Pencarian Sanitarian Topic

Custom Search

Praktis Mencegah Infeksi Nosokomial

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, December 4, 2016 | 8:20 PM



Panduan WHO Cara Praktis Pencegahan Infeksi Nosokomial

Terdapat Sebuah panduan praktis (edisi kedua) yang diterbitkan oleh Department of Communicable Disease, Surveillance and Response WHO. Panduan ini kami rasa penting perlu diketahui oleh rekan-rekan Sanitarian dan praktisi kesehatan masyarakat lainnya.

Berikut sekilas beberapa poin dalam panduan ini

Infeksi nosokomial - juga disebut sebagai suatu "infeksi didapat di rumah sakit" dapat didefinisikan sebagai Infeksi yang diperoleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Pengertian lain juga menyebut sebaga sebuah infeksi yang terjadi pada pasien yang melakukan perawatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, dimana infeksi ini tidak ditemukan atau tidak dalam masa inkubasi pada saat pasien masuk rumah sakit.

Infeksi nosokomial terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi baik pada negara maju maupun negara miskin sumber daya. Infeksi ini merupakan  salah satu penyebab utama kematian dan morbiditas meningkat pada pasien rawat inap. Mereka adalah beban yang signifikan baik bagi pasien maupun kesehatan masyarakat. Sebuah survei prevalensi dilakukan di bawah naungan WHO yang dilakukan pada 55 rumah sakit dari 14 negara yang mewakili 4 wilayah WHO (Eropa, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat) menunjukkan

  1. Rata-rata 8,7% dari pasien rumah sakit mengalami infeksi nosokomial.
  2. Lebih dari 1,4 juta orang di dunia menderita komplikasi infeksi yang diperoleh di rumah sakit
  3. Frekuensi tertinggi infeksi nosocomial dilaporkan dari rumah sakit di Timur Tengah dan Asia Tenggara (masing-masing sebesar 11,8% dan 10,0%), dengan prevalensi 7,7% dan 9,0% masing-masing di wilayah Eropa Barat dan Pacific
  4. Infeksi nosokomial yang paling sering adalah jenis infeksi karena luka bedah, infeksi saluran kemih dan infeksi saluran pernafasan bawah. Penelitian WHO, dan lain-lain, juga telah menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi infeksi nosokomial terjadi di unit perawatan intensif,  bangsal bedah dan ortopedi akut. Angka infeksi yang lebih tinggi di antara pasien dengan kerentanan meningkat karena faktor usia, penyakit bawaan, atau karena tindakan kemoterapi.
Dampak infeksi nosokomial
Infeksi nosokomial juga salah satu penyebab utama kematian. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan inos cukup besar, antara lain karena memperpanjang masa tinggal rawat inap pasien di rumah sakit, merupakan kontributor terbesar untuk kenaikan komponen biaya. Satu studi menunjukkan bahwa peningkatan secara menyeluruh dalam durasi perawatan di rumah sakit (karena inos), untuk pasien dengan infeksi luka bedah adalah 8,2 hari, mulai dari 3 hari untuk ginekologi menjadi 9,9 untuk operasi umum dan 19,8 untuk bedah ortopedi.

Masa tinggal yang berkepanjangan tidak hanya meningkatkan biaya langsung kepada pasien tetapi juga biaya tidak langsung karena kehilangan pekerjaan. Peningkatan penggunaan obat-obatan, kebutuhan untuk isolasi, dan penggunaan laboratorium tambahan dan studi diagnostik lainnya juga berkontribusi terhadap biaya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan infeksi nosokomial, antara lain :

Faktor Agent Penyakit (the microbial agent)
Kontak antara pasien dan mikroorganisme tidak dengan sendirinya secara klinis mengakibatkan perkembangan penyakit. Terjadinya  infeksi tergantung sebagian pada karakterstik mikroorganisme, termasuk ketahanan terhadap agent, virulensi intrinsik, dan jumlah bahan infektif. Banyak jenis bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang diperoleh dari orang lain di rumah sakit (infeksi silang) atau mungkin disebabkan oleh flora pasien sendiri. Beberapa organisme dapat diperoleh dari benda mati atau infeksi dari lingkungan. Kemajuan dalam pemakaian antibiotik telah secara signifikan mengurangi resiko terjadinya infeksi karena bakteri, dan telah menurunkan tingkat kematian penyakit menular.

Kerentanan Pasien (patient susceptibility)
Faktor  penting pasien yang mempengaruhi terjadinya. Pasien dengan penyakit kronis seperti leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) memiliki peningkatan kerentanan terhadap infeksi.

Faktor Lingkungan (environmental factors)
Pengaturan lingkungan perawatan harus dilakukan dengan baik. Lingkungan sebagai tempat berkumpul orang memungkinkan terjadinya peningkatan interaksi antara orang yang terinfeksi dan orang-orang beresiko terinfeksi. Pasien dengan infeksi dirawat di rumah sakit  atau  mikroorganisme patogen merupakan sumber potensial dari infeksi baik pada pasien maupun staf.

Faktor Resistensi Bakteri (bacterial resistance)
Banyak pasien menerima obat antimikroba. Melalui seleksi dan pertukaran elemen resistensi secara genetik, penggunaan antibiotik berpotensi memunculkan strain bakteri yang resisten terhadap obat. Meluasnya penggunaan antimikroba untuk terapi atau profilaksis merupakan penentu utama resistensi. Agen antimikroba dalam beberapa kasus, menjadi kurang efektif karena resistensi. Banyak strain pneumococci, staphylococci, enterococci, dan TBC saat ini resisten terhadap sebagian besar atau semua antimikroba yang dulunya efektif.

Panduan WHO untuk pencegahan infeksi nosokomial ini secara detail berisi hal-hal sebagai berikut :

Chapter I. Epidemiology of nosocomial infections   
  • Definitions of nosocomial infections    
  • Nosocomial infection sites    
  • Urinary infections    
  • Surgical site infections    
  • Nosocomial pneumonia    
  • Nosocomial bacteraemia    
  • Other nosocomial infections    
  • Microorganisms    
  • Bacteria    
  • Viruses    
  • Parasites and fungi    
  • Reservoirs and transmission    
Chapter II. Infection control programmes    
  • National or regional programmes    
  • Hospital programmes    
  • Infection Control Committee
  • Infection control professionals (infection control team)    
  • Infection control manual    
  • Infection control responsibility
  • Role of hospital management    
  • Role of the physician    
  • Role of the microbiologist    
  • Role of the hospital pharmacist    
  • Role of the nursing staff    
  • Role of the central sterilization service    
  • Role of the food service    
  • Role of the laundry service    
  • Role of the housekeeping service    
  • Role of maintenance    
  • Role of the infection control team (hospital hygiene service)    
  Chapter III. Nosocomial infection surveillance    
  • Objectives    
  • Strategy    
  • Implementation at the hospital level    
  • Implementation at the network (regional or national) level    
  • Methods    
  • Prevalence study    
  • Incidence study    
  • Calculating rates    
  • Organization for efficient surveillance    
  • Data collection and analysis    
  • Feedback/dissemination    
  • Prevention and evaluation    
  • Evaluation of the surveillance system    
  • Evaluation of the surveillance strategy    
  • Feedback evaluation    
  • Validity/data quality    

Chapter IV. Dealing with outbreaks    

  • Identifying an outbreak    
  • Investigating an outbreak    
  • Planning the investigation    
  • Case definition    
  • Describing the outbreak    
  • Suggesting and testing a hypothesis    
  • Control measures and follow-up    
  • Communication    
Chapter V. Prevention of nosocomial infection    
  • Risk stratification    
  • Reducing person-to-person transmission    
  • Hand decontamination    
  • Personal hygiene    
  • Clothing    
  • Masks    
  • Gloves    
  • Safe injection practices    
  • Preventing transmission from the environment    
  • Cleaning of the hospital environment    
  • Use of hot/superheated water    
  • Disinfection of patient equipment    
  • Sterilization    

Chapter VI. Prevention of common endemic nosocomial infections    

  • Urinary tract infections (UTI)    
  • Surgical wound infections (surgical site infections)
  • Operating room environment    
  • Operating room staff    
  • Pre-intervention preparation of the patient    
  • Antimicrobial prophylaxis    
  • Surgical wound surveillance    
  • Nosocomial respiratory infections    
  • Ventilator-associated pneumonia in the intensive care unit    
  • Medical units    
  • Surgical units    
  • Neurological patients with tracheostomy    
  • Infections associated with intravascular lines    
  • Peripheral vascular catheters
  • Central vascular catheters    
  • Central vascular totally implanted catheters    
Chapter VII. Infection control precautions in patient care    
  • Practical aspects    
  • Standard (routine) precautions    
  • Additional precautions for specific modes of transmission    
  • Antimicrobial-resistant microorganisms    
Chapter VIII. Environment    
  • Buildings    
  • Planning for construction or renovation    
  • Architectural segregation    
  • Traffic flow    
  • Materials    
  • Air    
  • Airborne contamination and transmission
  • Ventilation    
  • Operating theatres    
  • Ultra-clean air    
  • Water    
  • Drinking-water    
  • Baths    
  • Pharmaceutical (medical) water    
  • Microbiological monitoring    
  • Food    
  • Agents of food poisoning and foodborne infections    
  • Factors contributing to food poisoning    
  • Prevention of food poisoning
  • Waste
  • Definition and classification    
  • Handling, storage and transportation of health care waste    
 Chapter lX. Antimicrobial use and antimicrobial resistance    
  • Appropriate antimicrobial use    
  • Therapy    
  • Chemoprophylaxis    
  • Antimicrobial resistance    
  • MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus)    
  • Enterococci    
  • Antibiotic control policy    
  • Antimicrobial Use Committee    
  • Role of the microbiology laboratory    
  • Monitoring antimicrobial use    
Chapter X. Preventing infections of staff    
  • Exposure to human immunodeficiency virus (HIV)    
  • Exposure to hepatitis B virus    
  • Exposure to hepatitis C virus    
  • Neisseria meningitidis infection    
  • Mycobacterium tuberculosis    
  • Other infections    

Jika memungkinkan akan kita tuliskan pada posting berikutnya, detail per bab panduan ini. Dokumen lengkap dapat rekan-rekan akses di http://www.who.int/emc
8:20 PM | 0 comments | Read More

Seri PVBP Lalat di Fasyankes

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, November 17, 2016 | 5:14 PM



Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu (lalat) pada Tempat pelayanan Kesehatan

Menurut wikipedia, lalat merupakan jenis serangga dari ordo Diptera (bahasa Yunani/dua sayap). Perbedaan yang paling jelas antara lalat dan ordo serangga lainnya adalah lalat memiliki sepasang sayap terbang dan sepasang halter, yang berasal dari sayap belakang, pada metatoraks (kecuali beberapa spesies lalat yang tidak dapat terbang). Satu-satunya ordo serangga lain yang memiliki dua sayap yang benar-benar berfungsi dan memiliki halter adalah Strepsiptera. Tetapi, berbeda dengan lalat, halter Strepsitera berada di mesotoraks dan sayap di metatoraks.

5:14 PM | 0 comments | Read More

Seri PVBP di Fasyankes

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, November 16, 2016 | 7:02 PM



Prinsip Dasar Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu di Tempat Dipelayanan Kesehatan

Pengertian pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya, merupakan berbagai upaya untuk mengurangi populasi serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya sehingga keberadaannya tidak menjadi vektor penularan penyakit di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, seperti rumah sakit, Puskesmas dam sebagainya.
7:02 PM | 0 comments | Read More

Alat TANGKAP dan UJI Nyamuk

Written By Kesehatan Lingkungan on Thursday, November 3, 2016 | 7:48 PM




Peralatan Untuk Menangkap Dan Menguji Nyamuk Uji Kerentanan Nyamuk dan Uji Bioassay

Mengutip Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 374/MENKES/PER/III/2010 Tentang Pengendalian Vektor, berikut berbagai peralatan tangkap nyamuk dan alat uji nyamuk.

Peralatan untuk menangkap nyamuk adalah alat yang dipergunakan untuk mengkoleksi nyamuk baik pada stadium pradewasa maupun dewasanya. Sedangkan uji yang dilakukan terhadap nyamuk adalah uji kerentanan nyamuk dan uji bioassay. Berbagai peralatan yang dipergunakan untuk menangkap dan menguji nyamuk adalah sebagai berikut;

1.    Aspirator
Merupakan peralatan utama untuk menangkap nyamuk yang sedang hinggap atau sedang mengisap darah. Cara menggunakannya adalah dengan menempatkan tabung gelas dari aspirator pada nyamuk yang hendak ditangkap, kemudian ujung yang lain dihisap dengan mulut. Oleh karena terbuat dari gelas mudah pecah, maka cara memegang dan membawanya harus hati-hati, jangan hanya dipegang batang karetnya kemudian dibawa, diayun-ayunkan ataupun hanya dikalungkan dileher begitu saja tanpa dimasukkan kedalam baju atau saku.

7:48 PM | 0 comments | Read More

Surveilans Pes

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, October 10, 2016 | 9:17 PM



Surveilans Epidemiologi dan Pengendalian  Penyakit Pes

Sebagaimana kita ketahui, pengertian Surveilans Epidemiologi, menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1116/Menkes/SK/VIII/2003, merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi terhadap penyelenggara program kesehatan.

Penyakit Pes (plague), merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena infeksi bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini pada awalnya menginfeksi kutu yang terdapat pada tikus. Selain melalui gigitan kutu, pes dapat menular dengan berbagai cara lain, antara lain:

9:17 PM | 0 comments | Read More

Menghitung Kebutuhan Jamban pada Kondisi Bencana

Written By Kesehatan Lingkungan on Sunday, October 2, 2016 | 7:18 PM


Standar jumlah dan lokasi pembangunan jamban pada daerah pengungsian akibat bencana


Cakupan pemanfaatan sarana pembuangan kotoran, merupakan salah satu faktor penting untuk diperhatikan dalam kegiatan Surveilans Faktor Risiko pada keadaan darurat bencana. Survailans faktor risiko dilakukan terhadap kondisi lingkungan disekitar lokasi bencana atau lokasi penampungan pengungsi yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya atau persebaran penyakit terhadap pengungsi.
7:18 PM | 0 comments | Read More

Pengendalian Penyakit Diare pada Wilayah Bencana

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, September 26, 2016 | 8:03 PM



Pengawasan dan Pengendalian Penyakit pada Wilayah Bencana


Potensi munculnya Kejadian Luas Biasa penyakit menular pada periode paska bencana sangat besar, sebagai akibat banyaknya faktor risiko yang mendukung. Karena itu, berbagai upaya pemberantasan penyakit menular dilakukan untuk mencegah KLB penyakit menular pada periode pascabencana. Selain itu, upaya ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit menular yang perlu diwaspadai pada kejadian bencana dan pengungsian.
8:03 PM | 0 comments | Read More

Standard Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana

Written By Kesehatan Lingkungan on Wednesday, September 7, 2016 | 11:22 PM

Standard Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana dan Penanganan Pengungsi

Pengertian bencana menurut beberapa literatur merupakan peristiwa akibat alam atau ulah manusia, yang menimbulkan gangguan kehidupan dan penghidupan sehingga perlu mendapatkan bantuan diluar prosedur rutin.

Standar ini antara lain dilator belakangi oleh kenyataan bahwa kejadian bencana  selalu akan menimbulkan masalah pengungsi dan masalah kesehatan seperti masalah air bersih, pangan, buruknya sanitasi lingkungan, kasus penyakit menular, gizi, serta masalah penampungan pengungsi yang terbatas.
11:22 PM | 0 comments | Read More

Tujuan dan Kegunaan RKL

Written By Kesehatan Lingkungan on Monday, September 5, 2016 | 7:57 PM

Tujuan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
Pada dasarnya tujuan penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) pada tahap penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) antra lain :
1.    Inventarisasi dan mengelola semua dampak penting yang terjadi terhadap lingkungan oleh suatu kegiatan yang direncanakan ;
2.    Menanggulangi, meminimalkan atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul saat kegiatan berjalan maupun saat kegiatan berakhir ;
3.    Meningkatkan dampak positif dari suatu kegiatan;
4.    Memberikan manfaat yang lebih besar kepada pemrakarsa, juga (terutama) kepada masyarakat yang terkena dampak positif ;
5.    Sebagai pedoman dan arahan bagi semua pihak terkait;
7:57 PM | 0 comments | Read More

Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan

Written By Kesehatan Lingkungan on Tuesday, August 30, 2016 | 9:17 PM


Mencegah Infeksi Penyaki Kecacingan dengan Upaya Higiene Perorangan

Pengertian hygiene menurut Azwar (1993), merupakan usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari hubungan kondisi lingkungan dengan kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena hubungan lingkungan kesehatan tersebut serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan.

Pengertian lain disampaikian Entjang (2001), bahwa pengertian personal hygiene atau hygiene perorangan (usaha kesehatan pribadi) merupakan upaya dari seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri. Beberapa upaya tersebut antara lain meliputi:
Teori Simpul Achmadi (2005)

9:17 PM | 0 comments | Read More
 
berita unik