerak, dan tanda ON / OFF aliran pestisida dan dirancang untuk pemasangan di kendaraan pengangkut.

Rancangan pengendali jarak jauh harus tidak menyebabkan pestisida masuk ke dalam ruang penumpang kendaraan pengangkut. Peralatan harus dilengkapi dengan (i) jarum penunjuk jumlah jam pengoperasian. (ii) jarum penunjuk tekanan (sistem blower) atau tachometer (nozzle sistem rotary) (iii) klep keamanan tekanan udara atau sensor pada mesin sistem blower, ini dapat menggantikan (ii) bila tekanan menjadi rendah. Jumlah jam pengoperasian tanpa gangguan dan kesulitan menghidupkan mesin pada jumlah keluaran maksimum harus dinyatakan. Pengujian dilakukan tidak kurang dari 50 jam selama tidak lebih dari 2 minggu. Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda “alat pelindung pendengaran harus dipakai selama pengoperasian” dipasang permanen pada mesin. Tingkat kebisingan pada jarak 1 meter dari mesin sepanjang pengoperasian harus dinyatakan.

5).Mesin Pengkabut Panas ( Hot Fogger ) model jinjing

Mesin pengkabut panas digunakan untuk penyemprotan ruang di dalam bangunan atau ruang terbuka yang tidak dapat dicapai dengan mesin pengkabut panas yang dioperasikan di atas kendaraan pengangkut. Mesin
pengkabut panas portable harus memiliki sebuah nozzle energy panas tempat larutan Pestisida dalam minyak atau campuran dengan airdimasukkan secara terukur.

Komponen utama harus terpasang pada rangka yang kuat. Bila diinginkan mesin dapat dilengkapi mekanisme menghidupkan mesin yang terdiri dari : baterai, coil, sistem busi, pompa tangan atau pompa yang digerakkan oleh tenaga baterai untuk memberi tekanan kepada saluran bahan bakar ketika menghidupkan mesin. Semua permukaan yang panas yang terlindungi dengan cukup untuk mencegah kejadian luka bakar pada operator. Tidak boleh terdapat bagian yang tajam yang dapat menyebabkan cidera pada operator pada pemakaian normal. Semua komponen yang harus diatur selama pengoperasian harus terpasang

secara permanen dan ditandai dengan jelas. Mesin harus mempunyai petunjuk keselamatan yang jelas yang menyatakan bahwa mesin tidak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan selama pengoperasian.Bahan harus dinyatakan dan semua komponen yang bersentuhan langsung dengan pestisida harus tahan korosi, tidak menyerap dan memenuhi syarat yang ditentukan pada Mesin tipe pulsa-jet harus mempunyai resonator baja yang tahan suhu 1500 0C. Dengan semua tangki terisi penuh untuk pengoperasian normal, beratnya dinyatakan dan tidak lebih dari 20 Kg.

Kapasitas tangki yang dapat diganti atau terpasang tetap harus dinyatakan. Apabila bahan tangki bukan dari bahan yang tembus pandang atau berskala maka sebuah batang pengukur harus disediakan untuk mengukur banyaknya isi cairan di dalam tangki.
Lubang pengisian harus berada disisi atas mesin dan ukurannya dinyatakan. Corong bersaring harus disediakan apabila diameter lubang pengisian kurang dari 90 mm. Apabila posisi lubang pengisian tidak dibagian atas, corong bersaring bengkok harus disediakan.

Kapasitas tangki dan besarnya konsumsi harus dinyatakan serta harus cukup untuk menyemprotkan habis formulasi pada jumlah keluaran (flow rate) terkecil tanpa harus mengisi ulang. Jenis bahan bakar harus dinyatakan.Bila menggunakan pompa tangan, mesin harus sudah dapat hidup pada hitungan pemompaan tidak lebih dari 10 kali. Beberapa mesin kemungkinan menggunakan pompa yang digerakkan oleh tenaga listrik.

Klep buka / tutup untuk menutup secara otomatis aliran formulasi pestisida menuju nozzle apabila mesin mati sebagai tambahan dari klep buka / tutup manual yang terpasang dinyatakan. Klep pengatur besarnya aliran meskipun dapat dipertukarkan harus terpasang tetap pada mesin. Pembatas aliran tersebut harus dinyatakan.
Rentang ukuran partikel pada jumlah keluaran baku dan jumlah keluaran lainnya harus dinyatakan. Volume Median Diameter (VMD) harus lebih kecil dari 30 mikron. Lebarnya tali sandang harus dinyatakan, dan tidak kurang dari 50 mm pada posisi bahu dan dapat diatur panjangnya dengan sebuah pengencang sehingga tidak kurang dari 750 mm serta harus memenuhi ketentuan daya serap kurang dari 10 % dari berat keringnya.

Tidak terjadi kebocoran pada tangki dan komponen lainnya selama pengoperasian secara normal dan harus lulus test yang ditentukan.Jumlah jam operasi tanpa kegagalan pada pengoperasian dan menghidupkan mesin harus dinyatakan. Test ketahanan yang ditentukan dilakukan dengan air dengan pembatas aliran terbesar dengan interval buka / tutup masing-masing selama 15 menit.

5. Mesin Pengkabut Panas (Hot Fogger) Model jinjing

Mesin Pengkabut Panas (Hot Fogger) yang dioperasikan diatas kendaraan pengangkut. Mesin    semprot    yang digunakan untuk penyemprotan ke ruang terbuka diluar bangunan Mesin pengkabut panas yang dioperasikan dari atas kendaraan tanpa residu. Terdapat 2 prinsip kerja mesin tipe ini, i. mesin yang berkerja dengan sitem pulsa-jet. ii. Mesin yang bekerja dengan piston mesin 2 atau 4 langkah, konvensional, kipas penghembus, unit pemanas atau piringan berputar.
Mesin di operasikan di atas kendaraan pengangkut atau mobil pickup harus dilengkapi dengan thermal nozzle tempat formulasi dengan pelarut minyak atau campuran air dimasukkan secara terukur. Mesin harus sedemikian rupa harus dapat dioperasikan dari dalam ruang penumpang. Mesin mempunyai tangki formulasi yang disediakan atau dapat ditambahkan kemudian dan harus dapat dilepaskan atau mempunyai klep pembuangan agar mudah dibersihkan. Mesin biasanya terpasang pada rangka dan rangka tersebut harus tahan korosi. Semua komponen harus dapat dijangkau oleh operator. Semua tangki digunakan secara tetap dan diberi penandaan yang jelas. Knalpot mesin harus terlindung agar tidak mencederai operator. Tidak boleh terdapat bagian yang tajam yang dapat melukai operator selama pengoperasian secara normal atau ketika melakukan perawatan.

Mesin harus mempunyai petunjuk keamanan yang jelas dan memperingatkan bahwa mesin yang sedang beroperasi tidak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan. Semua bahan dinyatakan. Semua komponen yang bersentuhan langsung dengan pestisida harus tahan korosi, tidak menyerap dan harus lulus pengujian yang ditetapkan pada mesin dengan sistem pulsa jet harus mempunyai resonator yang tahan suhu 15000 C misalnya baja austhenite No. 1.4845. Berat mesin dalam keadaan tangki kosong dan tanpa semua komponen lepasan dinyatakan dan tidak melebihi 250 Kg.

Kapasitas tangki pestisida yang terpasang atau yang dapat dipertukarkan dinyatakan dan tidak kurang dari 50 liter. Apabila tangki tidak tembus pandang atau tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan isinya, maka sebuah jarum penunjuk isi harus tersedia. Lubang pengisian harus terletak di bagian atas tangki. Apabila diameter lubang pengisian kurang dari 90 mm, sebuah corong harus disediakan untuk mempermudah pengisian.

Sebuah klep pelepas tekanan udara dinyatakan dan harus mampu melepaskan tekanan sampai habis sebelum tangki dibuka. Kapasitas tangki dan komsumsi bahan bakar harus dinyatakan. Jenis bahan bakar harus dijelaskan. Jenis klep buka / tutup dinyatakan dan harus dapat menutup dengan sendirinya apabila mesin dimatikan atau terdapat komponen yang tidak berfungsi. Pengatur aliran formulasi ke nozzle harus terpasang secara tetap tetapi dapat dipertukarkan harus dinyatakan. Rentang ukuran partikel pada jumlah aliran baku dan jumlah aliran lainnya dinyatakan.

Besarnya partikel tidak boleh lebih besar dari 30 mikron VMD.Papan pengendali harus disediakan dan memiliki tombol / tuas untuk mematikan mesin, tombol / tuan ON / OFF pengaliran formuliasi pestisida dan dirancang untuk dioperasikan dari dalam ruang penumpang kendaraan pengangkut.

Tidak terjadi kebocoran pada tangki dan komponen lainnya selama pengoperasian secara normal dan harus lulus test. Jumlah jam operasi tanpa kegagalan pada pengoperasian dan menghidupkan mesin harus dinyatakan. Test ketahanan yang ditentukan dilakukan dengan air dengan pembatas aliran terbesar dengan interval buka / tutup masing¬masing selama 15 menit. Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda “alat pelindung pendengaran harus dipakai selama pengoperasian” dipasang permanen pada mesin.

11:39 PM | 0 comments | Read More

Diantara Dampak Kesehatan Anti Nyamuk Bakar

Risiko Kesehatan Penggunaan Anti Nyamuk Bakar

Menurut WHO (2005), penggunaan insektisida rumah tangga yang bersifat terus menerus dan dilakukan di dalam ruangan (indoor) berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena akumulasi bahan aktif insektisida. Sebagian besar insektisida rumah tangga saat ini berbahan aktif pyrethroid. Senyawa ini mempunyai toksisitas akut yang rendah pada manusia namun bila tertelan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan dan kematian.

Pada industri insektisida rumah tangga, penggunaan anti nyamuk bakar (obat nyamuk bakar) merupakan salah satu bentuk insektisida anti nyamuk dengan formulasi tertua. Anti nyamuk bakar terdiri dari beberapa bahan dasar antara lain tepung kayu, kanji, bubuk batang kelapa, bahan pencelup. Sedangkan lem, pengatur pembakaran, serta insektisida yang digunakan pada umumnya dalam dosis rendah. Sementara bahan aktif yang digunakan biasanya dari bahan pirethrin alami dan phyrethroid yang tidak persisten di alam. Sangat tidak direkomendasikan penggunaan bahan aktif dari organoklorin, karena sudah terbukti berbahaya bagi kesehatan manusia.

Menurut WHO (1999), anti nyamuk bakar biasanya bentuknya pipih menyerupai spiral yang melingkar. Cara penggunaannya dengan memberikan api untuk meningkatkan temperatur dari massa anti nyamuk itu sendiri. Dengan terjadinya peningkatan suhu, menyebabkab anti nyamuk mengeluarkan asap. Asap yang dikeluarkan mengandung bahan aktif insektisida dalam bentuk gas, sehingga bila terhirup nyamuk akan menyebabkan keracunan dan mati.

Kelebihan anti nyamuk bakar diantaranya pada kecepatan efek knockdown pada serangga. Namun kelemahan anti nyamuk bakar pada dihasilkannya asap dan bau yang tajam, serta risiko terjadinya kebakaran rumah. Hal ini dapat terjadi misalnya karena terjadinya kebakaran kasur tempat tidur, karena kurang hati-hati dalam meletakkan obat nyamuk bakar.

Menurut laporan university of California riverside (Indrosancoyo, 2008), anti nyamuk bakar di Indonesia mengandung S2 (Octachlorodiphropyl eter), yang merupakan penyebab kuat kanker paru-paru. Namun saat ini penggunaan S2 di Indonesia sudah dilarang.

Refference, antara lain : Indrosancoyo A.W. 2008. Formulasi Pestisida Rumah Tangga : dalam Seminar Nasional : Alternatif Pengendalian Vektor Penyakit. Tahija Foundation. Yogyakarta; WHO, 2005, Safety of Pyrethroids of Public Health Use, WHOPES; WHO, 1999, Safe and Effectife Use of Household Insecticide Products, WHOPES.
11:39 PM | 0 comments | Read More

CTPS Upaya Paling Efektif Mencegah Pencemaran Makanan

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, May 10, 2016 | 1:55 AM

Cuci Tangan Pakai Sabun Upaya Paling Efektif Memutus Sumber Cemaran

Sebagaimana diketahui, flora bakteri yang terdapat pada kulit manusia adalah Staphylococcus epidermis (non patogenik) dan S. aureus bakteri ini dapat berkembang biak dalam makanan dan membentuk toksin dan dapat menimbulkan keracunan makanan.

Proses terjadinya pencemaran makanan, selain akibat tubuh dapat pula karena prilaku pengelola makanan. Faktor pengelola ini dapat menularkan penyakit kepada makanan antara lain karena:

Faktor tangan kotor: Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri dan virus patogen dari tubuh, faeces, atau sumber lain ke makanan. Oleh karena itu pencucian tangan merupakan hal pokok yang harus dilakukan oleh pekerja yang terlibat dalam penanganan makanan. Entero-toksigenic dari Staphylococcus aureus dibawa dalam hidung orang yang sehat dan sering ditemukan dalam kulit dan kadang dalam tinja.

Perilaku mencuci tangan, terbukti efektif dalam upaya mencegah kontaminasi pada makanan. Pencucian tangan dengan sabun dan diikuti dengan pembilasan akan menghilangkan banyak mikroba yang terdapat pada tangan. Kombinasi antara aktivitas sabun sebagai pembersih, penggosokan, dan aliran air akan menghanyutkan partikel kotoran yang banyak mengandung mikrobia. Pekerja dapat menjadi sumber bakteri penyebab penyakit.

Pada prinsipnya pencucian tangan dilakukan setiap saat setelah tangan menyentuh benda-benda yang dapat menjadi sumber kontaminan atau cemaran. Sedangkan pedoman praktis kapan pencucian tangan harus dilakukan, antara lain:
  • Sebelum memulai pekerjaan dan pada waktu menangani kebersihan tangan harus tetap dijaga.
  • Sesudah waktu istirahat.
  • Sesudah melakukan kegiatan-kegiatan pribadi misalnya merokok, makan, minum, bersin, batuk dan setelah menggunakan toilet (buang air besar atau kecil)
  • Setelah menyentuh benda-benda yang dapat sebagai sumber kontaminan misalnya telepone, kain atau baju kotor bahan makanan mentah maupun segar, daging, cangkang telur, dan peralatan kotor.
  • Setelah mengunyah permen karet atau setelah menggunakan tusuk gigi.
  • Setelah menyentuh kepala, rambut, hidung, mulut, dan bagian-bagian tubuh yang terluka.
  • Setelah menangani sampah serta kegiatan-kegiatan pembersihan, misalnya menyapu atau memungut benda yang terjatuh di lantai.
  • Sesudah menggunakan bahan-bahan pembersih atau sanitaiser kimia.
  • Sebelum dan sesudah menggunakan sarung tangan kerja.
Menurut State of Wisconsin (2002), tahapan pencucian tangan yang benar adalah seaabagai berikut ::
  • Lengan baju digulung kemudian membasahi tangan dengan air hangat.
  • Menggunakan sabun, bukan larutan pendesinfeksi tangan dan perbanyak sabun hingga menutupi tangan sampai lengan bawah.
  • Tangan digosok secara bersama-sama sedikitnya 20 detik dan pastikan telapak tangan, punggung tangan, diantara jari¬jari serta lengan bawah tercuci.
  • Jari-jari tangan dibersihkan dengan menggunkan sikat kuku jari.
  • Tangan dibilas dengan air hangat.
  • Kemudian tangan dikeringkan dengan handuk/kertas tissue sekali pakai. Tutuplah kran dengan handuk/kertas tissue untuk mencegah rekontaminasi tangan.

Mencuci tangan sangat penting terutama tenaga food handler yang mengolah makanan mulai dari persiapan sampai kepada penyajian makanan, tangan sangat potensial untuk memindahkan penyakit terhadap makanan yang diolah. Redmond and Griffith, (2003) dalam penelitian mengenai pengamatan perilaku food handler menunjukkan bahwa 91 % food handler tidak membersihkan tangan saat mengolah bahan mentah daging unggas sampai makanan itu siap untuk dihidangkan, 61% food handler tidak menggunakan pisau yang baik, dan 100% food handler tidak mencuci tangan dengan baik.
Refference:
  • Modul Penyehatan Makanan dan Minuman untuk Petugas Puskesmas, Pengambilan Contoh dan Spesimen Makanan. Ditjen PPM dan PLP Depkes RI - 1996
  • State of Wisconsin Approval plan for management of bare¬handcontact of ready-to-eat foods. Hand Washing and Hygiene, (2002)

1:55 AM | 0 comments | Read More

Kumpulan Form Inspeksi Sanitasi TTU

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, May 9, 2016 | 1:18 AM

Checklist Inspeksi Sanitasi Tempat-Tempat Umum

Kumpulan form dan checklist inspeksi sanitasi Tempat-Tempat Umum (TTU) yang dapat rekan-rekan download pada link di bawah ini merupakan respon lambat dari permintaan teman-teman Sanitarian melalui email. Pada awalnya, brbagai link download Form ini terbagi menjadi beberapa link download, seperti form IS kolam renang, ponpes, hotel, dan lainnya.  Sedangkan pada tautan di bawah ini, dapat rekan-rekan download keseluruhan form inspeksi sanitasi dimaksud. untuk Untuk itu kami mohon maaf atas keterlambatan posting tulisan ini.

Secara lengkap form inspeksi sanitasi tempat-tempat umum ini memuat antara lain form Inspeksi Sanitasi :
1.   Kolam Renang/Pemandian Umum
2.   Depot Air Minum Isi Ulang
3.   Pasar
4.   Pusat Perbelanjaan
5.   Salon
6.   Pangkas Rambut
7.   Masjid
8.   Gereja
9.   Hotel Melati
10.  Pondok Pesantren (Ponpes)

File lengkap dapat di download pada link ini : DOWNWLOAD IS TTU
1:18 AM | 0 comments | Read More

Jenis Alat Pelindung Diri Fogging

Peralatan Perlindungan Diri pada Fogging

Berikut beberapa Peralatan Perlindungan Diri pada petugas/pelaksana pengendalian vektor  sesuai Permenkes 374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor.

Peralatan perlindungan diri yang harus digunakan oleh petugas/ pelaksana pengendalian vektor sesuai dengan jenis pekerjaannya harus mengacu pada kriteria klasifikasi pestisida berdasarkan bentuk fisik, jalan masuk kedalam tubuh dan daya racunnya, maka harus dipilih perlengkapan pelindung diri seperti tertera pada Tabel berikut:

Keterangan:
1 Sepatu boot, 2 Sepatu kanvas, 3 Baju terusan lengan panjang dan celana panjang (coverall), 4 Topi, 5 Sarung tangan, 6 Apron/celemek, 7 pelindung muka, dan 8 Masker.
+ = harus digunakan, - = tidak perlu, * = bila tidak menggunakan pelindung muka, ** : bila tidak memakai sepatu boot. (KEPMENKES RI,No. 1350/Menkes/SK/XII/2001, Tentang Pestisida, 11 Desember 2001)

Perlengkapan pelindung dikelompokkan menjadi 4 tingkat berdasarkan kemampuannya untuk melindungi penjamah dari pestisida, yaitu :
  1. Highly-Chemical Resistance: digunakan tidak lebih dari 8 jam kerja, dan harus dibersihkan dan dicuci setiap selesai bekerja.
  2. Moderate-Chemical Resistance: digunakan selama 1-2 jam kerja. dan harus dibersihkan atau diganti apabila waktu pemakaiannya habis.
  3. Slightly-Chemical Resistance: dipakai tidak lebih dari 10 menit.
  4. Non-Chemical Resistance: tidak dapat memberikan perlindungan terhadap pemaparan tidak dianjurkan untuk dipakai.
Baju terusan berlengan panjang dan celana panjang dengan kaos kaki dan sepatu dapat berupa seragam kerja biasa yang terbuat dari bahan katun apabila menggunakan pestisida klasifikasi II atau III. Apabila menggunakan pestisida klasifikasi 1.a dan 1.b maka dianjurkan memakai baju terusan yang dapat menutup seluruh badan dari pangkal lengan hingga pergelangan kaki dan leher, dengan sesedikit mungkin adanya bukaan, jahitan atau kantong yang dapat menahan pestisida. Baju terusan tersebut (coverall) dipakai diatas seragam kerja diatas dan pakaian dalam.

Kaca mata yang menutup bagian depan dan samping mata atau googles dianjurkan untuk menuang atau mencampur pestisida konsentrat atau pada kategori 1.a dan 1.b. Apabila ada kemungkinan untuk mengenai muka maka faceshield sangat dianjurkan untuk dipakai.

Perlu juga untuk menyediakan peralatan dan bahan untuk menanggulangi tumpahan/ceceran pestisida, antara lain : kain majun, pasir / serbuk gergaji, sekop dan kaleng/kantong plastik penampung.

Kotak P3K berisi obat-obatan, kartu emergency plan yang memuat daftar telepon penting, alamat dan nama yg di dapat dihubungi untuk meminta pertolongan dalam keadaan darurat / keracunan. Misalnya Pusat Keracunan (Poison center), ambulans, rumah sakit terdekat dengan lokasi kerja, polisi, pemadam kebakaran. Penyediaan pemadam kebakaran portable juga dianjurkan apabila bekerja dengan mesin semprot yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran.

Bahan Pengendalian Vektor
Bahan yang digunakan dalam upaya pengendalian vektor berupa insektisida, baik sasaran terhadap nyamuk vektor dewasa maupun terhadap larva/jentik nyamuk, sebagai berikut :
  1. Insektisida yang digunakan untuk penyemprotan residual dalam program pengendalian malaria adalah Bendiocarb 80 %, Lamdacyhalothrine 10 %, Etofenprox 20 %, Bifenthrine 10 %, Alfacypermethrine 5 % dan Deltamethrin 5 %
  2. Insektisida yang dicelupkan pada kelambu dan kelambu berinsektisida (LLINs = Long Lasting Insecticidal dan Permethrine) dalam program pengendalian malaria adalah Deltamethrine dan Permethrine
  3.  Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan larva/jentik nyamuk vektor malaria adalah Pyriproxyfen, S-Metoprene, Bacillus thuringiensis sub sp israelensis
  4. Insektisida yang digunakan untuk pengendalian vektor Demam
  5. Berdarah Dengue adalah Malathion, Metil pyrimifos, Cypermetrin, Alfacypermetrin
  6. Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan larva/jentik nyamuk vektor Demam Berdarah Dengue adalah Temephos, Pyriproxyfen, Bacillus thuringiensis sub sp israelensis.
12:25 AM | 0 comments | Read More

Komponen KLB Berdasark Variabel Waktu

Written By Kesehatan Lingkungan on Friday, April 1, 2016 | 8:29 PM

Mengambarkan KLB Berdasarkan Variabel  Waktu

Penggambaran KLB harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat disusun hipotesis mengenai sumber, cara penularan, dan lamanya KLB berlangsung. Untuk dapat merumuskan hipotesis-hipotesis yang diperlukan, informasi awal yang dikumpulkan dari kasus-kasus harus diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan antara lain:

Beberapa pertanyaan KLN terkait variabel waktu, antara lain : Kapan periode yang tepat dari KLB ini?; Kapan periode paparan (exposure) yang paling mungkin?; Apakah KLB ini bersifat ”common source” atau ’propagated source' atau keduanya?

Variasi kejadian kasus-kasus suatu penyakit dalam suatu populasi menurut waktu biasanya disebut pola temporal penyakit yang digunakan untuk menggambarkan pola temporal penyakit; periode KLB, yang panjangnya bervariasi tergantung dari lamanya KLB yang bersangkutan. Dari gambaran periode waktu insidens suatu penyakit merupakan pertimbangan yang penting dalam memastikan atau menyingkirkan adanya suatu KLB pada waktu yang tengah berjalan dan dalam meramalkan periode-periode KLB pada masa yang akan datang.

Pembahasan selebihnya mengenai waktu sebagai variabel epidemiologi akan dipusatkan pada pembuatan dan penggunaan kurva epidemi. Sebuah kurva epidemi dibuat terutama untuk :
a.         Menentukan apakah sumber infeksi/diperkirakan bersifat 'common source’ atau 'propagated source' atau keduanya; dan
b.        Mengidentifikasikan waktu paparan yang diperkirakan dari kasus-kasus terhadap sumber infeksi.

Untuk menggambarkan kurva epidemi harus diperoleh tanggal mulai sakit dari kasus-kasus. Untuk penyakit-penyakit tertentu yang mempunyai masa inkubasi atau masa laten yang sangat pendek, jam mulai sakit harus diperoleh untuk setiap kasus. Selanjutnya, pilihlah interval waktu yang akan digunakan untuk membuat grafik dari kasus-kasus tersebut. Interval waktu yang sesuai, yang dapat bervariasi dari kurang dari satu jam hingga bulanan atau lebih lagi, dipilih berdasarkan masa inkubasi atau masa laten penyakit dan lamanya periode KLB.

Pada suatu KLB penyakit yang mempunyai masa inkubasi dalam hitungan jam (seperti pada penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan) dengan kasus-kasus yang terbatas dalam hitungan hari, lebih baik digunakan interval satu atau beberapa jam. Sedangkan pada penyakit-penyakit yang mempunyai masa inkubasi dalam hitungan hari, interval harian lebih cocok.

Interval yang sesuai untuk menggambarkan grafik kasus adalah penting untuk penafsiran kurva epidemi nanti. Kesalahan yang paling penting yang dapat dibuat di sini ialah pemilihan interval yang terlalu panjang, seperti dalam hal menggambarkan grafik kasus-kasus keracunan stafilokok menurut minggu atau bulan timbulnya gejala. Interval yang demikian akan menyembunyikan perbedaan-perbedaan kecil dalam distribusi temporal, termasuk gelombang kasus sekunder yang ditimbulkan oleh penularan orang ke orang, sehingga tidak memungkinkan penggunaan grafiknya untuk kedua tujuan utamanya.

Suatu pedoman yang berguna dalam memilih interval untuk menggambarkan grafik kasus ialah memilih interval sebedar seperdelapan atau seperempat masa inkubasi penyakit yang bersangkutan. Seringkali ada baiknya membuat beberapa kurva epidemi, masingmasing berdasarkan interval yang berbeda, untuk mendapatkan grafik yang paling baik memperagakan data.

Kurva Epidemi dari KLB dengan 'Common Source' dan 'Propagated Source'
KLB seringkali disebutkan sebagai mempunyai 'common source' (kasus-kasus terjadi karena paparan terhadap sumber yang sarna dan umum) atau 'propagated source' (penularan orang ke orang). Pada KLB beberapa penyakit kedua jenis sumber ini mungkin terlibat, kasus-kasus awal terjadi karena paparan suatu sumber bersama, dan kasus-kasus berikutnya (sekunder) terjadi karena penyebaran orang ke orang.

Lamanya KLB berlangsung dipengaruhi oleh beberapa hal seperti :
1.        Jumlah orang-orang rentan yang terpapar terhadap suatu sumber infeksi dan menjadi terinfeksi.
2.        Periode waktu ketika orang-orang rentan terpapar terhadap sumber itu;
3.        Periode inkubasi minimum dan maksimum dari penyakit itu.

KLB yang melibatkan sejumlah besar kasus, dengan kesempatan paparan terbatas pada satu hari atau kurang, dari suatu penyakit yang mempunyai masa inkubasi beberapa hari atau kurang, biasanya mempunyai kurva epidemi yang mendekati distribusi "normal", dalam praktek epidemiologi, kita biasanya dapat menyimpulkan bahwa terdapat suatu sumber "common source" dan bahwa paparan kasus terhadap sumber itu terjadi selama waktu yang pendek (relatif terhadap masa inkubasi maksimum penyakit itu).

Menentukan Periode Paparan yang Paling Mungkin dari Kasus-Kasus dalam KLB 'Common Source'
Dengan mengetahui masa inkubasi rata-rata, maksimum dan minimum dari suatu penyakit yang tengah diselidiki dan tanggal-tanggal mulai sakit dari kasus-kasus, waktu paparan yang paling mungkin dari kasus-kasus terhadap sumber dapat diketahui. Ada dua metode yang sering dipakai untuk hal ini.

Metode pertama menggunakan masa inkubasi rata-rata. Untuk dapat menggunakan metode ini, perlu diidentifikasi tanggal puncak KLB atau tanggal kasus median, lalu dihitung ke belakang selama satu masa inkubasi.

Pada KLB yang mempunyai 'propagated source' kasus-kasus terjadi dalam periode yang lebih lama daripada KLB penyakit yang sama yang mempunyai 'common source'. Tetapi juga dalam hal ini lamanya masa inkubasi mempengaruhi lamanya KLB dengan 'propagated source'.
KLB yang berupa letusan disebabkan karena penularan orang ke orang lebih jarang ditemukan.
Apabila terjadi, biasanya melibatkan penyakit yang mempunyai masa inkubasi pendek. Apabila generasi kedua dan ketiga terjadi, interval di antara puncak-puncaknya seringkali mendekati masa inkubasi rata-rata penyakit itu.

Metode kedua menggunakan masa inkubasi minimum dan menghitung ke belakang dari kasus pertama dan menggunakan masa inkubasi maksimum dan menghitung ke belakang dari kasus terakhir.

Namun, metode-metode ini hanya dapat dipakai apabila lamanya KLB adalah kira-kira sama atau kurang dari selisih masa inkubasi maksimum dan minimum dari penyakit bersangkutan. Jika lamanya KLB jauh lebih panjang daripada selisih, ini, maka KLB ini mungkin disebabkan oleh 'common source' yang berlangsung terus-menerus atau oleh 'propagated source' atau gabungan keduanya.

Dengan paparan selama satu hari atau kurang dan dengan mengetahui bahwa masa inkubasinya adalah antara 15 dan 50 hari, kita dapat mengharapkan bahwa lamanya KLB yang terjadi tidak akan lebih panjang dari 35 hari (50 - 15). Kenyataan bahwa lamanya KLB ini (24 hari) kurang dari yang diharapkan lebih kecil menyokong kesimpulan tentang periode paparan yang singkat.

Dua keterbatasan dari metode minimum/maksimum untuk mengidentifikasi periode paparan yang paling mungkin. Pertama, menghitung ke belakang 15 hari dari kasus pertama menghasilkan tanggal 6 Agustus, satu hari sebelum tanggal paparan yang sesungguhnya (dan bukan, secara ideal, tanggal paparan yang sesungguhnya atau satu dua hari sesudah paparan). Ini mungkin disebabkan karena beberapa hal :
1.        kasus pertama bukan ”hepatitis” yang sebenarnya,
2.        kasus ini adalah hepatitis, tetapi mendapat paparan di tempat lain dan sebelum pesta,
3.        kasus itu mempunyai masa inkubasi yang tidak khas pendeknya, atau
4.        tanggal mulai sakit tidak benar.

Kelemahan kedua adalah bahwa dengan menghitung ke belakang 50 hari dari kasus terakhir menghasilkan tanggal 25 Juli, yaitu 12 hari sebelum paparan. Hasilnya adalah periode paparan dugaan yang terlalu panjang. Hal ini disebabkan karena KLB itu hanya berlangsung selama 24 hari, yaitu 11 hari lebih pendek daripada periodenya yang maksimum secara teoritis. Maka dalam hal ini, dan secara umum, periode paparan yang paling mungkin biasanya lebih teliti dan diidentifikasi dengan menggunakan masa inkubasi rata-rata.

Untuk mengidentifikasikan kasus-kasus sekunder (misalnya, di kalangan anggota keluarga), pertama-tama tetapkanlah tempat tiap kasus menurut saat mulai sakit dan keluarganya. Kemudian, untuk kasus-kasus selanjutnya dalam keluarga yang sama bandingkan interval antara dua kasus dengan lamanya masa inkubasi ditambah periode menular dari kasus sebelum mulai sakitnya.

Secara umum, penggambaran suatu KLB menurut variabel waktu dianggap terlaksana dengan baik apabila :
1.        Interval waktu untuk menggambarkan kasus-kasus dalam grafik adalah sesuai untuk mengidentifikasikan periode paparan yang paling mungkin.
2.        Semua kasus yang diketahui telah digambarkan dalam grafik menurut tanggal mulainya gejala.
3.        Kurva dapat dikenal sebagai KLB yang mempunyai 'common source' atau 'propagated source' atau keduanya.
4.        Dalam hal KLB 'common source', tanggal atau periode berikut telah diidentifikasikan: puncak KLB; permulaan, akhir serta lamanya KLB; periode paparan yang paling mungkin dari kasus terhadap sumber.
5.        Selanjutnya, apabila sumbernya adalah 'common source' dan 'propagated source' bersama-sama, kasus¬kasus 'propagated source' yang diketahui atau dicurigai dapat diidentifikasikan dan ditunjukkan dalam grafik.

Sumber : Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit), Edisi Revisi Tahun 2011, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011
8:29 PM | 0 comments | Read More

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, March 22, 2016 | 1:16 AM

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah Rumah tangga

Beberapa pengertian dalam Peraturan pemerintah ini diantaranya :
  1. Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
  2. Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.
  3. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
  4. Sumber sampah adalah asal timbulan sampah.
  5. Tempat penampungan sementara (TPS) adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu.
  6. Tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) atau TPS 3R adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, dan pendauran ulang skala kawasan.
  7. Tempat pengolahan sampah terpadu atau TPST adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir.
  8. Tempat pemrosesan akhir atau TPA adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan.

Pada pasal lain disebutkan, bahwa pengaturan pengelolaan sampah bertujuan untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat; dan menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Pada pasal 4, Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah, antara lain dilakukan dengan beberapa metode, antara lain : a). pembatasan timbulan sampah; b). pendauran ulang sampah; c). pemanfaatan kembali sampah; d). pemilahan sampah; e). pengumpulan sampah; f). pengangkutan sampah; g). pengolahan sampah; h). pemrosesan akhir sampah; dan i). pendanaan.


Pada Pasal 10, penyelenggaraan pengelolaan sampah meliputi: pengurangan sampah; dan penanganan sampah. Pengurangan Sampah dilakukan dengan: pembatasan timbulan sampah; pendauran ulang sampah; dan/atau pemanfaatan kembali sampah.

Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara:
  1. menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, bahan yang dapat didaur ulang, dan/atau bahan yang mudah diurai oleh proses alam; dan/atau
  2. mengumpulkan dan menyerahkan kembali sampah dari produk dan/atau kemasan yang sudah digunakan.

Produsen wajib melakukan pembatasan timbulan sampah dengan: menyusun rencana dan/atau program pembatasan timbulan sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya; dan/atau menghasilkan produk dengan menggunakan kemasan yang mudah diurai oleh proses alam dan yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin.


Pada pasal 13, Produsen wajib melakukan pendauran ulang sampah dengan:
a.    menyusun program pendauran ulang sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya;
b.    menggunakan bahan baku produksi yang dapat didaur ulang; dan/atau
c.    menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk didaur ulang.

Dalam melakukan pendauran ulang sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), produsen dapat menunjuk pihak lain. Pihak lain, dalam melakukan pendauran ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), wajib memiliki izin usaha dan/atau kegiatan. Dalam hal pendauran ulang sampah untuk menghasilkan kemasan pangan, pelaksanaan pendauran ulang wajib mengikuti ketentuan peraturan perundangan-undangan di bidang pengawasan obat dan makanan.

Pada pasal 14, Produsen wajib melakukan pemanfaatan kembali sampah dengan:
  1. menyusun rencana dan/atau program pemanfaatan kembali sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya sesuai dengan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah;
  2. menggunakan bahan baku produksi yang dapat diguna ulang; dan/atau
  3. menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk diguna ulang.

Pada pasal 15, Penggunaan bahan baku produksi dan kemasan yang dapat diurai oleh proses alam, yang menimbulkan sesedikit mungkin sampah, dan yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang.

Sedangkan penanganan sampah meliputi kegiatan pemilahan; pengumpulan; pengangkutan; pengolahan; dan pemrosesan akhir sampah.

Pada pasal 17, pemilahan sampah dilakukan oleh: setiap orang pada sumbernya; pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya; dan pemerintah kabupaten/kota.

Pemilahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan pengelompokan sampah menj adi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri atas:
a.    sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun;
b.    sampah yang mudah terurai;
c.    sampah yang dapat digunakan kembali;
d.    sampah yang dapat didaur ulang; dan
e.    sampah lainnya.

PP Nomor 81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah Rumah tangga secara lengkap dapat DIDOWNLOAD DISINI.
1:16 AM | 0 comments | Read More

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, February 21, 2016 | 7:23 PM

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Penyakit Menular dan Keracunan Pangan


Sebagai ahli kesehatan masyarakat, atau petugas kesehatan lingkungan, sudah seharusnya paham terhadap prosedur penyelidikan epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular maupun kecacunan makanan. Penyelidikan Epidemiologi, atau yang umum kita kenal dengan istilah PE, sudah seringkali kita lakukan. Kita biasa melaukan PE DBD misalnya, atau PE penyakit menular bersumber binatang lainnya.

Pelaksanaan PE penting dilakukan sesuai prosedur, untuk mencari kemungkinan faktor penyebab, juga untuk menentukan langkah-langkah penanggulangan KLB yang efektif dan efisien. Berikut beberapa langkah penyelidikan epidemiologi KLB Penyakit Menular dan Keracunan Pangan, menurut Kemenkes RI, 2011. 

Tahapan Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Secara teori ada beberapa tahapan dalam melakukan penyelidikan dan penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan pangan. Tahapan ini tidak harus sekuensial dalam arti satu kegiatan baru dapat dilaksanakan setelah tahapan yang sebelumnya sudah selesai. Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan secara bersamaan, yang terpenting dalam tahapan kegiatan dapat dipastikan memuat seluruh unsur-unsur tersebut. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1.  Menegakkan atau Memastikan Diagnosis
Untuk dapat membuat penghitungan kasus secara teliti guna keperluan analisis di tahapan berikutnya maka menjadi penting sekali untuk memastikan diagnosis dari kasus-kasus yang dilaporkan sehubungan dengan KLB yang dicurigai. Alasan mengapa langkah ini penting adalah:
  1. Adanya kemungkinan kesalahan dalam diagnosis
  2. Anda mungkin tidak dilapori tentang adanya kasus, melainkan adanya tersangka atau adanya orang yang mempunyai sindroma tertentu.
  3. Informasi dari yang bukan kasus (yaitu kasus-kasus yang dilaporkan tetapi diagnosisnya tidak dapat dipastikan) harus dikeluarkan dari informasi kasus yang digunakan untuk memastikan ada/tidaknya suatu KLB.
Diagnosis yang didasarkan atas pemeriksaan klinis saja mudah salah, sering tanda atau gejala dari banyak penyakit adalah tidak begitu khas untuk dapat menegakkan suatu diagnosis. Beberapa faktor penyulit lain seperti banyak penderita tidak memperlihatkan sindroma yang khas bagi penyakit mereka, serta dimungkinkan banyak serotipe dari spesies penyebab penyakit menular terdapat secara bersamaan di masyarakat. Oleh karena itu, bila mungkin harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis. Namun karena beberapa konfirmasi laboratorium membutuhkan waktu, maka kriteria tanda-tanda dan gejala-gejala suatu penyakit dapat dipertimbangkan untuk menetapkan diagnosis lapangan.
Bila diagnosis lapangan telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah kasus dengan cara menghitung distribusi frekuensi dari tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada pada kasus. Ini dilakukan dengan cara: pertama, mendaftarkan semua tanda dan gejala yang dilaporkan kasus. Kedua, menghitung jumlah kasus yang mempunyai tanda dan gejala tertentu. Kemudian menghitung persen kasus yang mempunyai tanda atau gejala itu. Untuk memudahkan penafsiran hasilnya, tanda-tanda dan gejala¬gejala itu sebaiknya disusun ke bawah menurut urutan frekuensinya seperti tabel dibawah.

2. Memastikan terjadinya KLB
Tujuan tahap ini adalah untuk memastikan apakah adanya peningkatan kasus yang tengah berjalan memang benar-benar berbeda dibandingkan dengan kasus yang "biasa" terjadi pada populasi yang dianggap mempunyai risiko terinfeksi. Apabila insidens yang tengah berjalan secara menonjol melebihi insidens yang "biasa", maka biasanya dianggap terjadi KLB. Perbedaan-perbedaan kecil antara insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan dapat menimbulkan ketidakpastian, sehingga peneliti harus selalu waspada mencari kasus-kasus baru yang dapat memastikan dugaan adanya KLB.

Apabila suatu KLB baru tersangka, seringkali populasi yang mempunyai risiko tidak diketahui secara jelas. Oleh karena itu pada taraf permulaan, populasi yang mempunyai risiko biasanya diasumsikan saja sama dengan keseluruhan populasi dari daerah geografis atau wilayah pelayanan institusi tertentu tempat penyakit itu berjangkit. Apabila tersangka KLB diketahui atau diduga berjangkit di suatu populasi yang sangat terbatas misalnya suatu sekolah, rumah perawatan, tempat pemeliharaan anak bayi disiang hari atau kelompok sosial tertentu, maka intormasi yang ada tentang angka insidens yang "biasa" dan yang tengah berjalan pada kelompok yang bersangkutan dapat digunakan untuk menetapkan terjadi atau tidaknya KLB.

3.Menghitung jumlah kasus/angka insidens yang tengah berjalan
Apabila dicurigai terjadi suatu KLB, harus dilakukan penghitungan awal dari kasus-kasus yang tengah berjalan (orang-orang yang infeksinya atau keracunannya terjadi di dalam periode KLB) untuk memastikan adanya trekuensi kasus baru yang "berlebihan". Pada saat penghitungan awal itu mungkin tidak terdapat cukup informasi mengenai setiap kasus untuk memastikan diagnosis. Dalam keadaan ini, yang paling baik dilakukan adalah memastikan bahwa setiap kasus benar-benar memenuhi kriteria kasus yg telah ditetapkan.

Laporan kesakitan yang diterima oleh dinas kesehatan segera dapat diolah untuk penghitungan kasus. Di samping catatan Dinas Kesehatan, sumber-sumber tambahan lain seperti dokter, rumah sakit atau klinik, dan laboratorium penting untuk diperhitungkan. Hubungan dengan dokter-dokter praktek kadang¬kadang menyingkapkan kasus-kasus yang didiagnosis tetapi tidak dilaporkan, dan juga kasus-kasus tersangka yang diagnosisnya belum dapat ditegakkan. Rumah sakit dan klinik dapat memberikan informasi klinis dan laboratorium mengenai kasus-kasus yang dirawat.

Mereka harus didorong untuk melaporkan hasil tes diagnosis para tersangka secepatnya.
Kasus-kasus yang telah diketahui beserta orang-orang di sekitarnya merupakan sumber informasi yang penting untuk mendapatkan kasus-kasus tambahan yang tidak didiagnosis atau tidak dilaporkan. Kasus¬kasus yang diwawancarai mungkin memberikan petunjuk ke arah adanya kasus-kasus subklinis maupun klinis di antara anggota keluarganya, sanak saudaranya atau kenalannya. Wawancara itu mungkin dapat menuntun kepada penemuan sumber inteksi, atau kontak yang menjadi sakit karena penularan dari kasus yang diwawancarai.

4. Menggambarkan karakteristik KLB
Seperti disebutkan di atas, KLB sebaiknya dapat digambarkan menurut variabel waktu, tempat dan orang. Penggambaran ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat disusun hipotesis mengenai sumber, cara penularan, dan lamanya KLB berlangsung. Untuk dapat merumuskan hipotesis-hipotesis yang diperlukan, informasi awal yang dikumpulkan dari kasus-kasus harus diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

Variabel waktu :

  1. Kapan periode yang tepat dari KLB ini?
  2. Kapan periode paparan (exposure) yang paling mungkin?
  3. Apakah KLB ini bersifat ”common source” atau ’propagated source' atau keduanya?
Variabel tempat :
  1. Dimanakah distribusi geografik yang paling bermakna dari kasus-kasus (menurut) tempat tinggal? Tempat kerja? Tempat lain?
  2. Berapakah angka serangan (attack rate) pada setiap satuan tempat/geografik?
Variabel orang (kasus) yang terkena :
  1. Berapakah angka serangan menurut golongan umur, dan jenis kelamin
  2. Golongan umur dan jenis kelamin manakah yang risiko sakit paling tinggi dan paling rendah
  3. Dalam hal apa lagi karakteristik kasus-kasus berbeda-beda secara bermakna dari karakteristik populasi seluruhnya

7:23 PM | 0 comments | Read More

Alur Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, February 16, 2016 | 1:42 AM

Alur Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas

Pada bab II lampiran Permenkes No 13 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas, dijelaskan Alur Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas

Kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas dilaksanakan di dalam gedung dan luar gedung Puskesmas, meliputi:  Konseling; Inspeksi Kesehatan Lingkungan; dan  Intervensi/tindakan kesehatan lingkungan.

Alur kegiatan Pelayanan Kesehatan Lingkungan Puskesmas sebagai berikut:

1.  Pelayanan Pasien yang menderita penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh Faktor Risiko Lingkungan
  • Pasien mendaftar di ruang pendaftaran.
  • Petugas pendaftaran mencatat/mengisi kartu status.
  • Petugas pendaftaran mengantarkan kartu status tersebut ke petugas ruang pemeriksaan umum.
  • Petugas di ruang pemeriksaan umum Puskesmas (Dokter, Bidan, Perawat) melakukan pemeriksaan terhadap Pasien.
  • Pasien selanjutnya menuju Ruang Promosi Kesehatan untuk mendapatkan pelayanan Konseling.
  • Untuk melaksanakan Konseling tersebut, Tenaga Kesehatan Lingkungan mengacu pada Contoh Bagan dan Daftar Pertanyaan Konseling (terlampir).
  • Hasil Konseling dicatat dalam formulir pencatatan status kesehatan lingkungan dan selanjutnya Tenaga Kesehatan Lingkungan memberikan lembar saran/tindak lanjut dan formulir tindak lanjut Konseling kepada Pasien.
  • Pasien diminta untuk mengisi dan menandatangani formulir tindak lanjut Konseling.
  • Dalam hal diperlukan berdasarkan hasil Konseling dan/atau hasil surveilans kesehatan menunjukkan kecenderungan berkembang atau meluasnya penyakit atau kejadian kesakitan akibat Faktor Risiko Lingkungan, Tenaga Kesehatan Lingkungan membuat janji Inspeksi Kesehatan Lingkungan.
  • Setelah Konseling di Ruang Promosi Kesehatan, Pasien dapat mengambil obat di Ruang Farmasi dan selanjutnya Pasien pulang.
2.  Pelayanan Pasien yang datang untuk berkonsultasi masalah kesehatan lingkungan (dapat disebut Klien)
  • Pasien mendaftar di Ruang Pendaftaran.
  • Petugas pendaftaran memberikan kartu pengantar dan meminta Pasien menuju ke Ruang Promosi Kesehatan.
  • Pasien melakukan konsultasi terkait masalah kesehatan lingkungan atau penyakit dan/atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh Faktor Risiko Lingkungan.
  • Tenaga Kesehatan Lingkungan mencatat hasil Konseling dalam formulir pencatatan status kesehatan lingkungan, dan selanjutnya memberikan lembar saran atau rekomendasi dan formulir tindak lanjut Konseling untuk ditindak lanjuti oleh Pasien.
  • Pasien diminta untuk mengisi dan menandatangani formulir tindak lanjut Konseling.
  • Dalam hal diperlukan berdasarkan hasil Konseling dan/atau kecenderungan berkembang atau meluasnya penyakit atau kejadian kesakitan akibat Faktor Risiko Lingkungan, Tenaga Kesehatan Lingkungan membuat janji dengan Pasien untuk dilakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan dan selanjutnya Pasien dapat pulang.
1:42 AM | 0 comments | Read More
 
berita unik