Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, April 12, 2017 | 8:29 PM

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Penyakit Menular dan Keracunan Pangan


Sebagai ahli kesehatan masyarakat, atau petugas kesehatan lingkungan, sudah seharusnya paham terhadap prosedur penyelidikan epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular maupun kecacunan makanan. Penyelidikan Epidemiologi, atau yang umum kita kenal dengan istilah PE, sudah seringkali kita lakukan. Kita biasa melaukan PE DBD misalnya, atau PE penyakit menular bersumber binatang lainnya.

Pelaksanaan PE penting dilakukan sesuai prosedur, untuk mencari kemungkinan faktor penyebab, juga untuk menentukan langkah-langkah penanggulangan KLB yang efektif dan efisien. Berikut beberapa langkah penyelidikan epidemiologi KLB Penyakit Menular dan Keracunan Pangan, menurut Kemenkes RI, 2011. 

Tahapan Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Secara teori ada beberapa tahapan dalam melakukan penyelidikan dan penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan pangan. Tahapan ini tidak harus sekuensial dalam arti satu kegiatan baru dapat dilaksanakan setelah tahapan yang sebelumnya sudah selesai. Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan secara bersamaan, yang terpenting dalam tahapan kegiatan dapat dipastikan memuat seluruh unsur-unsur tersebut. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
8:29 PM | 0 comments | Read More

Sumur Sehat

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, April 11, 2017 | 10:27 PM

Persyaratan Sumur Sehat

Sumur merupakan sumber utama penyediaan air bersih bagi penduduk, baik di perkotaan maupun di pedesaa. Secara teknis sumur dapat dibagi menjadi 2 jenis (Chandra, 2007)

Sumur dangkal (shallow well)
Sumur dangkal mempunyai pasokan air yang berasal dari resapan air hujan, terutama pada daerah dataran rendah. Sumur dangkal ini dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan kelemahan utama pada mudahnya jenis sumur ini terkontaminasi oleh air limbah yang berasal dari kegitan mandi, cuci, dan kakus. Tingkat kalaman sumur dangkal ini biasanya berkisar antara 5 s/d 15 meter dari permukaan tanah (Notoatmodjo, 2003). 

Sumur Dalam (Deep Well)
Sumber air Sumur Dalam berasal dari proses purifikasi alami air hujan oleh lapisan kulit bumi menjadi air tanah. Kondisi ini menyebabkan sumber airnya tidak terkontaminasi serta secara umum telah memenuhi persyaratan sanitasi. Menurut Notoatmodjo (2003), air dari sumur dalam ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah, dengan kedalaman di atas 15 meter dari permukaan tanah.

Berikut merupakan perbedaan sumur dangkal dan sumur dalam secara umum (Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan).
No.
Pembeda
Sumur dangkal
Sumur dalam
1.
2.
3.
4.
Sumber air
Kualitas air
Kualitas bakteriologi
Persediaan
Air permukaan
Kurang baik
Kontaminasi
Kering pada musim kemarau
Air tanah
Baik
Tidak terkontaminasi
Tetap ada sepanjang tahun
rainbowPersyaratan Sumur Sehat
Sumur merupakan jenis sarana air bersih yang banyak dipergunakan masyarakat, karena ± 45% masyarakat mempergunakan jenis sarana air bersih ini. Sumur sanitasi adalah jenis sumur yang telah memenuhi persyaratan sanitasi dan terlindung dari kontaminasi air kotor (Chandra, 2007). Sumur sehat minimal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Entjang, 2000). 

clip_image002
Syarat Lokasi atau Jarak
Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah (cesspool, seepage pit) dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah.
  1. Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir.
  2. Jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya (Chandra, 2007).
Syarat Konstruksi
Syarat konstruksi pada sumur gali tanpa pompa, meliputi dinding sumur, bibir sumur, serta lantai sumur.

Dinding sumur gali:
  1. Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur gali harus terbuat dibuat dari tembok yang kedap air (disemen). Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi perembesan air / pencemaran oleh bakteri dengan karakteristik habitat hidup pada jarak tersebut. Selanjutnya pada kedalaman 1,5 meter dinding berikutnya terbuat dari pasangan batu bata tanpa semen, sebagai bidang perembesan dan penguat dinding sumur (Entjang 2000).
  2. Pada kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air, agar perembesan air permukaan yang telah tercemar tidak terjadi. Kedalaman 3 meter diambil karena bakteri pada umumnya tidak dapat hidup lagi pada kedalaman tersebut. Kira-kira 1,5 meter berikutnya ke bawah, dinding ini tidak dibuat tembok yang tidak disemen, tujuannya lebih untuk mencegah runtuhnya tanah (Azwar, 1995).
  3. Dinding sumur bisa dibuat dari batu bata atau batu kali yang disemen. Akan tetapi yang paling bagus adalah pipa beton. Pipa beton untuk sumur gali bertujuan untuk menahan longsornya tanah dan mencegah pengotoran air sumur dari perembesan permukaan tanah. Untuk sumur sehat, idealnya pipa beton dibuat sampai kedalaman 3 meter dari permukaan tanah. Dalam keadaan seperti ini diharapkan permukaan air sudah mencapai di atas dasar dari pipa beton. (Machfoedz 2004).
  4. Kedalaman sumur gali dibuat sampai mencapai lapisan tanah yang mengandung air cukup banyak walaupun pada musim kemarau (Entjang, 2000).
Bibir sumur gali. Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara lain :
  1. Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air, setinggi minimal 70 cm, untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk aspek keselamatan (Entjang,78).
  2. Dinding sumur di atas permukaan tanah kira-kira 70 cm, atau lebih tinggi dari permukaan air banjir, apabila daerah tersebut adalah daerah banjir (Machfoedz, 2004).
  3. Dinding parapet merupakan dinding yang membatasi mulut sumur dan harus dibuat setinggi 70-75 cm dari permukaan tanah. Dinding ini merupakan satu kesatuan dengan dinding sumur (Chandra, 2007).
Lantai sumur gali. Beberapa pendapat konstruksi lantai sumur antra lain :
  1. Lantai sumur dibuat dari tembok yang kedap air ± 1,5 m lebarnya dari dinding sumur. Dibuat agak miring dan ditinggikan 20 cm di atas permukaan tanah, bentuknya bulat atau segi empat (Entjang, 2000).
  2. Tanah di sekitar tembok sumur atas disemen dan tanahnya dibuat miring dengan tepinya dibuat saluran. Lebar semen di sekeliling sumur kira-kira 1,5 meter, agar air permukaan tidak masuk (Azwar, 1995).
  3. Lantai sumur kira-kira 20 cm dari permukaan tanah (Machfoedz, 2004).
Saluran pembuangan air limbah. Saluran Pembuangan Air Limbah dari sekitar sumur menurut Entjang (2000), dibuat dari tembok yang kedap air dan panjangnya sekurang-kurangnya 10 m.

Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada dasarnya pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa, namun air sumur diambil dengan mempergunakan pompa. Kelebihan jenis sumur ini adalah kemungkinan untuk terjadinya pengotoran akan lebih sedikit disebabkan kondisi sumur selalu tertutup.
clip_image004
Konstruksi Sumur Gali dengan Pompa Tangan

Sumur Pompa
Sumur pompa ini masih cukup banyak dipergunakan oleh masyarakat, walaupun trend jumlah pemakainya cenderung menurun. Persyaratan sumur pompa tangan sebagai berikut :
  1. Saringan atau pipa-pipa yang berlubang berada di dalam lapisan tanah yang mengandung air.
  2. Lapisan yang kedap air antara permukaan tanah dan pipa saringan sekurang-kurang 3 m.
  3. Lantai sumur yang kedap air ditinggikan 20 cm dari permukaan tanah dan lebarnya ± 1½ m sekeliling pompa.
  4. Saluran pembuangan air limbah harus ditembok kedap air, minimal 10 m panjangnya.
  5. Untuk mengambil air dapat dipergunakan pompa tangan atau pompa listrik.
clip_image006
10:27 PM | 0 comments | Read More

Survey Kepadatan Nyamuk


Pengendalian Vektor dengan Survey Kepadatan Nyamuk Dewasa


Kita mungkin terbiasa dengan survey jentik, namun kurang terbiasa dengan survey nyamuk. Teori dan praktikum survey nyamuk pasti sudah pernah kita dapatkan ketika pendidikan dulu. Namun kegiatan ini jarang kita lakukan, antara lain karena keterbatasan sarana dan sistem tindak lanjut yang kurang aplikatif. Misalnya jika data survey sudah kita dapatkan (jenis nyamuk dan lainnya), kemudian harus kita gunakan untuk apa data ini. Hal ini berbeda dengan survey jentik sebagai salah satu tahap penyelidikan epidemiologi pada kasus demam berdarah dengue misalnya, maka sistem tindak lanjutnya praktis akan terkait dengan kriteria gerakan PSN atau perlu tidaknya tindakan fogging.

Sementara ini survey nyamuk yang kita lakukan pada umumnya terkait dengan pengerjaan tugas penelitian dan bersifat insidentil, seperti penyusunan tugas akhir, skripsi, atau thesis. Dan hasilnya bersifat menambah wacana keilmuan, kemudian raib tidak berbekas. Padahal jika kita gunakan data-data itu, secara praktis dapat kita gunakan misalnya untuk penilaian tingkat resistensi nyamuk terhadap insektisida, dosis yang harus kita aplikasikan pada fogging, waktu paling efektif melakukan fogging, pola pemberantasan biologis yang memungkinkan, dan lain sebagainya. Sementara kebanyakan kita berasumsi teori terkait hal tersebut tidak berubah dari jaman kita sekolah dulu.

Artikel ini mungkin dapat mengingatkan kembali tentang survey nyamuk. Saya jadi teringat ketika menempuh pendidikan di Akademi Kesehatan Lingkungan Surabaya (sekarang Poltekes Kemenkes). Pada saat ujian lisan, mungkin karena grogi, seorang teman ketika ditanya prosedur  menangkap tikus, dia menjawab antara lain dilakukan dengan cara umpan badan, maka meledaklah tawa kita ketika itu. Tentu umpan badan yang dimaksud ketika itu sebagai prosedur tangkap nyamuk pada mata kuliah pengendalian vektor, bukan tangkap tikus.

Survey nyamuk dengan kegiatan tangkap nyamuk dilakukan pada sasaran sampel rumah penduduk baik di dalam maupun di luar rumah. Terdapat dua macam jenis penangkapan nyamuk berdasarkan kebiasaaan nyamuk.
  1. Landing collection, yaitu penangkapan nyamuk yang hinggap, dilakukan selama 20 menit untuk setiap rumah.
  2. Resting collection, yaitu penangkapan nyamuk yang istirahat, dilakukan selama 5 menit pada setiap rumah.

Prosedur dan Metode Penangkapan Nyamuk

Penangkapan nyamuk dilakukan pada masa aktif nyamuk mencari inang atau mengisap darah, misalnya pada jenis nyamuk Aedes, dilakukan pada pukul 08.00-11.00 WIB. Sedangkan jika sasaran penangkapan nyamuk kita adalah Anopheles, maka beberapa pertimbangan terkait bionomik Anopheles harus kita jadikan sebagai dasar penentuan waktu dan sasaran.

Penangkapan nyamuk dewasa dilakukan oleh dua orang kolektor, masing-masing satu orang melakukan penangkapan nyamuk di dalam dan satu orang lagi di luar rumah. Setiap kolektor berperan sebagai umpan dan sekaligus penangkap. Setiap kolektor duduk dalam suatu ruangan yang ditentukan (dalam rumah) atau di halaman rumah (luar rumah). Sementara prosedur penangkap (umpan badan) diantaranya dengan menggulung ujung celana sampai ke lutut, tidak beralas  kaki, dan tidak makan, tidak menggunakan parfum atau repellent, tidak makan minum atau merokok. Ketika terdapat nyamuk maka ketika nyamuk hinggap sebelum menggigit (landing), nyamuk ditangkap dengan menggunakan aspirator, kemudian ditempatkan dalam paper cup.

Sementara prosedur penangkapan nyamuk istirahat (resting place) dilakukan menggunakan aspirator selama lima menit pada nyamuk yang hinggap dalam rumah, seperti pada dinding, gantungan baju, dan lain sebagainya. Sedangkan pada lokasi luar rumah antara lain pada tempat-tempat seperti pada tanaman, pagar, sekitar ternak, dan lain sebagainya. Kemudian dilakuakn pembiusan pada nyamuk yang tertangkap menggunakan khlorofom untuk kemudian dilakukan pinning dan proses identifikasi.

Jika kita simpulkan beberapa penjelasa diatas maka prosedur tangkap nyamuk secara ringkas dapat kita tulisakan sebagai berikut :

Beberapa Bahan yang digunakan pada kegiatan survey nyamuk antara lain : Paper cup, Kertas Label, Alat tulis, dan Khlorofom. Sedangkan alat yang digunakan berupa Aspirator.

Prosedur Kerja
  1. Menentukan wilayah yang akan disurvey
  2. Menyiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan untuk
  3. Pemasangan umpan badan
  4. Melakukan penangkapan nyamuk dengan aspirator antara lain pada feeding place dan resting place baik di dalam maupun diluar rumah.
  5. Nyamuk yang tertangkap dimasukkan ke dalam papercup, kemudian diberi label dengan informasi tentang lokasi, jam, tanggal dan nama collector.
  6. Survey dilakukan selama 6 jam, dengan waktu optimalnya 40 menit setiap jamnya.
  7. Pencatatan hasil perhitungan kepadatan nyamuk.
  8. Menyusun laporan hasil survey.
Sedangkan perhitungan kepadatan nyamuk (Man Hour Density) dihitung menggunkan formula berikut :



                                                    MHD (Man Hour Density)        :


10:22 PM | 0 comments | Read More

Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan


Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan dengan Upaya Higiene Perorangan

Pengertian hygiene menurut Azwar (1993), merupakan usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari hubungan kondisi lingkungan dengan kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena hubungan lingkungan kesehatan tersebut serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan.

Pengertian lain disampaikian Entjang (2001), bahwa pengertian personal hygiene atau hygiene perorangan (usaha kesehatan pribadi) merupakan upaya dari seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri. Beberapa upaya tersebut antara lain meliputi:
Teori Simpul Achmadi (2005)

1:19 AM | 0 comments | Read More

Alat TANGKAP dan UJI Nyamuk

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, March 6, 2017 | 11:36 PM




Peralatan Untuk Menangkap Dan Menguji Nyamuk Uji Kerentanan Nyamuk dan Uji Bioassay

Mengutip Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor, berikut berbagai peralatan tangkap nyamuk dan alat uji nyamuk.

Peralatan untuk menangkap nyamuk adalah alat yang dipergunakan untuk mengkoleksi nyamuk baik pada stadium pradewasa maupun dewasanya. Sedangkan uji yang dilakukan terhadap nyamuk adalah uji kerentanan nyamuk dan uji bioassay. Berbagai peralatan yang dipergunakan untuk menangkap dan menguji nyamuk adalah sebagai berikut;

1.    Aspirator
Merupakan peralatan utama untuk menangkap nyamuk yang sedang hinggap atau sedang mengisap darah. Cara menggunakannya adalah dengan menempatkan tabung gelas dari aspirator pada nyamuk yang hendak ditangkap, kemudian ujung yang lain dihisap dengan mulut. Oleh karena terbuat dari gelas mudah pecah, maka cara memegang dan membawanya harus hati-hati, jangan hanya dipegang batang karetnya kemudian dibawa, diayun-ayunkan ataupun hanya dikalungkan dileher begitu saja tanpa dimasukkan kedalam baju atau saku.

11:36 PM | 0 comments | Read More

Surveilans Penyakit Pes



Surveilans Epidemiologi dan Pengendalian  Penyakit Pes

Sebagaimana kita ketahui, pengertian Surveilans Epidemiologi, menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1116/Menkes/SK/VIII/2003, merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi terhadap penyelenggara program kesehatan.

Penyakit Pes (plague), merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena infeksi bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini pada awalnya menginfeksi kutu yang terdapat pada tikus. Selain melalui gigitan kutu, pes dapat menular dengan berbagai cara lain, antara lain:

11:35 PM | 0 comments | Read More

Menghitung Kebutuhan Jamban pada Kondisi Bencana

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, March 1, 2017 | 6:13 PM


Standar jumlah dan lokasi pembangunan jamban pada daerah pengungsian akibat bencana


Cakupan pemanfaatan sarana pembuangan kotoran, merupakan salah satu faktor penting untuk diperhatikan dalam kegiatan Surveilans Faktor Risiko pada keadaan darurat bencana. Survailans faktor risiko dilakukan terhadap kondisi lingkungan disekitar lokasi bencana atau lokasi penampungan pengungsi yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya atau persebaran penyakit terhadap pengungsi.
6:13 PM | 0 comments | Read More

Standard Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana

Standard Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana dan Penanganan Pengungsi

Pengertian bencana menurut beberapa literatur merupakan peristiwa akibat alam atau ulah manusia, yang menimbulkan gangguan kehidupan dan penghidupan sehingga perlu mendapatkan bantuan diluar prosedur rutin.

Standar ini antara lain dilator belakangi oleh kenyataan bahwa kejadian bencana  selalu akan menimbulkan masalah pengungsi dan masalah kesehatan seperti masalah air bersih, pangan, buruknya sanitasi lingkungan, kasus penyakit menular, gizi, serta masalah penampungan pengungsi yang terbatas.
4:37 PM | 0 comments | Read More

Seri Pengendalian Vektor (PVBP) di Fasyankes

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, December 29, 2016 | 5:41 PM



Prinsip Dasar Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu di Tempat Dipelayanan Kesehatan

Pengertian pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya, merupakan berbagai upaya untuk mengurangi populasi serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya sehingga keberadaannya tidak menjadi vektor penularan penyakit di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, seperti rumah sakit, Puskesmas dam sebagainya.
5:41 PM | 0 comments | Read More

Pola Pencemaran Bakteriologis pada Lingkungan

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, December 18, 2016 | 8:14 PM

Pola Pencemaran Tanah dan Air Tanah Karena Septic Tank

Permasalahan utama pencemaran air di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah terkontaminasinya air minum oleh bakteri dan virus yang dapat menyebabkan kesakitan maupun kematian. Pencemaran tersebut juga terjadi pada air tanah. Bahan pencemar dapat mencapai aquifer air tanah melalui berbagai sumber diantaranya meresapnya bakteri dan virus melalui septic tank (Soegianto, 2005).

Diperkirakan pada saat ini hampir sekitar 70 % air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar berat oleh bakteri tinja, padahal separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah. Kondisi perumahan dan lingkungan yang padat (slum area) serta aktifitas dan berbagai kegiatan yang tanpa perencanaan lingkungan menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kondisi tersebut antara lain dapat menyebabkan berbagai kerusakan septick tank, dan pencemaran lainnya.

Menurut studi Bappenas, walaupun sudah terdapat standar nasional tentang konstruksi septic tank, namun dalam implementasinya masih banyak terdapat catatan, antra lain :
  1. Adanya saluran air yang tersumbat, seharusnya fungsi saluran tersebut adalah mengalirkan air hujan, tetapi dalam pelaksanaannya dipakai menampung air kakus dan sampah sehingga jadi sarang penyakit.
  2. Belum terdapat peraturan yang mewajibkan penyedotan tinja secara rutin, serta belum ada pihak yang merasa berkepentingan memeriksa isi septic tank,.
  3. Masih terdapat pandangan masyarakat bahwa bagus dan tidaknya septic tank
  4. Akses masyarakat terhadap sarana sanitasi (air bersih dan MCK), sehingga masyarakat terpaksa masih menggunakan sungai.
  5. Standard tersebut kurang ditunjang oleh aturan-aturan pendukungnya, seperti belum adanya aturan yang membatasi jumlah septic tank per satuan luas kawasan.
  6. Fasilitas MCK yang tidak berfungsi secara optimal baik karena usang, salah konstruksi, tidak terawat, tidak ada air, maupun masyarakat yang belum siap menerima keberadaannya sesuai fungsinya.
  7. Septic Tank DesaKenyataan masih sebagian besar Influent industri di kawasan pemukiman dialirkan ke sungai tanpa proses pengelolaan terlebih dahulu.
  8. Kebiasaan buang air besar sembarangan masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat perkotaan. Berdasarkan data Susenas tahun 2004 lebih dari 12 persen penduduk perkotaan Indonesia sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban. 
  9. Usaha jasa sedot tinja, seringkali hingga saat ini masih membuang langsung muatannya ke sungai, alasannya tidak ada Instalasi Pembuangan Lumpur Tinja (IPLT)/atau tidak berfungsi.(Andriani, 2007). 
  10. Teknis pembuatan jamban masih belum memenuhi standard, menurut penelitan hampir 35 persen jamban di kawasan perkotaan dalam kondisi tidak ada air, tidak ada atap atau tidak tersambung ke septic tank.
Air tanah dangkal merupakan air tanah yang memiliki kualitas yang pada umumnya baik, akan tetapi banyak tergantung kepada sifat lapisan tanahnya, apabila kondisi sanitasi lingkungan sangat rendah maka banyak tercemar oleh bakteri. Apabila berdekatan dengan industri dengan beban pencemaran tinggi dan tidak memiliki sistem pengendalian pencemaran air maka akan terpengaruh rembesan pencemaran (Hardjosoemantri, 2005).

Informasi tentang pola pencemaran tanah dan air tanah oleh tinja sangat bermanfaat dalam perencanaan sarana pembuangan tinja, terutama dalam penentuan lokasi sumber air minum. Setelah tinja tertampung dalam lubang atau septick tank dalam tanah, maka kemampuan bakteri untuk berpindah akan sangat berkurang.

Bakteri akan berpindah secara horizontal dan vertikal ke bawah bersama dengan air, air seni, atau air hujan yang meresap. Jarak perpindahan bakteri akan sangat bervariasi, tergantung pada berbagai faktor, diantaranya yang terpenting adalah porositas tanah. Perpindahan horizontal melalui tanah dengan cara itu biasanya kurang dari 90 cm, dengan perpindahan kearah bawah kurang dari 3 m pada lubang yang terbuka terhadap air hujan, dan biasanya kurang dari 60 cm pada tanah berpori (Soeparman, 2002).

Menurut Gotaas, dkk dalam Soeparman (2002), yang meneliti pembuangan secara buatan limbah cair ke akuifer di Negara Bagian California, AS, menemukan bahwa bakteri dapat berpindah sampai jarak 30 m dari titik pembuangannya dalam waktu 33 jam. Selain itu, terdapat penurunan cepat jumlah bakteri sepanjang itu karena terjadi filtrasi yang efektif dan kematian bakteri.

Peneliti lain yang meneliti pencemaran air tanah di Alaska mencatat bahwa bakteri dapat dilacak sampai jarak 15 m dari sumur tempat dimasukkannya bakteri yang dicoba. Lebar jalan yang dilewati bakteri bervariasi, antara 45 dan 120 cm. Kemudian, terjadi penurunan jumlah organisme, dan setelah satu tahun hanya lubang tempat dimasukkanya saja yang dinyatakan positif mengandung organisme.

Berbagai penelitian tersebut dapat menegaskan temuan para peneliti lain yang menyatakan bahwa kontaminasi dari sistem pembuangan tinja cenderung berjalan menurun ke bawah sampai mencapai permukaan air. Selanjutnya, organime bergerak bersama aliran air tanah menyilang jalan yang semakin lebar sampai batas tertentu sebelum hilang secara berangsur-angsur, sebagaimana gambaran berikut :
clip_image002
Gerakan Pencemaran Tinja pada Tanah  Kering
clip_image004
Pola Pencemaran Tanah secara Bakteriologi dan Kimiawi
8:14 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik