Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Menghitung Kebutuhan Jamban pada Kondisi Bencana

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, July 6, 2017 | 7:39 PM


Standar jumlah dan lokasi pembangunan jamban pada daerah pengungsian akibat bencana


Cakupan pemanfaatan sarana pembuangan kotoran, merupakan salah satu faktor penting untuk diperhatikan dalam kegiatan Surveilans Faktor Risiko pada keadaan darurat bencana. Survailans faktor risiko dilakukan terhadap kondisi lingkungan disekitar lokasi bencana atau lokasi penampungan pengungsi yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya atau persebaran penyakit terhadap pengungsi.
7:39 PM | 0 comments | Read More

Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan


Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan dengan Upaya Higiene Perorangan

Pengertian hygiene menurut Azwar (1993), merupakan usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari hubungan kondisi lingkungan dengan kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena hubungan lingkungan kesehatan tersebut serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan.

Pengertian lain disampaikian Entjang (2001), bahwa pengertian personal hygiene atau hygiene perorangan (usaha kesehatan pribadi) merupakan upaya dari seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri. Beberapa upaya tersebut antara lain meliputi:
Teori Simpul Achmadi (2005)

7:38 PM | 0 comments | Read More

Inspeksi Sanitasi Air Minum

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, May 9, 2017 | 12:41 AM

Surveilans Kualitas Air dengan Inspeksi Sanitasi

Air merupakan salah satu media lingkungan yang berperan dalam penularan penyakit yang disebabkan oleh air, karena dapat menjadi media pertumbuhan mikrobiologi. Agar air minum terjaga kualitasnya maka perlu dilakukan pengawasan kualitas air, dengan salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan surveilans kualitas air.

Pengertian surveilans kualitas air merupakan upaya analisis yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis melalui pengumpulan data penyakit yang disebabkan oleh air, jumlah sarana air minum dan sanitasi, data inspeksi sanitasi sarana air minum dan sanitasi, dan parameter kualitas air minum seperti mikrobiologi, fisik, kimia, serta penyebarluasan informasi hasil analisis kepada pihak yang berkepentingan dalam rangka pengambilan keputusan, tindakan perbaikan dan atau pengembangan suatu kebijakan.

Ruang lingkup surveilan kualitas air minum dan sanitasi dasar meliputi inspeksi sanitasi, pengujian kualitas air minum, rekomendasi dan tindak lanjut serta pencatatan dan pelaporan.

Beberapa kegiatan inspeksi sanitasi. Antara lain meliputi :

Pemetaan Sarana Air Minum dan Sanitasi
Tujuan pemetaan sarana air minum dan sanitasi untuk menggambarkan distribusi atau penyebaran sarana air minum dan sanitasi. Pemetaan dilakukan oleh sanitarian atau petugas kesehatan lingkungan Puskesmas beserta kader kesehatan, dengan melakukan proses identifikasi data sarana air minum/bersih dan sanitasi yang ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat, meliputi :
  1. Jenis sarana (sumur gali, sumur pompa tangan, perlindungan mata air, penampungan air hujan, kran umum/hidran umum, sambungan rumah, jamban, sarana cuci tangan pakai sabun, dll)
  2. Jumlah KK pemakai air dari masing-masing jenis sarana air minum dan sanitasi tersebut
  3. Lokasi sarana air minum dan sanitasi di desa, dusun, RW, atau RT,
  4. Kepemilikan sarana air minum dan sanitasi (umum atau pribadi)
Pelaksanaan Inspeksi Sanitasi
Inspeksi Sanitasi (IS) adalah pemeriksaan dan evaluasi terhadap kondisi lingkungan, perlengkapan dan penyelenggaraan sistem penyediaan air minum dan sanitasi. Tujuan Inpeksi Sanitasi sarana air minum dan sanitasi antara lain :
1.    Mengetahui informasi risiko pencemaran
2.    Tahapan sebelum melakukan pemeriksaan kualitas air minum
3.    Informasi untuk melakukan tindak lanjut dan perbaikan sarana air minum dan sanitasi
4.    Memberikan rekomendasi tentang keadaan sarana air minum dan sanitasi

Proses Inspeksi Sanitasi;
  1. Petugas melaksanakan kegiatan IS terhadap jenis sarana pada hasil pemetaan.
  2. Kegiatan IS tersebut meliputi pengamatan lapangan, pengamatan terhadap komponen-komponen sarana, kelengkapan dan lingkungan sarana dengan menggunakan formulir IS.
  3. Formulir dibuat berdasarkan kebutuhan, untuk setiap jenis sarana dibuat formulir tersendiri.
  4. Dalam formulir terdapat dua pilihan jawaban, “YA” dan “TIDAK”. Jawaban ”YA” menunjukkan bahwa sarana air minum mempunyai risiko pencemaran yang dapat membahayakan pemakainya, sebaliknya jawaban ”TIDAK” berarti sarana air tersebut tidak menimbulkan problem/risiko pencemaran yang dapat membahayakan pemakainya.
  5. Kemudian dihitung jumlah “YA” dan “TIDAK” yang dinyatakan dalam 4 kategori yaitu (AT) Amat Tinggi, (T) Tinggi, (S) Sedang, (R) Rendah.
Analisis Data Hasil Inspeksi Sanitasi
Tindak lanjut dilakukan berdasarkan analisis hasil informasi risiko pencemaran, yaitu;
  1. Risiko Tinggi (T) dan Amat Tinggi (AT), artinya sarana harus diperbaiki mengikuti ketentuan kontruksi.
  2. Risiko Sedang (S) dan Rendah (R), artinya pada sarana harus dilakukan pengambilan sampel untuk mengidentifikasi parameter pencemar utama dalam air.
Refference : Panduan pelaksanaan kegiatan surveilans kualitas air minum dan sanitasi dasar Ditujukan untuk sanitarian dan petugas kesehatan lingkungan Direktorat Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Jakarta 2011
12:41 AM | 0 comments | Read More

Dampak Leachate terhadap Lingkungan

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, May 7, 2017 | 11:58 PM

Pencemaran Lingkungan Leachate Pada Tempah Pembuangan Akhir (TPA) Sampah

Leachate adalah limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi-materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil proses dekomposisi biologis. Kuantitas dan kualitas leachate sangat bervariasi dan berfluktuasi. Sebagai gambaran dapat dilihat data komposisi leachate dari proses pembusukan sampah yang terjadi di landfill (Tchobanoglous, et al, 1993), berikut ini :



Parameter
Landfill (< 2 tahun)
Landfill (>10
tahun)
Range
Tipikal
BOD5
2.000-30.000
10.000
100-200
TOC
1.500-20.000
6.000
80-160
COD
3.000
60.000
100-500
TSS
200-2.000
500
100-400
Organik Nitrogen
10-800
200
80-120
Amonia nitrogen
10-800
200
20-40
Nitrate
5-40
25
5-10
Total Phosporus
5-100
30
5-10
Ortho Phosporus
4-80
20
4-8
Alkalinitas (CaCO3)
1.000-10.000
3.000
200-1000
PH
4.5 – 7.5
6
6.5-7.5
Total Hardness as CaCO3
300-10.000
3.500
200-500
Calcium
200-3.000
1.000
100-400
Magnesium
50-1.500
250
50-200
Potassium
200-1.000
300
50-400
Sodium
200-2.500
500
100-200
Chloride
200-3000
500
100-400
Sulfate
50-1.200
300
20-50
Total iron
50-1.200
60
20-200


Salah satu dampak yang ditimbulkan leachate adalah terjadinya pencemaran air tanah karena leachate. Sebagaimana kita ketahui, pencemaran air tanah adalah berubahnya tatanan air di bawah permukaan tanah oleh kegiatan manusia atau proses alam yang mengakibatkan mutu air tanah turun sampai ke tingkat tertentu sehingga tidak lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran air tanah pada saat ini sudah sedemikian kronis, terutama karena kegiatan industri dan peningkatan jumlah penduduk dan urbanisasi ke beberapa kota besar.

Menurunnya kualitas air tanah dapat karena kontaminasi yang bersumber dari pembuangan atau penimbunan sampah padat, pembuangan air kotor maupun karena aktivitas pertanian. Jika sampah dibuang atau ditimbun pada suatu tempat dengan menggunakan cara pembuangan atau penimbunan yang keliru maka kontaminasi atau pengotoran air tanah dapat tejadi.

Suatu timbunan sampah padat tidak hanya disusun oleh komponen  komponen padat saja, tetapi terkandung pula cairan sampah yang disebut lindian (leachate). Lindian ini mengandung unsur-unsur kimia, baik zat  organik maupun anorganik dan sejumlah bakteri pathogen atau parasitik, sehingga bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada daerah dengan curah hujan tinggi, lindian menjadi lebih mudah terbentuk dan jumlahnya akan menjadi banyak. Kontaminasi atau pengotoran air tanah akan terjadi bila lindian masuk dalam air tanah.

Leachate atau air lindi yang telah mencapai air tanah akan terbawa oleh aliran air tanah. Bersama aliran air tanah, air lindi dapat mencemari air sumur dengan bahan pencemar yang terkandung di dalamnya. Masuknya lindi atau polutan kedalam sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain Jarak penyebaran pencemar di dalam tanah; Tekstur tanah; Porositas tanah; Aliran air tanah; Frekuensi pemakaian air; dan Temperatur.
11:58 PM | 0 comments | Read More

Checklist Inspeksi Sanitasi EPA


Membandingkan Checklist Penilaian Kantin Sekolah (Self-Inspection Checklist) ala Amerika ?

Sebagaimana rekan-rekan Sanitarian ketahui, kita mengenal beberapa dasar peraturan penyehatan makanan. Berdasarkan hal itu kemudian kita buat format atau checklist inspeksi sanitasi sebagai bahan baku evaluasi dan pembinaan. Terkait dengan itu, berikut kami tuliskan checklist pemeriksaan pada tahap persiapan sebuah layanan makanan di kantin sekolah. Checklist ini digunakan pada sebuah negara bagian di Amerika. Dengan sekilas membaca chesklist ini kita mungkin dapat mengambila sesuatu dari sana, atau sekedar membandingkan dengan keseharian kerja kita, atau hal lainnya ... ? Atau referensi checklist kita memang dari sana?

Checlist ini antara lain secara umum dimaksudkan untuk penilaian awal khususnya pada standar kemananan pangan. Jika didapatkan jawaban “ya” checklist menunjukkan bahwa kondisi lapangan sesuai dengan standar  US Environmental Protection Agency (EPA) – mungkin kalau disini sesuai standar Depkes.

Beberapa item pertanyaan sebagai berikut :

Sampah dan Fasilitas Pembuangan Sampah
  1. Apakah kontainer sampah terbuat dari bahan kedap atau dari logam tahan lama atau bahan lain yang dipersyaratkan ?
  2. Apakah kontainer sampah, TPS, dalam kondisi tertutup?
  3. Apakah wadah sampah di dapur dikosongkan setiap hari?
  4. Apakah kontainer limbah dibersihkan setiap hari?
  5. Apakah perlengkapan, tempat sampah dan lokasi pembersihannya jauh dari tempat persiapan makanan?
  6. Apakah jumlah tempat sampah cukup menampung seluruh limbah makanan? (Catatan: Kantong plastik tidak boleh digunakan)
  7. Apakah kontainer limbah dapat diakses hama?
  8. Apakah tempat penampungan sampah atau limbah cukup luas, halus, kedap air, dan kondisi bersih?
  9. Apakah frekuensi pembuangan limbah setiap hari atau cukup sering sehingga tidak memungkinkan timbulnya gangguan kesehatan?

Pengendalian hama
  1. Apakah ada tindakan efektif yang dilaksanakan untuk pengendalian, mengurangi dan menghilangkan keberadaan hama?
  2. Apakah semua fasilitas bukaan ke udara luar secara efektif terlindung dari masuknya serangga, dengan pintu menutup otomatis, tutup jendela, arus udara terkontrol, atau cara lain?
  3. Apakah fasilitas bukaan yang memungkinkan sebagai jalan masuk hama, seperti yang disebabkan oleh kabel listrik dan pipa, efektif dilindungi terhadap masuknya hewan pengerat?
Lantai, Dinding, dan Langit-langit
  1. Apakah lantai, dinding, dan langit-langit dalam kondisi baik?
  2. Apakah lantai di dapur, gudang, toilet, dan tempat-tempat lain di mana makanan disimpan atau disiapkan terbuat dari bahan kedap dan mudah dibersihkan?
  3. Jika tersedia, apakah lantai saluran air tertutup, dan berfungsi dengan baik?
  4. Jika lantai dari karpet, apakah dalam kondisi bersih dan baik? (Catatan: Karpet tidak dianjurkan dalam persiapan makanan, peralatan cuci, toilet dan tempat alat-mencuci.
  5. Apakah permukaan lantai bersih, bebas dari kotoran, mudah dikeringkan?
  6. Apakah lantai atau halaman terbuat dari beton, kerikil,  aspal, atau bahan serupa sehingga dapat meminimalkan debu?
  7. Apakah dipasang ubin titik cekung antara lantai dan dinding sehingga mudah dibersihkan?
  8. Apakah dinding pada ruang persiapan makanan, pencucian peralatan, wasfafel, berwarna terang, halus, dan mudah dibersihkan?
Penerangan
  1. Apakah tingkat pencayahaan sebesar 30 footcandles diberikan pada semua ruang kerja persiapan makanan?
  2. Apakah tingkat pencahayaan 20 footcandles pada ruang penyimpanan dan toilet?
  3. Apakah tingkat pencahayaan 10 footcandles disediakan untuk semua ruang lain?
Ventilasi
  1. Adalah ventilasi yang cukup disediakan untuk menjaga ruangan bebas dari panas yang berlebihan, minyak, kondensasi uap, bau, dan asap?
  2. Apakah semua saluran pembuangan dilengkapi dengan filter yang mudah dilepas untuk pembersihan dan penggantian?
Housekeeping (kerumah tanggaan)
  1. Apakah pakaian karyawan dan barang-barang pribadi yang disimpan dipelihara secara teratur?
  2. Apakah kain serbet dicuci dan disimpan di tempat bersih dan terlindung sampai digunakan?
  3. Apakah kontainer dan tas binatu yang digunakan untuk menyimpan linen kotor atau basah atau pakaian terbuat dari bahan kedap (nonabsorbent)?
  4. Apakah hanya barang yang diperlukan untuk pengoperasian disimpan sesuai tempatnya?
Penegakan Ketentuan
  1. Aapakah inspeksi makanan dilakukan setidaknya setahun sekali oleh dinkes?
  2. Setelah pemeriksaan oleh seorang pejabat berlisensi, apakah evaluasi plakat segera dipasang dekat pintu masuk pembentukan?
  3. Apakah laporan pemeriksaan atas permintaan diberikan kepada publik dengan masa berlaku selama 2 tahun?
Sertifikasi Manajer Makanan
  1. Apakah setidaknya terdapat satu orang pengawas keamanan pangan telah menyelesaikan kursus sanitasi dan bersertifikat?
Sumber : Centers for Disease Control and Prevention (CDC)-The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)
11:57 PM | 0 comments | Read More

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, April 12, 2017 | 8:29 PM

Langkah - Langkah Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Penyakit Menular dan Keracunan Pangan


Sebagai ahli kesehatan masyarakat, atau petugas kesehatan lingkungan, sudah seharusnya paham terhadap prosedur penyelidikan epidemiologi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular maupun kecacunan makanan. Penyelidikan Epidemiologi, atau yang umum kita kenal dengan istilah PE, sudah seringkali kita lakukan. Kita biasa melaukan PE DBD misalnya, atau PE penyakit menular bersumber binatang lainnya.

Pelaksanaan PE penting dilakukan sesuai prosedur, untuk mencari kemungkinan faktor penyebab, juga untuk menentukan langkah-langkah penanggulangan KLB yang efektif dan efisien. Berikut beberapa langkah penyelidikan epidemiologi KLB Penyakit Menular dan Keracunan Pangan, menurut Kemenkes RI, 2011. 

Tahapan Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Secara teori ada beberapa tahapan dalam melakukan penyelidikan dan penanggulangan KLB penyakit menular dan keracunan pangan. Tahapan ini tidak harus sekuensial dalam arti satu kegiatan baru dapat dilaksanakan setelah tahapan yang sebelumnya sudah selesai. Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan secara bersamaan, yang terpenting dalam tahapan kegiatan dapat dipastikan memuat seluruh unsur-unsur tersebut. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
8:29 PM | 0 comments | Read More

Sumur Sehat

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, April 11, 2017 | 10:27 PM

Persyaratan Sumur Sehat

Sumur merupakan sumber utama penyediaan air bersih bagi penduduk, baik di perkotaan maupun di pedesaa. Secara teknis sumur dapat dibagi menjadi 2 jenis (Chandra, 2007)

Sumur dangkal (shallow well)
Sumur dangkal mempunyai pasokan air yang berasal dari resapan air hujan, terutama pada daerah dataran rendah. Sumur dangkal ini dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan kelemahan utama pada mudahnya jenis sumur ini terkontaminasi oleh air limbah yang berasal dari kegitan mandi, cuci, dan kakus. Tingkat kalaman sumur dangkal ini biasanya berkisar antara 5 s/d 15 meter dari permukaan tanah (Notoatmodjo, 2003). 

Sumur Dalam (Deep Well)
Sumber air Sumur Dalam berasal dari proses purifikasi alami air hujan oleh lapisan kulit bumi menjadi air tanah. Kondisi ini menyebabkan sumber airnya tidak terkontaminasi serta secara umum telah memenuhi persyaratan sanitasi. Menurut Notoatmodjo (2003), air dari sumur dalam ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah, dengan kedalaman di atas 15 meter dari permukaan tanah.

Berikut merupakan perbedaan sumur dangkal dan sumur dalam secara umum (Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan).
No.
Pembeda
Sumur dangkal
Sumur dalam
1.
2.
3.
4.
Sumber air
Kualitas air
Kualitas bakteriologi
Persediaan
Air permukaan
Kurang baik
Kontaminasi
Kering pada musim kemarau
Air tanah
Baik
Tidak terkontaminasi
Tetap ada sepanjang tahun
rainbowPersyaratan Sumur Sehat
Sumur merupakan jenis sarana air bersih yang banyak dipergunakan masyarakat, karena ± 45% masyarakat mempergunakan jenis sarana air bersih ini. Sumur sanitasi adalah jenis sumur yang telah memenuhi persyaratan sanitasi dan terlindung dari kontaminasi air kotor (Chandra, 2007). Sumur sehat minimal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Entjang, 2000). 

clip_image002
Syarat Lokasi atau Jarak
Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah (cesspool, seepage pit) dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah.
  1. Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir.
  2. Jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya (Chandra, 2007).
Syarat Konstruksi
Syarat konstruksi pada sumur gali tanpa pompa, meliputi dinding sumur, bibir sumur, serta lantai sumur.

Dinding sumur gali:
  1. Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur gali harus terbuat dibuat dari tembok yang kedap air (disemen). Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi perembesan air / pencemaran oleh bakteri dengan karakteristik habitat hidup pada jarak tersebut. Selanjutnya pada kedalaman 1,5 meter dinding berikutnya terbuat dari pasangan batu bata tanpa semen, sebagai bidang perembesan dan penguat dinding sumur (Entjang 2000).
  2. Pada kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air, agar perembesan air permukaan yang telah tercemar tidak terjadi. Kedalaman 3 meter diambil karena bakteri pada umumnya tidak dapat hidup lagi pada kedalaman tersebut. Kira-kira 1,5 meter berikutnya ke bawah, dinding ini tidak dibuat tembok yang tidak disemen, tujuannya lebih untuk mencegah runtuhnya tanah (Azwar, 1995).
  3. Dinding sumur bisa dibuat dari batu bata atau batu kali yang disemen. Akan tetapi yang paling bagus adalah pipa beton. Pipa beton untuk sumur gali bertujuan untuk menahan longsornya tanah dan mencegah pengotoran air sumur dari perembesan permukaan tanah. Untuk sumur sehat, idealnya pipa beton dibuat sampai kedalaman 3 meter dari permukaan tanah. Dalam keadaan seperti ini diharapkan permukaan air sudah mencapai di atas dasar dari pipa beton. (Machfoedz 2004).
  4. Kedalaman sumur gali dibuat sampai mencapai lapisan tanah yang mengandung air cukup banyak walaupun pada musim kemarau (Entjang, 2000).
Bibir sumur gali. Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara lain :
  1. Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air, setinggi minimal 70 cm, untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk aspek keselamatan (Entjang,78).
  2. Dinding sumur di atas permukaan tanah kira-kira 70 cm, atau lebih tinggi dari permukaan air banjir, apabila daerah tersebut adalah daerah banjir (Machfoedz, 2004).
  3. Dinding parapet merupakan dinding yang membatasi mulut sumur dan harus dibuat setinggi 70-75 cm dari permukaan tanah. Dinding ini merupakan satu kesatuan dengan dinding sumur (Chandra, 2007).
Lantai sumur gali. Beberapa pendapat konstruksi lantai sumur antra lain :
  1. Lantai sumur dibuat dari tembok yang kedap air ± 1,5 m lebarnya dari dinding sumur. Dibuat agak miring dan ditinggikan 20 cm di atas permukaan tanah, bentuknya bulat atau segi empat (Entjang, 2000).
  2. Tanah di sekitar tembok sumur atas disemen dan tanahnya dibuat miring dengan tepinya dibuat saluran. Lebar semen di sekeliling sumur kira-kira 1,5 meter, agar air permukaan tidak masuk (Azwar, 1995).
  3. Lantai sumur kira-kira 20 cm dari permukaan tanah (Machfoedz, 2004).
Saluran pembuangan air limbah. Saluran Pembuangan Air Limbah dari sekitar sumur menurut Entjang (2000), dibuat dari tembok yang kedap air dan panjangnya sekurang-kurangnya 10 m.

Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada dasarnya pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa, namun air sumur diambil dengan mempergunakan pompa. Kelebihan jenis sumur ini adalah kemungkinan untuk terjadinya pengotoran akan lebih sedikit disebabkan kondisi sumur selalu tertutup.
clip_image004
Konstruksi Sumur Gali dengan Pompa Tangan

Sumur Pompa
Sumur pompa ini masih cukup banyak dipergunakan oleh masyarakat, walaupun trend jumlah pemakainya cenderung menurun. Persyaratan sumur pompa tangan sebagai berikut :
  1. Saringan atau pipa-pipa yang berlubang berada di dalam lapisan tanah yang mengandung air.
  2. Lapisan yang kedap air antara permukaan tanah dan pipa saringan sekurang-kurang 3 m.
  3. Lantai sumur yang kedap air ditinggikan 20 cm dari permukaan tanah dan lebarnya ± 1½ m sekeliling pompa.
  4. Saluran pembuangan air limbah harus ditembok kedap air, minimal 10 m panjangnya.
  5. Untuk mengambil air dapat dipergunakan pompa tangan atau pompa listrik.
clip_image006
10:27 PM | 0 comments | Read More

Survey Kepadatan Nyamuk


Pengendalian Vektor dengan Survey Kepadatan Nyamuk Dewasa


Kita mungkin terbiasa dengan survey jentik, namun kurang terbiasa dengan survey nyamuk. Teori dan praktikum survey nyamuk pasti sudah pernah kita dapatkan ketika pendidikan dulu. Namun kegiatan ini jarang kita lakukan, antara lain karena keterbatasan sarana dan sistem tindak lanjut yang kurang aplikatif. Misalnya jika data survey sudah kita dapatkan (jenis nyamuk dan lainnya), kemudian harus kita gunakan untuk apa data ini. Hal ini berbeda dengan survey jentik sebagai salah satu tahap penyelidikan epidemiologi pada kasus demam berdarah dengue misalnya, maka sistem tindak lanjutnya praktis akan terkait dengan kriteria gerakan PSN atau perlu tidaknya tindakan fogging.

Sementara ini survey nyamuk yang kita lakukan pada umumnya terkait dengan pengerjaan tugas penelitian dan bersifat insidentil, seperti penyusunan tugas akhir, skripsi, atau thesis. Dan hasilnya bersifat menambah wacana keilmuan, kemudian raib tidak berbekas. Padahal jika kita gunakan data-data itu, secara praktis dapat kita gunakan misalnya untuk penilaian tingkat resistensi nyamuk terhadap insektisida, dosis yang harus kita aplikasikan pada fogging, waktu paling efektif melakukan fogging, pola pemberantasan biologis yang memungkinkan, dan lain sebagainya. Sementara kebanyakan kita berasumsi teori terkait hal tersebut tidak berubah dari jaman kita sekolah dulu.

Artikel ini mungkin dapat mengingatkan kembali tentang survey nyamuk. Saya jadi teringat ketika menempuh pendidikan di Akademi Kesehatan Lingkungan Surabaya (sekarang Poltekes Kemenkes). Pada saat ujian lisan, mungkin karena grogi, seorang teman ketika ditanya prosedur  menangkap tikus, dia menjawab antara lain dilakukan dengan cara umpan badan, maka meledaklah tawa kita ketika itu. Tentu umpan badan yang dimaksud ketika itu sebagai prosedur tangkap nyamuk pada mata kuliah pengendalian vektor, bukan tangkap tikus.

Survey nyamuk dengan kegiatan tangkap nyamuk dilakukan pada sasaran sampel rumah penduduk baik di dalam maupun di luar rumah. Terdapat dua macam jenis penangkapan nyamuk berdasarkan kebiasaaan nyamuk.
  1. Landing collection, yaitu penangkapan nyamuk yang hinggap, dilakukan selama 20 menit untuk setiap rumah.
  2. Resting collection, yaitu penangkapan nyamuk yang istirahat, dilakukan selama 5 menit pada setiap rumah.

Prosedur dan Metode Penangkapan Nyamuk

Penangkapan nyamuk dilakukan pada masa aktif nyamuk mencari inang atau mengisap darah, misalnya pada jenis nyamuk Aedes, dilakukan pada pukul 08.00-11.00 WIB. Sedangkan jika sasaran penangkapan nyamuk kita adalah Anopheles, maka beberapa pertimbangan terkait bionomik Anopheles harus kita jadikan sebagai dasar penentuan waktu dan sasaran.

Penangkapan nyamuk dewasa dilakukan oleh dua orang kolektor, masing-masing satu orang melakukan penangkapan nyamuk di dalam dan satu orang lagi di luar rumah. Setiap kolektor berperan sebagai umpan dan sekaligus penangkap. Setiap kolektor duduk dalam suatu ruangan yang ditentukan (dalam rumah) atau di halaman rumah (luar rumah). Sementara prosedur penangkap (umpan badan) diantaranya dengan menggulung ujung celana sampai ke lutut, tidak beralas  kaki, dan tidak makan, tidak menggunakan parfum atau repellent, tidak makan minum atau merokok. Ketika terdapat nyamuk maka ketika nyamuk hinggap sebelum menggigit (landing), nyamuk ditangkap dengan menggunakan aspirator, kemudian ditempatkan dalam paper cup.

Sementara prosedur penangkapan nyamuk istirahat (resting place) dilakukan menggunakan aspirator selama lima menit pada nyamuk yang hinggap dalam rumah, seperti pada dinding, gantungan baju, dan lain sebagainya. Sedangkan pada lokasi luar rumah antara lain pada tempat-tempat seperti pada tanaman, pagar, sekitar ternak, dan lain sebagainya. Kemudian dilakuakn pembiusan pada nyamuk yang tertangkap menggunakan khlorofom untuk kemudian dilakukan pinning dan proses identifikasi.

Jika kita simpulkan beberapa penjelasa diatas maka prosedur tangkap nyamuk secara ringkas dapat kita tulisakan sebagai berikut :

Beberapa Bahan yang digunakan pada kegiatan survey nyamuk antara lain : Paper cup, Kertas Label, Alat tulis, dan Khlorofom. Sedangkan alat yang digunakan berupa Aspirator.

Prosedur Kerja
  1. Menentukan wilayah yang akan disurvey
  2. Menyiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan untuk
  3. Pemasangan umpan badan
  4. Melakukan penangkapan nyamuk dengan aspirator antara lain pada feeding place dan resting place baik di dalam maupun diluar rumah.
  5. Nyamuk yang tertangkap dimasukkan ke dalam papercup, kemudian diberi label dengan informasi tentang lokasi, jam, tanggal dan nama collector.
  6. Survey dilakukan selama 6 jam, dengan waktu optimalnya 40 menit setiap jamnya.
  7. Pencatatan hasil perhitungan kepadatan nyamuk.
  8. Menyusun laporan hasil survey.
Sedangkan perhitungan kepadatan nyamuk (Man Hour Density) dihitung menggunkan formula berikut :



                                                    MHD (Man Hour Density)        :


10:22 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik